Halaman

Selasa, 22 Juli 2014

"HOMO HOMINI LUPUS"



Menurut Thomas Hobbes, "Homo Homini Lupus," manusia adalah serigala bagi sesamanya. Hobbes melihat sisi gelap kehidupan manusia. Ada kecenderungan dalam diri manusia untuk berkuasa secara mutlak atas sesamanya. Hukum yang berlaku adalah siapa yang kuat, dialah yang menang. Tidak ada "murah hati," No mercy!  Mereka akan mengerahkan segala cara dan daya, bahkan menghalalkan segala cara guna memperoleh apa yang diinginkannya. Orang lain bagi mereka adalah "alat" atau "sarana" untuk mencapai tujuan atau target yang hendak dicapai. Sebab itu tidak ada belas kasih dan kemurahan hati.

Di dalam Alkitab kata "murah hati" dalam PL dipakai sebanyak 236 kali untuk menunjuk kepada Allah, dan 60 kali untuk menunjuk kepada manusia. Dalam PB digunakan 20 kali untuk Allah, dan hanya 7 kali untuk manusia. Salah satu kisah yang sangat populer untuk menggambarkan prinsip murah hati ini adalah Kisah orang Samaria yang murah hati [Lukas 10 : 25 – 37]. Kenyataan ini mau menunjukkan kepada kita bahwa murah hati itu adalah salah satu ciri kasih, dan salah satu sifat Tuhan. Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati (Lukas 6:36). Di dalam "murah hati" kepentingan sesama ditempatkan pada posisi pertama dan utama. Semua yang diberikan selalu yang terbaik, karena dilakukan sama seperti untuk diri sendiri. Apa yang menjadi kebutuhan sesama itulah yang diberikan. Sikap ini yang disebut sebagai prinsip altruistik. Sebab itu murah hati tidak identik dengan kedermawanan atau sikap dermawan. Kedermawanan cenderung menempatkan si penerima sebagai objek, dan tindakan dan sikap yang muncul adalah filantropik. Dalam Matius 5:7, Yesus mengatakan, "Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan." Wujud yang paling utama dari sikap murah hati adalah memberi diri, seperti yang dilakukan oleh orang Samaria yang murah hati dalam Lukas 10:25-37.

Dalam perumpamaan tersebut, Yesus memperlihatkan bahwa bukan hanya benda atau uang yang orang Samaria itu berikan, tetapi juga diri dan hidup mereka. Sikap ini yang kemudian disebut sebagai pengurbanan, sacrifice, sacro factum atau perbuatan yang mulia. Dalam tindakan itu, mereka bersedia untuk mengambil risiko yang paling besar, memberikan nyawanya demi orang lain, bahkan musuh sekali pun! Inilah yang dimaksud dengan "murah hati." Dalam kehidupan keluarga, dengan murah hati  orangtua dapat lebih memahami apa yang menjadi pergumulan anak-anak mereka.  Tidak mudah menyalahkan, dan tidak asal menuntut. Orangtua juga dapat memberikan perhatian yang baik dan benar pada anak-anak mereka. Bukan sekadar karena sudah memberikan uang untuk makan dan sekolah, lalu semua beres. Seringkali anak-anak juga membutuhkan waktu untuk ada bersama dengan orangtua mereka. 

Memperlakukan setiap orang sesuai dengan harkat dan martabat mereka, siapa pun mereka, apa pun  latar belakang suku, ras, agama, golongan dan budaya mereka menjadi salah satu perwujudan dari kaidah kencana, "apa yang kamu kehendaki orang lain lakukan padamu, lakukanlah itu pada orang lain." Dengan murah hati, gereja akan menjadi berkat bagi banyak orang karena pelayanan kasih yang tepat guna dan memberdayakan. Tidak terjebak dalam bentuk pelayanan karitatif, tetapi pelayanan yang bersifat transformatif. Dengan murah hati, segala bentuk krisis akan teratasi, karena semua pihak menempatkan belas kasih dan kemurahan hati sebagai dasar pertimbangan dan pijakan dalam segala sesuatu. Bahkan dengan murah hati, gereja dapat menjamu dan merangkul orang-orang yang oleh karena satu dan lain hal "tersisihkan dan terbuang" dari sesamanya. Ah, kalau saja!

Selasa, 03 Juni 2014

EVERY MOMENT, INSPIRED LIVING


"Every Moment, Inspired Living", sebuah buku yang mengungkap pengalaman hidup dalam pergumulan dengan realitas sehari-hari dan dekat dengan siapapun yang membacanya. Topik yang diangkat begitu nyata dan cukup bervariasi, dengan diperjelas ilustrasi dan kisah yang relevan dan aktual. Ini adalah bacaan yang menuntun pembacanya memaknai pengalaman hidup dalam terang Firman Tuhan; sehingga menjadi bacaan yang menarik bagi setiap orang yang ingin bertumbuh dalam iman dan kehidupan sosial. (Sabar Subekti, Pemimpin Redaksi www.satuharapan.comBuku ini ada dapat dipesan di bamboobridgepress@gmail.com, atau SMS via +6289628647087. Harga buku Rp. 28.000,- (dua puluh delapan ribu rupiah), dan tebal buku 144 halaman.

Kamis, 22 Mei 2014

MENGAPA TOMAS TIDAK PERCAYA BAHWA YESUS TELAH BANGKIT?


Pembacaan Alkitab: Yohanes 20:19-31

Pertanyaan Pendahuluan

  1.   Apakah yang dimaksud dengan sikap kritis dan penuh rasa ingin tahu?
  2.  Menurut pendapat Anda, sikap kritis dan penuh rasa ingin tahu adalah sikap yang positif ataukah sikap yang negatif. Mengapa?
  3. Apakah Anda mempunyai pengalaman pribadi tentang hal tersebut. Uraikan dengan singkat, padat dan jelas (5 W: What, Who, Where, When, Why)
  4. Pelajaran apakah yang Anda dapatkan dari pengalaman tersebut?

