Laman

Kamis, 01 Maret 2012

COMPASSION




Pendahuluan
Dalam kosa kata Bahasa Indonesia, kata “bela rasa” (compassion) jarang sekali kita dengar. Kita lebih sering mendengar kata “belas kasih” dari pada “bela rasa” dan dalam Kamus Bahasa Indonesia, kata “belas kasih” diberi arti “rasa kasih karena iba.” Namun dalam Alkitab, khususnya di dalam kitab-kitab Injil, “bela rasa” adalah suatu kata yang istimewa penting. Kisah-kisah Injil menghadirkan Yesus sebagai seorang yang memiliki “bela rasa”, dan yang digerakkan atau tergerak oleh “bela rasa.”

Hisako Kinukawa, seorang ahli Perjanjian Baru dari Jepang, mendeskripsikan “bela rasa” Yesus terhadap perempuan yang sakit pendarahan (Markus 5:25-34) dan terhadap seorang perempuan Siro Fenisia (Markus 7:24-30).  Kisah ini perlu mendapat perhatian dari kita, karena konteks sosial Palestina di zaman Yesus memperlakukan perempuan secara diskriminatif. Pertama, karena ia adalah seorang perempuan dan bukan laki-laki. Kedua, karena mengalami haid, ia dianggap najis dan cemar. Oleh karena itu, pada saat mengalami haid, seorang perempuan dilarang untuk beribadah dan berada di Bait Allah.

Di dalam Perjanjian Lama, perempuan yang seperti ini dianggap sebagai orang yang menjijikkan. Bahkan setiap apa yang disentuhnya juga dianggap najis dan cemar. Kenajisan ini hanya dapat disingkirkan melalui upacara penyucian. Namun dalam Markus 5:25-34 ini, kita melihat bagaimana perempuan tersebut mengambil prakarsa untuk mendatangi Yesus dan mendapatkan kesembuhan, dengan menyentuh baju-Nya. Seorang rabi biasa pasti akan mengutuk perempuan itu, lalu lari untuk melakukan upacara penyucian. Namun menurut Kinokawa, prakarsa perempuan itu telah memicu terjadinya mukjizat, dan Yesus mengundang perempuan itu mendekat, bukan untuk memarahinya, bahkan memberkatinya, “Hai, anakku, imanmu telah menyelamatkan engkau; pergilah dengan selamat dan sembuhlah dari penyakitmu!” (Markus 5:34).
Di dalam Markus 7:24-30, Kinokawa memperlihatkan, pertemuan Yesus dengan perempuan itu berlangsung di luar Palestina. Menurut adat-istiadat Yahudi, Yesus tidak dapat bertemu dengan orang asing, apalagi dengan perempuan asing (atau bukan Yahudi). Tidak mengherankan, bila di dalam ayat 24 dikatakan bahwa Yesus masuk ke dalam rumah dan tidak mau ada orang yang mengetahui kedatangan-Nya. Tetapi perempuan Yunani Siro-Fenisia yang anaknya kerasukan roh jahat mendengar kedatangan-Nya, dan mengambil prakarsa untuk menemui Yesus. Ia masuk ke rumah dan tersungkur di depan kaki Yesus.

Siapakah perempuan Kanaan yang tidak dikenal ini, yang berani memohon pertolongan Yesus? Bagi orang-orang Yahudi, ia dianggap sebagai “liyan” (the other) dan “penyembah berhala, yang berani melanggar tatanan sosial dengan memohon kesembuhan dari Yesus. Namun demikian, kesungguhan perempuan Siro-Fenisia tersebut telah menggerakkan hati Yesus untuk menyembuhkan anaknya yang hampir mati. Bagi Yesus, bela rasa adalah sifat pokok Allah dan sifat moral utama dari suatu kehidupan yang berpusat pada Allah.
 
Dengan demikian bagi Yesus, yang penting bukan orang atau agamanya, namun bela rasa dan pengalaman anugerah kesembuhan Allah melalui diri-Nya. Oleh karena itu, bagi Yesus, bela rasa itu lebih dari sekadar suatu sifat Allah dan kebajikan perseorangan. Bela rasa adalah suatu paradigma sosial, nilai inti bagi kehidupan dalam paguyuban. Dukungan Yesus terhadap bela rasa (compassion) menjadi suatu undangan dan suatu tantangan bagi setiap keluarga, gereja dan sekolah untuk berperan serta mewujudkan perdamaian, keadilan dan keutuhan ciptaan.

