Halaman

Jumat, 29 Juli 2016

ZIARAH SPIRITUAL





“Ziarah Spiritual” pertama-tama muncul dengan kuat dalam tradisi budaya Yahudi-Hellenistik, ketika orang-orang Kristiani mempunyai pengalaman sebagai “orang asing” dan sebagai minoritas yang teraniaya, yang bergulat untuk mengidentifikasikan dirinya di tengah kekuatan tradisi-tradisi religius dan budaya yang dominan pada saat itu.

“Ziarah Spiritual” membawa mereka keluar dari asal-usul mereka, dan membangun relasi dengan tradisi-tradisi agama-agama lainnya, mengalami transformasi, untuk menggali lebih penuh realitas tradisi-tradisi agama-agama lainnya tanpa kehilangan jati diri dan perspektif teologis mereka.

Ziarah spiritual juga akan menolong kita untuk memahami asal usul kita, dan siapakah kita yang sebenarnya guna membangun relasi yang baik dengan tradisi-tradisi agama lainnya, tanpa kehilangan jati diri dan perspektif teologis kita ...



Sabtu, 16 Juli 2016

Yesus dan orang-orang Farisi. Motif Yesus adalah Kasih.


Lalu keluarlah orang-orang Farisi itu dan membuat rencana untuk membunuh Dia. Tetapi Yesus mengetahui maksud mereka lalu menyingkir dari sana.
Banyak orang mengikuti Yesus dan Ia menyembuhkan mereka semuanya. Ia dengan keras melarang mereka memberitahukan siapa Dia, supaya digenapi firman yang disampaikan oleh Nabi Yesaya, “Lihatlah, itu Hamba-Ku yang Kupilih, yang Kukasihi, yang kepada-Nya jiwa-Ku berkenan; Aku akan menaruh roh-Ku ke atas-Nya dan Ia akan menyatakan keadilan kepada bangsa-bangsa. Ia tidak akan berbantah dan tidak akan berteriak dan orang tidak akan mendengar suara-Nya di jalan-jalan. Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan-Nya, sampai Ia menjadikan hukum itu menang. Dan pada-Nyalah bangsa-bangsa akan berharap.” (Mat 12:14-21) 
Selama hidupnya di dunia, kehadiran Yesus kerapkali menimbulkan pertentangan dan penolakan dari sejumlah orang Farisi. Mengapa begitu? Pada hari Sabat, Yesus menyembuhkan seseorang yang tangannya lumpuh sebelah di dekat Synagoge, dan tindakan Yesus itu akhirnya membuat mereka berencana untuk membunuh dia (Matius 12:9-13).
Injil Matius menceritakan kepada kita, bahwa Yesus mengetahui niat jahat orang-orang Farisi itu, lalu Dia menyingkir dari sana  tanpa mampu disentuh sedikit pun oleh orang-orang jahat itu. Yesus berpindah ke tempat yang lain, dan melanjutkan perbuatan baik-Nya; menyembuhkan orang dari sakit penyakit dengan segala mukjizat dan tanda heran yang mengiringinya. Semua itu dilakukan Yesus karena Dia sangat mengasihi umat-Nya. Yesus tidak membiarkan ancaman-ancaman terhadap diri-Nya melumpuhkan diri-Nya dengan rasa takut dan juga melumpuhkan pelayanan-Nya guna menyembuhkan, mengampuni dan mengubah jiwa-jiwa yang terluka.
Yesus melakukan semua tindakan kebaikan itu bukan lah untuk pencitraan diri-Nya sebagai Mesias yang kedatangan-Nya dinanti-nantikan oleh umat, atau untuk tebar pesona dan sejenisnya. Khotbah-khotbah-Nya mengenai Kerajaan Allah bukanlah sekadar “pepesan kosong.” Dia hanya ingin setiap orang menjadi percaya kepada-Nya, dan melalui diri-Nya percaya kepada kasih Bapa kepada mereka. Sebaliknya, para lawan Yesus tidak sedikitpun berhasil memperoleh petunjuk tentang motif sejati di belakang segala mukjizat dan tanda heran lainnya yang diperbuat oleh Yesus. Nah apakah sebenarnya motif Yesus itu? Sederhana saja: KASIH!! Sebuah pesan yang sangat sederhana, namun mengiring diri-Nya kepada kesengsaraan dan kematian-Nya di atas kayu salib, dengan tujuan supaya “Ia hukum/keadilan itu menang” (Matius 12:20). Yesus menunjukkan dengan jelas, bagaimana Allah itu dapat dipercaya. Melalui teladan hidup-Nya, Yesus menunjukkan bagaimana seharusnya kita menyerahkan diri kita kepada Bapa Sorgawi setiap hari. Ancaman apa pun yang dihadapi-Nya, dan kelelahan badani bagaimana pun yang dialami-Nya, Yesus sepenuhnya menggantungkan diri-Nya kepada Bapa. Kita juga dapat mempunyai pengharapan dan menaruh kepercayaan kepada Allah, sumber segala kebaikan itu. Dengan cara seperti ini, kita akan dapat melihat “keajaiban-keajaiban Tuhan” yang terjadi atas hidup kita. Betapa pun mengagumkannya segala mukjizat Yesus, semua itu tidak ada artinya apabila dibandingkan dengan perubahan diri yang kita alami sementara kita menyerahkan hati kita kepada-Nya.
(Disarikan dari Sang Sabda, 12 Juli 2016)
Noted:
Orang-orang Farisi adalah, sebuah kelompok religius di dalam Yudaisme. Mereka perjuangkan pengetahuan yang mendasar tentang Taurat dan tradisi para nenek-moyang (Misna; Talmud). Mereka menuntut penafsiran yang paling keras, terutama tentang soal-soal yang berhubungan dengan Sabat, kebersihan rituil (tahir) dan yang berkaitan dengan soal persepuluhan, dan mereka cenderung memandang rendah orang-orang yang bukan Farisi.