Latar Belakang Alkitab
Nama Tomas berasal dari Bahasa Aram “te’oma,” yang artinya “anak kembar.” Ia lahir di Galilea. Menurut tradisi, Tomas menjadi martir di India dan dimakamkan di Edessa. Berbeda halnya dengan Petrus, Yakobus, Yohanes, dan Yudas Iskariot, peran Tomas kurang menonjol. Ibarat seorang pemain figuran dalam sebuah film, ia bukan pemain utamanya. Namanya hanya muncul dalam Injil Yohanes. Yohanes tiga kali memakai terjemahan Yunaninya yaitu “Didimus” (Didumos, Yohanes 11:16; 20:24; 21:2). Kita tidak tahu siapa kembarannya itu. Tradisi Siria dan Mesir menyebut namanya Yudas.

Meski pun demikian Tomas dikenal sebagai sosok murid yang berani, kritis dan berterus terang. Sikapnya ini tampak pada peristiwa meninggalnya Lazarus. Tomas tidak membiarkan Yesus pergi seorang diri ke Yudea. Dengan berani, ia menawarkan dirinya untuk menemani Yesus pergi bersama-sama ke kota yang berbahaya itu (Yohanes 11:16). Pada Perjamuan Terakhir, Tomas dengan jujur mengakui bahwa ia tidak memahami ke mana Yesus akan pergi, ketika Yesus mempersiapkan murid-murid-Nya perihal kepergian-Nya (Yohanes 14:5). Peristiwa penting yang membuat ia terkenal dengan sebutan “Tomas yang tidak percaya” adalah ketidakpercayaannya bahwa Yesus telah bangkit. Ketika Yesus yang bangkit menampakkan diri-Nya kepada murid-murid (Paskah I), Tomas tidak hadir di situ. Ia hanya mendengar berita dari teman-temannya, “Kami telah melihat Tuhan!” Tomas berkata, “Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali kali aku tidak akan percaya.” Seminggu kemudian (Paskah II) Yesus menampakkan diri-Nya lagi kepada murid-murid, termasuk Tomas dan memberi kesempatan kepada Tomas untuk mencucukkan jarinya ke dalam luka-luka yang ada di tubuh-Nya.

Mengenai sikap Tomas ini, Agustinus Bapa Gereja kita mengatakan, “Dengan pengakuannya dan dengan menjamah luka Yesus, ia sudah mengajarkan kepada kita apa yang harus dan patut kita percayai. Ia melihat sesuatu dan percaya sesuatu yang lain. Matanya memandang kemanusiaan Yesus, namun imannya mengakui ke-Allah-an Yesus, sehingga dengan sikap gembira bercampur penyesalan yang mendalam, ia berseru, “Ya Tuhanku dan Allahku!” Jawaban Yesus kepada Tomas itu tetap berkumandang sampai sekarang ini, “Karena engkau telah melihat, engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya!” Pernyataan itu memunculkan sebutan “Tomas yang tidak percaya.”

Refleksi

Selama berabad-abad Tomas mendapat sebutan dari para pembaca Injil Yohanes sebagai murid yang buruk karena ia ragu dan tidak percaya. Namun bukankah Tomas sebenarnya hanya meminta “tidak lebih daripada apa yang dilihat oleh murid-murid yang lain?” yaitu “tangan, lambung dan bekas luka Yesus?” Tomas hanya meminta apa yang terluput daripadanya, yaitu kesempatan yang sama seperti murid-murid yang lain untuk berjumpa dengan Kristus yang bangkit. Mungkin kata-katanya lebih keras dari sekadar meminta, tetapi motivasinya tidak lebih dan tidak kurang, yaitu perjumpaan dengan Kristus yang bangkit itu. Yesus memenuhi apa yang diminta oleh Tomas, karena Ia tahu apa yang dibutuhkan oleh Tomas. Tomas adalah seorang murid yang tidak puas hanya dengan mendengar kesaksian dari teman-temannya. Motivasi Tomas bukanlah sebuah kesalahan atau pun kekeliruan, karena sebagai murid Yesus, ia pasti mempunyai kerinduan untuk berjumpa secara langsung dengan Yesus yang telah bangkit. Perjumpaan dengan Yesus yang bangkit akan mengubah kekecewaan dan kesedihan yang menghantui dirinya karena Yesus mati di atas kayu salib.

Kita memang tidak melihat Yesus dalam darah dan daging, tetapi perjumpaan dengan Yesus yang bangkit adalah sebuah peluang bagi kita untuk memiliki spiritualitas yang otentik, karena perjumpaan kita secara pribadi dengan Kristus yang bangkit. Selama ini mungkin kita hanya membaca dan mendengar kisah-Nya dalam Alkitab, atau mungkin hanya mendengar pemberitaan tentang Kristus yang bangkit melalui mimbar gereja. Namun kita belum berjumpa secara pribadi dengan-Nya, serta mengalami kasih dan kebaikan-Nya yang mengubah kehidupan kita ke arah yang lebih baik. Oleh karena itu, jadikanlah perjumpaan kita secara pribadi dengan Kristus yang bangkit sebagai sebuah momentum untuk memupuk kembangkan spiritualitas dan penghayatan hidup iman percaya kita, agar olehnya kita diberi kemampuan untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang baik, seperti yang diperbuat Allah dalam Yesus Kristus bagi kita.


Pertanyaan untuk didiskusikan:

  1. Rene Decartes mengatakan “de ombibus dubitandum,” artinya segala sesuatu harus diragukan atau pun dipertanyakan.” Menurut Anda, apakah  perkataan Rene Decartes tsb bersinggungan atau berkaitan dengan topic yang kita bahas hari ini?
  2. Bila terkait, jelaskan keterkaitan/keterhubungaannya dengan singkat, padat dan jelas.
  3. Bagaimana Anda dapat mengatasi segala bentuk keraguan, kecemasan dan ketakutan yang kerapkali menghantui keseharian hidup Anda?
  4. Pengajaran apa yang hendak Anda bagikan kepada orang lain, yang berkaitan dengan topic bahasan Tomas dan perjumpaan dengan Kristus yang bangkit dalam realitas kehidupan sehari-hari.


Indonesian Home Fellowship St. Andrew Presbyterian Church
Kuala Lumpur, 23 Mei 2014. 
Oleh: Pdt. Maryam Kurniawati Sutanto D.Min


Minggu, 27 April 2014

PEREMPUAN DAN LAKI-LAKI MENGGUNAKAN BAHASA YANG BERBEDA




Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh banyak peneliti sosiolinguistik di bidang gender dan kebahasaan, pada kenyataannya perempuan dan laki-laki menggunakan bahasa yang berbeda. Bukan hanya pada pemakaian atau pemilihan kata (leksikal) dan kalimat (gramatikal), melainkan juga pada cara penyampaiannya (pragmatis). Bahasa yang digunakan oleh laki-laki menunjukkan dominasi laki-laki, sedangkan bahasa yang digunakan oleh perempuan merefleksikan subordinasi (ketidakberdayaan) mereka. Hal ini mencerminkan realitas kehidupan sosial mereka.

Perempuan biasanya lebih peka pada apa yang diucapkannya, dan cenderung memperhatikan fungsi afektif dalam berinteraksi. Mereka lebih peka terhadap perasaan yang mungkin ditimbulkan dari bahasa yang dipakai. Sedangkan laki-laki, biasanya cenderung lebih memperhatikan informasi (yang ada hubungannya dengan kemandirian dan status) yang disampaikan dibanding fungsi afektif dari interaksi itu sendiri. Mereka lebih sering menginterupsi dan mendominasi pembicaraan, terutama dalam situasi di mana kekuasaan dan status perlu ditonjolkan seperti ketikaberargumentasi atau berdebat dalam pertemuan atau rapat-rapat.

Contoh bahasa yang digunakan oleh laki-laki adalah, "Pemahaman Anda sempit dan berat sebelah. Pola pembinaan yang dilakukan oleh gereja hanya mengutamakan "transfer of knowledge," Penghayatan iman harus diwujudkan baik secara vertical maupun horizontal. Dari situ kita baru dapat mengerti Injil itu kabar baik." Contoh bahasa yang dipergunakan oleh perempuan, "Gereja dapat mengambil peran untuk membangun kehidupan masyarakat dengan memberikan ketrampilan untuk menjahit, membuat kue dsb," Segala bentuk perbedaan harus dihargai sebagai anugerah Tuhan."

Membicarakan bahasa laki-laki dan bahasa perempuan tidak bisa lepas dari konteks sosial dan budaya mereka, karena perbedaan yang ada ternyata banyak disebabkan oleh kondisi sosial masyarakatnya. Latar belakang sosial dan budaya serta situasi dan kondisi memegang peranan penting dalam melihat masalah ini. Oleh karena itu, perlu pendekatan yang bersifat holistik. Studi gender dan bahasa menekankan bahwa cara perempuan dan laki-laki memang memiliki cara berkomunikasi yang berbeda. Oleh sebab itu, masing-masing dari kita perlu saling memahami dan bertoleransi dengan perbedaan yang ada (Deborah Tannen, You just don't understand, 1990).

Selanjutnya, untuk memahami jenis atau bentuk bahasa, konteks sosial dan budaya dibutuhkan komitmen yang jelas untuk terus mendengarkan (daripada berbicara). Mengembangkan apa yang disebut Raymond Facelina sebagai listening heart,”sehingga kita dapat melepaskan katagori-katagori yang kita buat, dengan mendengarkan, memahami dan merefleksikannya dengan tepat. Salah satu bentuk pendekatan yang unik dalam aktivitas berkomunikasi yang menuntun kita memberi dari hati, mengaitkannya dengan diri sendiri dan seorang dengan yang lain dalam cara-cara yang menumbuhkembangkan sifat belarasa/belas kasih (nonviolent and compassionate compassion), sebagaimana yang diidentifikasikan oleh Marshall B. Rosenberg dalam bukunya Nonviolent Communication A Language of Compassion (2001).

NVC (nonviolent atau compassionate communication) adalah salah satu bentuk komunikasi yang akan menuntun kita untuk  merumuskan ulang bagaimana kita mengungkapkan diri dan mendengarkan orang lain. Di sini, kata-kata kita jadi respons sadar berdasarkan suatu kesadaran atas apa yang kita serap, rasa, dan inginkan. NVC membantu kita mengungkapkan diri secara jujur, jelas, serta memperhatikan pesan mitra wicara dengan penuh respek dan empati. Hal Ini merupakan sumbangan penting bagi upaya perdamaian di dunia.  NVC akan membantu kita untuk pantang“mengkritik” agar tidak mengadili/menghakimi orang lain secara negatif maupun positif. Jujur kata, selama ini kita menggunakan pendekatan rasional objektif kritis mengandalkan kritik sebagai sarana pertumbuhan pengetahuan. Sebab itu kita tidak segan-segan mengkritik, bahkan mengecam orang lain secara negatif.

Oleh karena itu NVC menawarkan Model komunikasi khas yang dapat dipakai oleh setiap orang. Menurut Rossenberg, komunikasi yang mengalienasi hidup menjebak kita pada dunia ide tentang apa yang benar dan apa yang salah, suatu dunia penilaian. Itulah dunia yang kaya dengan kata-kata yang mengklasifikasi dan mendikotomi (bahkan menjastifikasi) orang dan tindakan mereka. Saat memakai bahasa ini, kita menilai orang dan perilakunya sambil bersibuk dengan siapa yang baik, jahat, normal, abnormal, bertanggung jawab, tak bertanggung jawab, cerdas, goblok, dan seterusnya. Minat kita jadi terfokus pada ihwal mengklasifikasi, menganalisis, dan menentukan tingkat kesalahan ketimbang pada apa yang kita dan orang lain butuhkan dan tidak kita peroleh. Jadi, jika rekan kerja kita menginginkan lebih banyak afeksi daripada yang bisa saya berikan, ia ”kekurangan dan bergantung”. Namun, jika saya lebih banyak membutuhkan afeksi daripada yang bisa ia berikan, ia ”bersikap jauh dan tak peka”.

Dari keyakinan Rosenberg, analisis atas orang lain seperti itu adalah ungkapan tragis akan nilai dan kebutuhan kita sendiri. Menjadi tragis karena jika kita mengungkapkan nilai dan kebutuhan kita dalam bentuk ini, kita meningkatkan sikap defensif dan resistensi pada mereka di antara orang yang perilakunya justru kita pedulikan. Atau, jika mereka sepakat berperilaku sesuai dengan nilai kita, mereka sangat mungkin berbuat itu karena takut merasa bersalah atau malu. Di sini, penting membedakan evaluasi tentang nilai dengan penilaian moralistis.

Kita semua dapat mengevaluasi nilai-nilai dalam hidup: kita mungkin menghargai kejujuran, kebebasan, dan damai. Evaluasi kita atas nilai-nilai tersebut mencerminkan keyakinan kita tentang bagaimana hidup dapat dilayani dengan cara terbaik. Kita dapat  membuat penilaian moralistis atas orang dan perilaku yang gagal mendukung evaluasi kita akan nilai, misalnya ”tindak kekerasan buruk, orang yang membunuh jahat.” Andai kita terdidik memakai bahasa belarasa, kita pasti akan mengartikulasikan langsung kebutuhan dan nilai kita ketimbang menginsinuasikan keburukan jika kebutuhan itu tak terlayani. Jadi, alih-alih mengatakan ”tindak kekerasan itu buruk”, kita sebaiknya berkata, ”Saya takut menggunakan tindak kekerasan untuk menyelesaikan konflik; saya menghargai penyelesaian konflik dengan cara lain.”

Kamis, 19 September 2013

MENJADI MANUSIA BAGI SESAMA


 Oleh: Pdt. Maryam Kurniawati D.Min




Titik berangkat : Modernisasi, Tehnologisasi dan Globalisasi
      Terobosan paling menggairahkan pada abad ke-21 terjadi bukan karena tehnologi, tetapi karena perkembangan konsep mengenai apa artimenjadi manusia di tengah kompleksitasnya zaman. Modernisasi, tehnologisasi dan globalisasi bagaimana pun juga telah memberikan warna tersendiri bagi sejarah perkembangan kesejahteraan hidup umat manusia.

      Kendati demikian halnya, baik modernisasi, tehnologisasi dan globalisasi disamping telah memberikan kontribusi yang positif bagi kelangsungan hidup umat manusia, di satu pihak dan di pihak lain telah memperlihatkan  dampak-dampak yang negatif dan significan terhadap jatidiri dan hidup umat manusia. Dampak-dampak yang negatif yang ada dan yang menjadi fenomena dalam kebermasyarakatan yang ditimbulkan oleh modernisasi, tehnologisasi dan globalisasi akan selalu bermuara juga pada apa arti menjadi manusia. Bagaimana seutuhnya menjadi manusia bagi sesama manusia ?

      Dalam kompleksitas zaman dengan berbagai tuntutannya seperti sekarang ini, selalu memunculkan pertanyaan tentang apa dan siapakah manusia itu? Masih adakah orang yang tulus hati berkehendak menjadi manusia bagi mereka yang tereliminasi oleh gilasan roda zaman?

Manusia: Individualitas dan Sosialitas
    Untuk dapat memahami kemanusiaannya, manusia harus memahami siapakah dirinya. Karena ia adalah bagian dan sekaligus juga ditentukan oleh manusia yang lain pula. Tanpa pemahaman yang sungguh-sungguh, manusia bukan lagi manusia, baik untuk dirinya sendiri mau pun untuk sesama/manusia yang lainnya.

      Hidup manusia sebagai makhluk sosial juga ditentukan oleh kebudayaan dan atau nilai-nilai kebersamaan yang berkembangan di masyarakat. Kebudayaan adalah hasil dari kegiatan manusia juga menstrukturisasi tingkah laku manusia ke arah yang lebih baik. Hal ini selalu terjadi dalam setiap proses pergaulan, penerimaan dan penghargaan kepada manusia lainnya dalam dunia sekitarnya.
      Dalam kenyataannya, masalah kemanusiaan (seperti yang kita lihat di sekitar kita) dewasa ini lebih terkait dengan kondisi dan kemungkinan manusia yang ditentukan oleh situasi baru ini : Manusia sebagai individu seolah-olah tidak lagi hidup dalam dunia alami, tetapi hidup dalam lingkungan yang diciptakannya sendiri dalam institusi, birokrasi, tehnologi, dan globalisasi.

      Sebagian manusia hidupnya bergantung pada ilmu kedokteran modern. Sebagian lagi kehilangan hidupnya karena perang yang tidak manusiawi, karena tekanan dan kebijakan politik pemerintah yang tidak berpihak pada masyarakat kelas bawah atau yang hidup dalam kemiskinan. Secara individu eksistensi manusia semakin bergantung pada apa yang diciptakannya dan diputuskannya sendiri. Kebudayaan manusia (dalam hal ini tehnologi dan birokrasi, dll) yang diciptakan manusia memperlihatkan kekuatan 9sebagian) orang (baik anak-anak, mau pun orang dewasa) tergantung pada dan tak berdaya dalam ukuran menjadi manusia yang layak dalam mempertahankan kehidupan mereka.

      Berbicara tentang manusia, individualitas dan kebudayaan tak pernah lepas dari dimensi manusia, ialah sosialitas. Ada kalanya kondisi sosial manusia mendorong perkembangan manusia, tetapi ada kalanya menghambat kebebasan mansuia atau menumbuhkan konflik antar individu, golongan, agama dan suku.

      Dalam konsep individualisme, sebagai individu, manusia menuntut untuk menjadi diri sendiri dengan mengabaikan yang lain. Sedangkan dalam konsep sosialisme (=sosiologi) manusia sebagai individu merupakan bagian dari (masyarakat) yang lain, yang mempunyai fungsi tertentu yang mendukung keseleruhan. Dalam hal ini kebebasan dan penentuan diri individu cenderung diabaikan. Lalu harus bagaimana ?

Selalu Membutuhkan dan Ditentukan oleh Yang Lain
      Setiap individu adalah pusat kebebasan dan kreativitas yang unik, yang dari sana juga kisah kehidupan kemudian terbentuk.
Masyarakat dibentuk oleh individu-individu yang berkomitmen untuk hdiup bersama pada konteks tertentu dalam kontrak sosial tertentu pula. karena itu, ketegangan antar keduanya menjadi faktor penunjang dinamika kehidupan manusia.
Sosialitas adalah suatu transendensi (=pertemuan/masuk/melewati ke dalam) untuk tidap individu mengenali diri dan pribadi yang lain. Melalui transendensi tersebut tiap individu dapat mewujudkan dirinya sebagaimanusia yang utuh. Secara konkret, apabila tidak ada “Anda”, tidak ada pula “Saya.” Karena itu tidak ada eksistensi manusiawi sejati tanpa komunitas, sebab komunitas merupakan esensi manusia. Hubungan “Saya” dan “Anda” selalu ditandai denagn relasi : untuk mewujudkan dirinya, manusia harus berinter-relasi dengan manusia lain. Atas dasar asumsi itulah, jikalau manusia tidak membutuhkan dan tidak mau ditentukan oleh jatidiri yang lain, sesungguhnya ia tidak akan pernahmenjadi manusia yang utuh bagi sesamanya dan juga bagi dirinya.

Rumah Singgah Anak Jalanan (RSAJ): Titik Pusaran Percakapan
      Di tengah-tengah arus modernisasi, tehnologi dan globalisasi yang mencerai-beraikan kesatuan hidup manusia, dan keluarga-keluarga, tidak sedikit anak-anak dan oprang dewasa yang terpaksa harus mencari keteduhan jiwa untuk bertahan hidup. Fenomena ini perlu mendapat perhatian dari semua manusia.
      Sejak diratifikasinya Konvensi Hak-hak Anak oleh pemerintah Indonesia pada tahun 1990, banyak LSM yang telah menunjukkan keprihatinan dan memberikan kontribusinya untuk menekan lajunya fenomena sosial masyarakat (kemiskinan, pengangguran, anak jalanan dan permasalahannya, dan lain-lainnya) seperti LSM, Yayasan-yayasan yang bergerak di bidang sosial, kemanusiaan dan keagamaan). Semuanya ini dilakukan demi nilai menjadi manusia bagi sesamanya. Namun persoalannya, adalah sejauh manakah orang-orang (yang berada di luar gerakan-gerakan kemanusiaan tersebut) membuka diri terhadap eksistensi lembaga-lembaga tersebut ?
      RSAJ hadir untuk anak-anak yang jalanan. Bagi anak-anak jalanan, RSAJ adalah Rumah Sahabat., anak-anak jalanan dapat mencicipi pendidikan. Mereka dapat merasakan bagaimana menjadi anak manusia yang martabatnya terangkat, dihargai dan bebas mengekspresikan harapan dan aspirasi mereka.
      Bagi anak-anak jalanan, RSAJ adalah tempat yang tidak mengkotak-kotakan mereka dalam perbedaan suku, agama, golongan dan ras. Sebab di sana, mereka bukan hanya mendapatkan perhatian dan kasih sayang, tetapi juga saling menghormati dan saling menghargai di dalam kepelbagaian mereka. Di RSAJ, anak-anak jalanan dapat melupakan kejamnya roda zaman, tetapi juga menikmati modernisasi, tehnologisasi dan globalisasi sebagai hasil budaya manusia.
      Dengan demikian, kendati pun modernisasi, tehnologisasi dan globalisasi meluluh lantakkan sendiri kehidupan manusia, apa arti menjadi manusia, akan tetapi kesadaran akan nilai-nilai kemanusiaan yang tercermin dalam dimensi sosial-kebudayaan masih memberikan alternative bagi setiap manusia yang memahami kemanusiaannya. Dengan kata lain, paling tidak sebuah realitas, bahwa Puspita dalam bingkai percakapan ini, mau ditempatkan sebagai pijar-pijar kesadaran manusia yang penuh tentang bagaimana arti menjadi manusia bagi sesama.

Refleksi Teologis
      Berbicara tentang manusia dan kebudayaannya serta fenomena yang ada di dalamnya, bagaimana pun juga tidak akan pernah terpisahkan dari nilai-nilai agama yang ada dan yang memberikan petunjuk serta arahan, bagai oase bagi setiap jiwa yang dahaga.
Gereja sebagai lembaga dan orang-orang yang mengaku percaya di tengah-tengah dunia ciptaan-Nya, mempunyai tanggung jawab kepada Allah dan sesamanya, sebagai makhluk sosial yang berbudaya. Gereja mempunyai tanggung jawab moral untuk menjadi manusia bagi sesamanya, sehingga pewartaan, pelayanan dan persekutuan gereja harus terbuka bagi orang-orang yang miskin dan dalam keprihatinan akan keadaan mereka dan bukan menjadi serigala bagi mereka.
      Dalam perumpamaan mengenai orang Samaria yang baik hati (Lukas 10:25-37) tampak jelas sekali, bahwa mendahulukan orang yang setengah mati, yang tak berdaya tanpa pertolongan adalah wujud perhatian, kepedulian dan cinta terhadap sesama.[1] Pertanyaan seorang ahli Taurat, “Siapakah sesamaku manusia” dijawab oleh Yesus, siapakah sesama bagi orang yang jatuh ke tangan penyamun, dirampok habis-habisan, dipukuli dan ditinggalkan setengah mati itu. Bukanlah seorang imam dan seorang Lewi yang dianggap suci oleh masyarakat. Melainkan orang Samaria, yang dianggap kafir, yang menunjukkan belas kasih.
      Menjadi manusia bagi sesama mempunyai implikasi mencintai dan menjadi sesama bagi orang yang setengah mati, tak berdaya, tanpa pertolongan. Preferential option (love) for the poor  adalah wujud mencintai sesama sebagaimana Yesus mencintai. Melalui Yesus dialami kuasa dan kasih Allah bagi semua orang. Namun kuasa dan kasih tersebut dilaksanakan dengan pelayanan yang mendahulukan mereka yang miskin dan menderita, yang tak berdaya dan yang paling membutuhkan pertolongan. Dengan demikian pilihan kita untuk mendahulukan kaum miskin berakar pada solidaritas Allah sendiri dalam solidaritasnya dengan kaum miskin.
      Pilihan kita untuk mendahulukan orang miskin berakar pada Allah sendiri. Tidak peduli terhadap kaum miskin berarti tidak peduli terhadap Allah. perjuangan mengatasi kemiskinan merupakan jalan mengikuti rencana Allah melalui Yesus. Hanya dengan cara hidup seperti itu, maka bunyi silogisme, “Dan sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga kepada mereka” (Lukas 6:31) menjadi bermakna : kasih menjadi nyata, dan Allah pun hadir di dalam kita. Di dalam cinta kasih dan kepedulian, hadirlah Allah ! (Ubi caritas et Amor, Deus Ibi Est).  


  

       
















[1] Banawiratma, J.B dan Muller, J., Berteologi Sosial Lintas Ilmu. Kemiskinan Sebagai Tantangan Hidup Beriman. (Yogyakarta : Kanisius, 1995), 134.

Jumat, 23 Agustus 2013

BERTUMBUH DI DALAM RENCANANYA



Dalam Kamus Bahasa Indonesia, kata “bertumbuh” mempunyai arti “bertambah besar atau sempurna.” Ambil saja contohnya, benih tanaman yang berkembang, hidup dan menjadi besar atau bagian tubuh seperti rambut, yang tumbuh dan bertambah panjang. Sedangkan dalam Kamus Global, kata “bertumbuh” (develop) mempunyai arti mengembangkan, mengupayakan pertumbuhan atau memperkuat. Ambil saja contohnya, seorang anak kecil, secara fisik bertumbuh dari bayi menjadi anak, remaja, pemuda, dewasa dan tua. Namun secara mental, psikologis, emosi dan spiritual belum tentu mengalami pertumbuhan yang baik. Pertumbuhan adalah tanda kehidupan, dan indicator utamanya adalah adanya kehidupan, dan bertumbuh. Pada manusia, ada enam aspek yang terus menerus mengalami pertumbuhan, dan jika aspek itu tidak bertumbuh, sudah dipastikan akan mengalami masalah.

1.       Aspek Jasmani atau Fisik. Secara fisik terlihat jelas bahwa dengan bertambahnya usia, fisik seseorang mengalami pertumbuhan baik dalam hal tinggi maupun dalam hal berat. Selain itu, terjadi juga menguatan otot-otot dan perubahan bentuk badan menjadi semakin menyerupai orang dewasa.
2.      Aspek Intelektual atau Berpikir. Berbeda dengan tahap sebelumnya, pada masa SMA seseorang sudah mulai mampu memikirkan hal-hal yang lebih abstrak dan logis. Ketika ada sesuatu yang tidak bisa dipahami atau diterima dengan akal, ada perasaan tidak enak yang muncul. Menjadi dewasa secara intelektual berarti menggunakan akal budi untuk melakukan penilaian tentang benar atau tidaknya sesuatu sehingga terjadi pertimbangan yang matang dalam menghadapi masalah atau mengambil keputusan.
3.      Aspek Emosi. Emosi berkaitan dengan bagaimana perasaan muncul dan diekspresikan. Dewasa secara emosi artinya mampumengendalikan perasaan dengan cara yang tepat untuk alasan yang tepat dan ditujukan pada orang yang tepat. Bertambahnya usia, seharusnya membuat orang lebih mampu mengendalikan emosinya.
4.      Aspek sosial. Orang yang dewasa dalam aspek ini mampu berhubungan dengan baik dan benar dengan orang lain, walaupun berbeda dari sudut usia, pendidikan, latar belakang keluarga, kedudukan dan status sosial. Ia mampu menempatkan dirinya sedemikian rupa, sehingga berhasil menjalin komunikasi dua arah dengan orang lain.
5.      Aspek Moral. Pada usia kanak-kanak, seseorang bertingkah laku baik karena disuruh, diiming-imingi hadiah, atau diancam hukuman. Namun, pada usia dewasa, seseorang diharapkan sudah memiliki pedoman mengenai apa yang benar dan baik untuk dilakukan. Standard moral yang tinggi diperlihatkan oleh orang yang memiliki kepedulian pada orang lain. Pada saat ia melakukan sesuatu, ia mempertimbangkan dampaknya pada orang lain, seberapa jauh hal itu membawa kesejahteraan pada orang lain. Pada kenyataannya, ada juga orang dewasa yang berperilaku ke kanak-kanakan. Kalau anak kecil usia empat atau lima tahun, sikap egonya sedang bertumbuh. Ia harus menjadi pusat perhatian, dan setiap mainan yang ia suka, harus menjadi miliknya. Namun, ada banyak orang dewasa yang masih berperilaku ke kanak-kanakan. Merasa diri super, tidak mau kalah, selalu benar da menang sendiri.
6.      Aspek spiritual. Spiritualitas adalah hubungan yang terjalin dengan Allah. Atau lebih tepatnya, bagaimana penghayatan seseorang terhadap apa yang terbaik bagi Tuhan dan apa yang dikehendaki-Nya. Itulah yang mewarnai standard moral yang dimilikinya. Orang yang dewasa dalam aspek ini mengenal bukan hanya kekuatan, melainkan juga kelemahan dirinya. Ia tidak menjadi sombong dengan semua kelebihan yang dimilikinya karena pada saat yang sama, ia tahu bahwa ia juga mempunyai kekurangan.

Dalam Lukas 2:41-52, diceritakan kisah Yesus. Walaupun masih berusia 12 tahun, Yesus sudah menunjukkan minat yang tinggi pada hal-hal spiritual. Ia melakukan tanya jawab dengan para alim ulama yang tentunya dikenal sebagai orang yang mengenak isi Kitab Suci. Namun Yesus juga menunjukkan ketaatan-Nya kepada Yusuf dan Maria, dengan mengikuti mereka kembali pulang ke Nazareth. Walaupun kecerdasan Yesus pada hal-hal spiritual mengagumkan, bahkan melebihi rata-rata orang yang dewasa.
Alkitab menceritakan kepada kita, ada pertumbuhan yang salah. Hofni dan Pinehas adalah anak-anak imam Eli, yang sudah pasti mengalami didikan seorang imam. Mereka tumbuh menjadi dewasa secara fisik, namun tidak secara rohani. Dalam 1 Samuel 2:12-17 diceritakan, mereka melakukan pelbagai kejahatan dan kekejian di hadapan Tuhan hanya untuk memuasan hawa nafsu dan keinginan mereka. Jabatan keluarga Imam Eli disalahgunakan. Berbeda halnya dengan Samuel, yang diserahkan orangtuanya ke dalam didikan Eli. Dia justru mengalami pertumbuhan yang lengkap, tidak hanya secara fisik. Ketika Samuel kecil, ibunya dengan setia membuatkan jubah kecil buat Samuel. Tentu ada banyak pertanyaan mengapa anak-anak Imam Eli sendiri mengalami pertumbuhan yang tidak diharapkan. Alkitab tidak memberi penjelasan, dan hanya mengatakan, “Mengapa engkau memandang dengan loba kepada korban sembelihan-Ku dan korban sajian-Ku, yang telah kuperintahkan, dan mengapa engkau menghormati anak-anakmu lebih dari pada-Ku, sambil kamu menggemukkan dirimu dengan bagian yang terbaik dari setiap korban sajian umat-Ku Israel?”

Dari teguran Tuhan ini kita dapat menarik kesimpulan, bahwa Eli menjalankan tugas keimamannya hanya sebagai “profesi” sehingga ia merasa berhak menikmati bagian yang terbaik, yang seharusnya untuk Tuhan, dan sikap Eli ini dilihat oleh anak-anaknya. Akibatnya, teguran yang disampaikan Eli kepada mereka tidak diindahkan (1 Sam. 2:22-24). Sedangkan Samuel, ia melihat begitu besar peran ayah dan ibunya dalam mendukung dirinya menjadi pelayan di rumah Tuhan, sehingga Samuel itu dikasihi oleh Tuhan dan manusia (1 Sam. 2:26).

Kisah yang sama kita temukan dalam diri Yesus. Orangtuanya, Yusuf dan Maria memberikan perhatian serius untuk pendidikan iman-Nya. Setiap tahun, mereka pergi ke Yerusalem pada hari Paska, dan Yesus selalu ikut. Tidak mengherankan, bila pada usia 12 tahun, Yesus dapat bersoal jawab dengan para alim ulama di Bait Allah. Sama seperti Samuel, Yesus terus bertumbuh, “Dan yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi Allah dan manusia” (Lukas 2:52). Kita semua seharusnya seperti Dia, yang “makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia” (Lukas 2:52). Pertambahan usia menjadi makin dewasa dibuktikan dengan hikmat dan pengenalan akan Allah yang juga bertambah, sehingga kita tahu bagaimana membawakan diri di tengah-tengah orang lain dan orang banyak.

Apa tanda-tanda pertumbuhan seorang manusia yang lengkap? Dikasihi Tuhan dan manusia! Keduanya tidak dapat dipisahkan, sekalipun berbeda. Itulah indicator pertumbuhan jasmani dan rohani kita yang utuh. Bagaimana sekarang dengan kita? Apakah semakin lama, dan semakin tua, semakin dikasihi Tuhan dan orang-orang di sekitar kita? Ataukah semakin lama, semakin orang tidak mau kenal dan bergaul dengan kita? Semakin dijauhi orang. Jika selama ini kita lebih memperhatikan penampilan fisik, cobalah kini lebih utuh lagi melihat dan membenahi seluruh aspek kehidupan kita. Bila kita mau dikasihi Tuhan dan sesama, salah satu syaratnya adalah: Ubahlah sikap egois menjadi murah hati! Perhatikan orang lain yang ada di sekitar kita dan lakukanlah kebaikan untuk mereka. Jangan menghitung apa untungnya, dan apa ruginya karena kita semua adalah “manusia baru” di dalam Kristus. Jadilah manusia baru yang tidak egois supaya kita makin lama makin dikasihi Allah dan sesama. Dalam 2 Petrus 3:18 dikatakan, “Bertumbuhlah dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus.” Betapa indahnya jika kita dikasihi oleh Tuhan dan sesama.

Kisah yang satu ini mungkin dapat mengajarkan kita untuk tidak egois atau mementingkan diri sendiri. Pada suatu hari ada seorang anak muda terpelajar mengamati seorang Pak Tua yang sedang menanam sebatang pohon mangga dengan keringat bercucuran. Anak muda itu menghampirinya dan bertanya, “Pak Tua, untuk apa melakukan pekerjaan sia-sia menanam pohon mangga? Apakah Pak Tua masih sempat menikmati buah pertama dari pohon ini?” Sambil tersenyum dan meneruskan pekerjaannya, Pak Tua itu menjawab, “Apakah yang kamu makan adalah hasil yang kamu tanam sendiri?” Dengan tersipu, anak muda itu meninggalkan Pak Tua. Pertanyaannya, apakah kita sekarang lebih mirip dengan Pak Tua ataukah seperti anak muda itu?”









Selasa, 30 Juli 2013

"TIDAK USAH MENCARI KAMBING HITAM"





Hari Selasa, tanggal 15 Januari 2013, hujan  deras terus mengguyur Jakarta, nyaris tanpa jeda. Akibatnya, hampir seluruh wilayah Jakarta terendam banjir. Jalan Sudirman, Bundaran HI pun tak luput dari genangan air. Bahkan, Istana Merdeka turut terendam banjir. Sejak tahun 2009, saya dan keluarga tinggal di Jakarta Barat, di daerah Greenville selama dua tahun, dan di Taman Ratu Indah hampir dua tahun. Selama dua hari kami dikepung air, listrik padam dan pasokan air PAM tidak berfungsi. Baru kemarin siang air surut, namun hingga hari ini listrik masih padam dan air PAM tidak mengalir.  Untuk pertama kalinya saya menikmati segarnya air Aqua Galon untuk mandi selama dua hai  berturut-turut, dan mempersiapkan kotbah dengan menggunakan lilin di tengah kegelapan malam.

Banjir memang persoalan besar bagi kota Jakarta. Hampir setiap tahun kita diterjang banjir. Banjir membawa kerugian yang tidak sedikit. Rumah terendam air, listrik padam, pasokan air bersih tidak berfungsi.  Banjir juga kadang meminta korban jiwa. Tidak heran, warga DKI Jakarta menempatkan banjir sebagai salah satu problem pokok. Berbagai proyek penanganan banjir sudah pernah dilakukan, seperti proyek kanal banjir barat dan timur, tanggul banjir, normalisasi sungai, interkoneksi, sistem drainase perkotaan, sistem polder (waduk dengan pompa), pintu air pasang, dan pintu air pengatur. Sayangnya, penyelesaian soal banjir tidak kunjung menemui titik terang.

Banjir di Jakarta juga tidak lepas dari model pembangunan yang sangat kapitalistik. Banyak kawasan hijau, taman kota, dan rawa-rawa diubah menjadi pusat perbelanjaan, pemukiman elit, apartemen, dan lain-lain. Akibatnya, dalam 10 tahun terakhir saja, daerah resapan air di Jakarta berkurang hingga 50 persen. Akibatnya, dari curah hujan di Jakarta yang mencapai dua miliar m3 setiap tahunnya, hanya 36 persen yang terserap. Sebagian besar sisanya, terbuang ke jalan aspal, selokan dan pemukiman penduduk. Diperparah lagi, jumlah saluran air yang semakin betkurang dan menyempit, yang tertimbun oleh proyek-proyek pembangunan ruko, mall-mall, apartemen dan sebagainya, membuat sebagian besar sungai-sungai di Jakarta mengalami sedimentasi dan tertimbun sampah.

Sampai hari ini, banyak orang yang saling menyalahkan dan mencari kambing hitam atas banjir yang terjadi di Jakarta. Dalam keadaan sulit,  biasanya orang memang lebih suka saling menyalahkan dan mencari kambing hitam atau penyebab atas masalah yang terjadi. Boro-boro mencari solusinya, karena masing-masing pihak merasa pendapatnya yang paling benar dan mereka lebih senang menyalahkan orang lain. Akhirnya, terjadi disharmoni (pertengkaran, perpecahan di antara mereka). Pertengkaran dan perpecahan juga terjadi di Jemaat Korintus. Sama seperti kita, mereka juga  berasal dari pelbagai latar belakang status sosial, budaya,  ras, dan golongan, demikian juga dengan talenta. Namun sayangnya, Keberagaman  tidak diterima sebagai sebuah anugerah atau kekayaan dalam jemaat, melainkan sebagai sumber perpecahan. Akibatnya, potensi jemaat yang luar biasa itu energinya hanya dihabiskan untuk berdebat, siapa yang paling hebat di antara mereka.

Dalam pandangan Paulus, Tuhan memberikan karunia yang berbeda pada setiap orang dan karunia itu diberikan tidak dengan maksud untuk dinikmati sendiri apalagi dipakai sebagai alat atau sarana pemuliaan diri dan meremehkan orang lain. Kalau ditanya, Mengapa Tuhan tidak memberikan karunia yang sama pada setiap orang? Di sinilah justeru Tuhan menginginkan setiap anggota jemaat untuk belajar berelasi satu dengan yang lain. Mereka saling membutuhkan, saling terkait satu dengan yang lainnya sama seperti tubuh manusia yang anggota-anggotanya berbeda dengan fungsi yang berbeda. Begitu pula dengan kita. Mereka saling membutuhkan, dan saling terkait satu dengan yang lainnya.

Belajar dari Jemaat Korintus, kita disadarkan bahwa setiap kita diberi talenta atau pun karunia. Apapun bentuknya. Mungkin dalam bentuk kepandaian mengorganisasi sebuah sistem, atau kepandaian untuk mendesign sebuah bangunan dst. Karunia yang diberikan Tuhan kepada saya tentu berbeda dengan karunia Anda. Dan karunia yang dianugerahkan Tuhan kepada Anda tentu juga tidak sama persis dengan teman Anda. Di sinilah kita terpanggil menggunakan karunia itu untuk kepentingan bersama. Membangun jemaat Tuhan bukan sebaliknya, menjadi penyulut perpecahan.

Pesan moral yang sama juga disampaikan kepada kita melalui kisah pernikahan di Kana (Yohanes 2:1-11). Maria ibu Yesus yang hadir dalam pesta itu, sekalipun ia seorang ibu, tidak memaksa Yesus untuk menuruti kehendaknya. Ia menyuruh semua pelayan agar menuruti saja apa yang dikatakan Yesus (Yohanes 2:5). Maria juga tampil sebagai sosok yang tidak mudah tersinggung lantaran permohonannya tidak langsung direspon Yesus yang adalah anaknya sendiri dengan alasan saatnya belum tiba. Keyakinan bahwa Yesus pasti melakukan yang terbaik pada saat yang tepat dan melakukan apa yang diperintahka-Nya itulah yang membuat mujizat itu terjadi. Dengan cara seperti itu, mereka melihat mujizat terjadi. Air berubah  menjadi anggur!

Nah bagaimanakah sekarang dengan kita? Ilustrasi dari Spencer Johnson ini mungkin dapat menolong kita.
Dahulu kala hiduplah dua pasang sahabat, dua kurcaci dan dua tikus. Setiap hari mereka berkeliaran dalam sebuah labirin mencari keju yang lezat.
Dua tikus menggunakan metode trial and error, masuk ke satu lorong dan segera berpindah ke tempat lain sampai mereka menemukan keju. Sedangkan dua kurcaci menggunakan kemampuan berpikir mereka untuk menemukan keju.
Suatu hari, terjadi tragedi. Keju telah habis.
Dua tikus yang menyadari situasi yang sudah berubah ini, tanpa membuang waktu, memutuskan untuk berubah juga. Mereka pun mengangkat hidung, mengendus dan berlari ke labirin lain untuk menemukan keju yang baru.
Namun dua kurcaci tak siap menghadapi kenyataan ini. Alih-alih mengambil tindakan, mereka malah berteriak-teriak, berkacak pinggang, menggerutu dan mengomel berkepanjangan.
“Ini tidak adil. Siapa yang memindahkan keju kita?” kata kurcaci pertama.
Sahabatnya menjawab, “Ini kecerobohanmu, kalau saja kau memperhatikan bahwa persediaan keju kita semakin menipis, hal ini tak mungkin terjadi!”
Dan mereka mulai menganalisa. “Pasti ada orang jahat yang hendak mempermainkan kita. Kita harus mencari tahu.”
Maka, berhari-hari lamanya mereka mendiskusikan masalah ini. Tapi keju tak kunjung tiba, hingga mereka benar-benar merasa lemas dan tak bertenaga.
Ilustrasi sederhana nan menarik ini amatlah tepat menggambarkan kondisi bangsa kita. Tingkah kita pun semakin mirip sepasang kurcaci itu.

Saat musibah dan bencana melibas kita,  respon kita biasanya hanyalah tak henti menganalisa berkepanjang, menggerutu tak henti, saling menyalahkan dan tanpa aksi, apalagi solusi. Yang membuat suasana makin runyam sebenarnya bukanlah musibah dan bencana itu sendiri, tapi respon kita menghadapi musibah dan bencana itu sendiri. Tuhan memperlengkapi setiap kita untuk berkarya bagi kepentingan sesama. Dengan talenta dan karunia yang berbeda, kita semuanya memiliki karunia yang berbeda, dan maksud Tuhan dengan itu semua adalah supaya kita membangun relasi yang baik dan saling terkait satu dengan yang lain, untuk meluas lebarkan pekerjaan Tuhan di dalam kehidupan ini.