Mengapa Bela Rasa?
Di dalam Alkitab Ibrani, khususnya Perjanjian Lama, kata bela rasa mempunyai kaitan semantis yang kaya. Dalam bahasa Ibrani dan juga dalam bahasa Aram, kata yang biasanya diterjemahkan sebagai ”bela rasa” (compassion) ini adalah bentuk jamak dari satu kata benda rahum” (Keluaran 34:6), dan atau “le rahim” (2. Taw. 30:9) yang dalam bentuk tunggalnya berarti ”rahim.” Dalam Alkitab Ibrani, “bela rasa” adalah suatu perasaan maupun cara hidup yang memancar dari bagian tubuh tertentu. Pada perempuan dapat diduga bahwa ini berarti di dalam rahim; dan pada laki-laki di dalam usus besar atau isi perut.
Sehubungan dengan perasaan, bela rasa berarti ”merasakan bersama,” (passion berasal dari kata Latin yang berarti ”merasakan,” dan awalan com berarti ”bersama.”)  Jadi ”compassion,” ”bela rasa,” berarti merasakan perasaan-perasaan orang lain dengan cara yang mendalam, merasuk sampai ke organ tubuh dalam di bawah kepala, sampai ke hati, paru-paru, perut, jantung dan sebagainya. Pada umumnya, bela rasa dikaitkan dengan hal merasakan penderitaan orang lain dan digerakkan oleh penderitaan itu untuk melakukan sesuatu. Dengan demikian, perasaan bela rasa (compassion) membawa orang pada “keadaan berbela rasa” (compassionate).
Sering kata-kata Ibrani untuk (kata benda) compassion, “bela rasa” dan (kata sifat) compassionate, “berbela rasa,” diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris sebagai “mercy” dan “merciful,”  ke dalam bahasa Indonesia sebagai “belas kasihan” dan “terharu” atau “beriba hati.” Tetapi “bela rasa” sangat berbeda dengan “belas kasihan” dan “berbela rasa” sangat berbeda dengan “terharu” atau “beriba hati.” Dalam bahasa Inggris, mercy dan mercyful pada umumnya mengisyaratkan suatu kedudukan superior dalam hubungan dengan sesuatu lainnya yang lebih rendah, dan juga mengisyaratkan suatu keadaan berdosa atau bersalah: seorang berbelas kasih pada orang lain yang terhadapnya orang itu berhak (atau berkuasa) untuk bertindak sebaliknya. Dalam bahasa Indonesia, kata “belas kasihan” atau “kasihan” atau “menaruh belas kasihan” juga mengisyaratkan hal yang sama. Namun “bela rasa” menyatakan sesuatu yang lain. Bila diterjemahkan secara bebas, maka “belas kasih” mengenakan suatu wajah insani, dan “bela rasa” mengenakan suatu hati insani.
Apa itu Bela Rasa?
Kata Ibrani untuk “bela rasa” yang bentuk tunggalnya berarti “rahim” sering dipakai untuk Allah dalam Perjanjian Lama. Kata ini diterjemahkan sebagai ”pengasih” untuk menggambarkan sifat Allah yang ”pengasih dan penyayang” (gracious and merciful). Jadi Alkitab Ibrani sering berbicara tentang Allah sebagai Allah yang berbela rasa dengan kata “rahim” bergema begitu jelas di dalamnya. Dengan demikian pernyataan Yesus “Hendaklah kamu berbela rasa, sama seperti Allah berbela rasa” berakar pada tradisi Yahudi – sebagai suatu gambaran mengenai sifat pokok Allah.
Dengan mengatakan bahwa Allah ”berbela rasa”, sama dengan mengatakan bahwa Allah itu ”seperti rahim” atau ”kerahim-rahiman” (wombish). Sebagai metafora dan sebagai suatu ungkapan yang membangkitkan perasaan (evokatif) ungkapan ini dan gambaran-gambaran yang terkait dengannya menyatakan ”seperti sebuah rahim”, maka Allah itu bagaikan Sang Ibu yang melahirkan kita. Sebagaimana seorang Ibu yang menyayangi anak-anaknya yang lahir dari kandungannya, demikian juga Allah mengasihi kita dan berbela rasa kepada semua anak-Nya. Dan untuk menuntaskan perihal immitatio dei, “berbela rasa seperti Allah berbela rasa” adalah menjadi seperti rahim sebagaimana Allah itu seperti sebuah rahim. 

Berbela rasa berarti merasakan sebagaimana Allah merasakan dan bertindak sebagaimana Allah bertindak: dalam cara yang memberi dan memelihara kehidupan. “Berbela rasa” adalah apa yang dimaksudkan oleh perintah “kasihilah” yang agak lebih abstrak yang terdapat di bagian-bagian lain Perjanjian Baru. Menurut Yesus, bela rasa adalah sifat utama dari suatu kehidupan yang setia kepada Allah yang berbela rasa, yang ikut menderita bersama umat-Nya.

Di dalam Perjanjian Baru, berakar pada tradisi Yahudi, dipakai kata “murah hati” (NRSV, 198 : Be merciful, just your Father is merciful). Merciful dalam bahasa Inggris mempunyai konotasi-konotasi yang sangat berbeda dari ”compassionate”, ”berbela rasa.” Dalam bahasa Inggris, mercy dan merciful (dari kata oiktirmones) secara umum menyiratkan suatu kedudukan superior dalam hubungan dengan sesuatu lainnya yang lebih rendah, dan juga menyiratkan suatu keadaan berdosa atau bersalah: seseorang berbelas kasih kepada orang lain yang terhadapnya orang itu berhak atau berkuasa untuk bertindak sebaliknya. Bila dalam bahasa Indonesia, kata “belas kasih” menyiratkan hal yang sama, maka “bela rasa” menyatakan sesuatu yang berbeda, karena bela rasa memiliki nuansa memberikan kehidupan, memelihara, menjaga, merangkul dan mendekap, seperti Allah mengasihi dan berbela rasa kepada kita anak-anak-Nya.

Implementasi Bela rasa
Seperti yang telah dikemukakan di atas, maka mengasihi dan berbela rasa seperti Allah mengasihi dan berbela rasa kepada anak-anak-Nya berarti memperlakukan pihak dan atau orang lain sebagai subjek yang harus dikasihi, karena semua kekerasan – entah verbal, psikologis atau fisik, entah anggota keluarga, antar suku, dan antar bangsa – akan mengalienasi kehidupan yang menuntun seseorang untuk berbicara dan berperilaku dengan cara yang melukai orang lain dan diri kita. Dengan demikian, dengan diresapi oleh cinta kasih Allah dalam sesama, kita akan dimampukan untuk memupuk-kembangkan sikap seperasaan dan sepenanggungan  dengan mereka yang menjadi korban kekejaman, dan juga para pelaku kekerasan. Dengan sikap berbela rasa, kita dapat mentransformasikan atau membebaskan seseorang dari pengalaman traumatis masa lalu mereka, untuk menegakkan keadilan yang bersifat transformatif di masa mendatang. Oleh karena itu,  bela rasa selalu dikaitkan dengan  hal merasakan penderitaan orang lain dan digerakkan oleh penderitaan untuk melakukan sesuatu, karena perasaan bela rasa (compassion) membawa orang kepada keadaan bela rasa (to be compassionate).

Dalam kehidupan masyarakat, bela rasa merupakan pondasi terbentuknya sebuah komunitas. Bela rasa merupakan roh pengikat, spirit kohesi bagi sebuah komunitas yang segungguhnya. Komunitas terkecil yang dibentuk manusia adalah keluarga yang dibentuk dengan komitmen berbela rasa. Itu sebabnya janji nikah antara lain diucapkan kedua mempelai dengan komitmen akan setia dalam duka maupun suka, ketika sehat maupun sakit, ketika kaya maupun miskin, dan itu akan dilakukan sampai maut menjemput. Ketika bela rasa tidak ada, dalam berbagai bentuknya, maka keluarga itu mulai retak, dan kohesinya melemah.

Bela rasa merupakan spirit relasi antarmanusia yang genuin. Sebab, di atas komitmen memegang semangat bela rasa, relasi terbentuk dan tumbuh untuk memenuhi kepentingan bersama dan individu, agar masing-masing eksis dalam kemuliaan sebagai manusia. Wujud bela rasa, seperti kata-kata turunannya bisa dirasakan dalam sikap empati, berpikir positif, tenggang rasa, dan tepa slira atau toleransi dan sebagainya. Oleh karena itu, berbagai masalah sosial bisa ditelusuri hingga akhirnya sampai pada kikisnya bela rasa dalam kehidupan manusia. Korupsi yang paling merisaukan bangsa Indonesia, terjadi karena “kadar” bela rasa yang rendah. Uang rakyat diambil untuk kepentingan pribadi dan kelompok adalah cerminan tidak adanya bela sara. Apalagi di tengah begitu banyak rakyat dalam kemiskinan. Aksi kekerasan oleh mereka yang merasa kuat, diskriminasi dan ketidak-adilan oleh mereka yang memegang wewenang dan kekuasaan adalah cermin krisis bela rasa. Gap yang tajam dalam kehidupan sosial-ekonomi, karena nurani bela rasa sudah dibungkam. Tanpa bela rasa manusia memasuki jalan hidup sebagai “serigala” bagi sesamanya.

Bela rasa mewujud dalam kepekaan terhadap eksistensi orang lain dengan segala kebutuhan dan kepentingannya. Nilai ini membangun kepekaan pada nasib orang lain dan pengakuan akan adanya relasi dengan dirinya. Sebutlah orang yang menghargai setiap butir nasi yang dimakan, tumbuh karena adanya bela rasa. Dia tahu, peka dan bersikap atas kesadaran bahwa dari setiap butir nasi dan beras ada jerih payah petani, orang-orang lain yang terlibat, dan mereka yang memasak, bahkan kasih Tuhan yang menumbuhkan benih padi. Orang-orang yang gigih menanami bukit yang gundul digerakkan oleh bela rasa pada mereka yang setiap tahun dilanda banjir, yang terancam oleh tanah longsor, yang kesulitan air di musim kemarau. Sebaliknya, para perusak hutan adalah orang-orang yang miskin dalam bela rasa. Jadi, sebuah harapan yang sia-sia jika membangun kehidupan bersama dalam komunitas tidak dimulai dengan kesedian menumbuhkan bela rasa pada setiap warganya.

Gereja awal pada masa para rasul tumbuh dalam relasi yang ditopang oleh bela rasa yang tinggi meneladani Tuhan mereka. Maka, bela rasa merupakan prasyarat membentuk kominitas dan persekutuan dengan kohesi yang kuat. Berbagai aturan dalam komunitas haruslah dibuat sebagai wujud dan cerminan adanya bela rasa, agar setiap individu bisa eksis sebagai manusia yang mulia, dan kehidupan bersama menjadi berkat. Aturan, hukum dan tindakan yang merendahkan manusia, yang digunakan untuk mengekploitasi sesamanya, termasuk diskriminasi, adalah sikap melawan bela rasa. Dan karena itu, tidak bisa diharapkan akan menghasilkan relasi yang sehat.

Bela rasa bukanlah tujuan dari etika dan moral yang dipegang dalam kehidupan, melainkan cara menjalani kehidupan bersama sesama dan ciptaan lain. Menumbuhkan bela rasa pada setiap warga adalah jalan untuk memuliakan diri sebagai imagodei dan sesamanya. Bahkan hukum pun sebenarnya tidak bisa menjadi solusi bagai masyarakat mengatasi masalah sosial. Karena ada kecenderungan menaati hukum ketika ada yang tegas menegakkan. Sebaliknya, dalam semangat berbela rasa, orang menangkap roh yang sejati dari relasi antarmanusia, melampaui semangat pembentukan hukum atau aturan. Dengan demikian, dia akan menjalankannya dengan komitmen dan harga diri. Dengan demikian, bela rasa pada sesamanya semestinya menyemangati cara berpikir, berbicara, cara merasakan dan bertindak manusia setiap manusia.  

Indikator Nilai Bela Rasa
1. Memperlakukan orang lain sama penting dengan diri sendiri.
2. Ikut merasakan penderitaan yang dialami oleh orang lain. Seperasaan dan sepenanggungan dengan orang yang susah dan menderita.
3.  Bersikap pengasih dan penyayang.
4.  Tidak merendahkan orang lain yang berbeda suku, ras dan agama.
5.   Memiliki kepekaan dan kepedulian untuk melakukan sesuatu bagi orang lain.
6.   Mampu menghargai perbedaan dan kemajemukan.
7. Bersikap kritis dan kreatif dalam perbedaan dan kemajemukan tanpa mendiskreditkan pihak-pihak tertentu.
8.  Melakukan apa yang terbaik untuk menolong orang lain.
9.  Mengutamakan kesejahteraan orang lain dari pada diri sendiri
10. Menggerakkan atau memotivasi orang lain untuk berbela rasa (peka dan peduli terhadap penderitaan dan kesulitan orang lain)




Kepustakaan

Hisako Kinukawa, Women and Jesus in Mark, A Japanese Feminist Perspective. New York :
Orbis Books, 1994.
E. Schussler Fiorenza dalam “Discipleship of Equals: Reality and Vision,” In Search of a
   Round Table Gender: Gender, Theology and Church Leadership, ed. Musimbi R.A. Kanyoro
   Geneva : WCC, 1997.

John Mansford Prior, “Konflik dan Kekerasan Gerakan Yesus dan Dinamika Perujukan Sosial,” dalam Gereja Indonesia, Quo Vadis? Hidup Menggereja Kontekstual. J.B. Banawiratma (ed.). Yogyakarta : Kanisius, 2000, 152-153.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar