Halaman

Kamis, 12 Maret 2015

PANTANG MENYERAH


Pantang Menyerah. 

Tae-Ho adalah seorang anak lelaki asal Korea Selatan yang dilahirkan ke dunia ini dengan anggota tubuh yang tidak lengkap. Ia tidak memiliki lengan dan pada bagian kakinya hanya terdapat empat jari. Tim medis yang menangani proses kelahirannya (Tahun 2000), memprediksi bocah malang ini tidak akan memiliki kemungkinan bertahan hidup hingga 10 tahun.

Seakan-akan ketidakberuntungan yang menimpanya belum cukup, tak lama setelah lahir, Tae-Ho ditinggalkan oleh orangtua kandungnya sendiri karena mereka tidak tahan melihat kondisi anak yang telah dilahirkannya. Maka, Tae-Ho pun dikirim ke panti asuhan di Seung Ga-Won, Korea Selatan oleh Holt (Children Service Incorporated).

Namun apa yang terjadi pada Tae-Ho? Ia masih hidup sampai saat ini. Usianya 11 tahun dan ia telah tumbuh menjadi anak yang mandiri dan menyenangkan. Tae-Ho adalah anak lelaki yang berhati teguh dan berpikiran positif ? Ia selalu menghadapi segala hal dengan senyuman. Ketika ditanya, apakah ia mengalami kesulitan karena keadaan tubuhnya, ia menjawab, "Tidak, saya baik-baik saja!" Bahkan Tae-Ho selalu membantu saudara-saudaranya di Panti Asuhan. Tae-Ho pun mampu belajar dan bermain di sekolah seperti anak-anak lainnya.

Kisah Tae-Ho ini mengingatkan kita untuk memiliki sikap ulet, tangguh dan tidak gampang menyerah. Tidak pernah kehilangan pengharapan dan senantiasa bersyukur kepada Tuhan, karena dibalik kekurangan ada berkat Tuhan yang luar biasa..


PAK WAGIO

Sepanjang hari ini, Pak Wagio - seorang tukang kayu dan asistennya membantu saya dan suami untuk memperbaiki pintu ruang kerja dan jendela yang pernah dibuka secara paksa, karena terkunci dari dalam. Tidak hanya itu saja, pintu kamar mandi dan pintu kamar serta pintu lemari dapur juga diperbaiki. Pak Wagio mengenal Ibu saya, karena sudah lama bekerja sebagai tukang kayu di perusahaan adik saya. 

Setiap ada masalah di rumah, rupanya Ibu saya hanya mau dibantu oleh Pak Wagio. Itu pasti karena Pak Wagio sangat cekatan memperbaiki semua masalah yang berkaitan dengan kayu (seperti pintu, lemari, jendela dan sebagainya). Cukup satu hari saja, semua masalah yang berkaitan dengan pintu telah teratasi. Sore hari, saya menjamu Pak Wagio dengan segelas Wasgitel (Wangi, Sepet, Legi, Kentel), alias Teh Manis Panas dan asistennya, segelas kopi Aceh panas. 

Mereka mengambil tempat di depan rumah, menikmati Teh dan Kopi yang saya buat sendiri seraya duduk di depan rumah sambil merokok. Menjadi seorang tukang kayu, bukanlah sebuah pekerjaan yang sederhana. Tidak semua tukang bangunan mampu mengerjakan detail yang rumit dari pintu, lemari, jendela dsb. Dalam perenungan saya, profesi apa pun juga, walau pun hanya menjadi tukang kayu, sungguh akan membesarkan hati dan jiwa. 

Banyak orang yang membutuhkan mereka, dan sehebat apa pun kita, bahkan seberapa pun banyaknya uang kita, ternyata kita masih membutuhkan kehadiran dan bantuan "Pak Wagio." Bukankah hal ini mengingatkan kita, bahwa siapa pun kita, membutuhkan kehadiran dan pertolongan orang lain untuk melengkapi kehidupan kita dan tanpa mereka, kita tidak akan mampu berbuat banyak. Terimakasih Pak Wagio!

DIDIDIK OLEH TUHAN



Oleh: Pdt. Maryam Kurniawati D.Min
Dididik oleh Tuhan, ah, sering menakutkan kita. Mengapa? Karena kita semua  ingin hidup enak, bahagia, dan semua lancar. Jauh dari derita dan masalah. Kita sering jadi kaget, bingung dan takut saat hadapi kenyataan, karena hidup kita tidak seenak dan selancar yang kita inginkan. Buktinya? Banyak masalah yang harus kita hadapi. Masalah dengan suami atau isteri. Masalah dengan orang tua atau anak. Masalah dengan mertua atau menantu.  Masalah uang sekolah anak dan semua urusannya. Masalah pekerjaan dan penghasilan yang semakin tak menentu. Masalah kesehatan, karena kita sakit darah tinggi, diabetes, jantung, gangguan fungsi lever, bahkan sakit kanker. Lalu kita jadi sedih, kecewa dan putus asa. Bertanya-tanya, apakah Tuhan sungguh-sungguh mengasihi kita? Kalau Dia sungguh-sungguh mengasihi kita, kenapa Dia ijinkan begitu banyak masalah dalam hidup kita? Beginikah cara Tuhan mendidik kita ?  Sangat wajar dan sah-sah saja kita ingin hidup sehat, bahagia, semua lancar, banyak uang dan senang. Tapi inikah tujuan utama kita hidup di dunia ini? Hanya mencari kesenangan dan kebahagiaan bagi diri kita ? Hanya memuaskan segala keinginan dan hawa nafsu kita? Lalu di mana tempat Tuhan dalam hidup kita? Di mana kita tempatkan Tuhan dalam kehidupan kita ?

Ada sebuah kisah. Tuhan sedemikian lelah karena mendengarkan doa seseorang. Pada suatu hari, Ia menampakkan diri dan berkata, “Aku akan menganugerahkan kepadamu tiga hal. Setelah itu, Aku tidak akan memberikan apa-apa kepadamu.” Dengan gembira, orang itu memohon kepada Tuhan, dan yang pertama kali diminta adalah agar isterinya segera mati. Dengan demikian, ia dapat kawin lagi dengan perempuan lain. Dan permohonannya dikabulkan. Namun ketika teman-teman dan saudara-saudaranya datang melayat pada saat pemakaman isterinya dan mereka mulai mengenang kembali kebaikan2 isterinya, ia mulai sadar bahwa ia terlalu gegabah. Ia menyadari bahwa ia telah buta akan semua keutamaan isterinya. Apakah ia akan menemukan perempuan lain sebaik isterinya ? Maka, ia memohon kepada Tuhan untuk menghidupkan lagi isterinya, dan Tuhan mengabulkan permohonannya. Tinggal satu permohonan yang diberikan oleh Tuhan. Ia tidak ingin berbuat salah lagi, karena tidak ada kesempatan lagi untuk memperbaikinya. Beberapa sahabatnya menasihati supaya dia minta  agar dia tidak bisa mati. Tetapi apa gunanya tidak bisa mati, jika ia tidak mempunyai kesehatan yang baik. Dan apa gunanya kesehatan bila tidak punya uang. Dan apa gunanya uang, jika ia tidak punya teman. Bertahun2 telah lewat dan ia tidak dapat memuaskan hatinya dengan permohonan ini : kehidupan atau kesehatan, kekayaan atau kekuasaan atau cinta. Akhirnya, ia berkata kepada Tuhan, “Tuhan berilah petunjuk kepadaku akan apa yang kuminta.” Tuhan tertawa ketika Ia melihat kebingungan orang itu dan Ia berkata, “Mintalah akan hal2 yang tidak bisa memuaskan kehidupan di atas dunia ini.”  

Dari kisah tadi, kita melihat sebuah cermin besar. Cermin yang memperlihatkan, bahwa begitulah kita semua di hadapan Tuhan. Kita selalu minta kepada Tuhan, ini dan itu, yang kita anggap bisa membuat kita bahagia dan senang. Kita ingin sehat, hidup panjang, punya banyak uang, jauh dari musibah, sakit penyakit dan masalah. Padahal kebutuhan kita tidak akan pernah terpuaskan. Contohnya, adalah bisa saja kita punya rumah yang indah, mobil yang mewah, pekerjaan yang memberikan kedudukan yang terhormat dan penghasilan yang berlimpah. Tapi kita tak pernah puas dan bahagia. Karena itu Tuhan merasa sangat perlu untuk mendidik kita agar kita dapat merubah cara kita memandang kehidupan ini. Karena itu Dia ijinkan begitu banyak derita dan masalah yang menghadang dan menggilas kita. Dengan maksud dan tujuan supaya kita tidak lagi menempatkan Tuhan di luar kehidupan kita. Supaya kita tidak lagi serakah dan tamak. Tuhan mendidik kita, karena Dia mengasihi kita. Sama seperti  seorang ayah yang tidak ingin melihat anaknya terluka karena jatuh dari pohon.

Tuhan mau membentuk dan mendidikan kita, karena Dia amat mengetahui kemampuan kita. Dia tak akan pernah memberikan suatu beban yang kita tak sanggup memikulnya. Karena itu, kalau biasanya kita mengeluh dan berkeluh kesah setiap berhadapan dengan masalah. Kini Tuhan mendidik kita justru harus bersyukur. Kenapa? Karena masalah menunjukkan bahwa kita benar-benar hidup. Tuhan mau supaya kita tidak lagi  memandang masalah sebagai suatu bencana dan hambatan.  Masalah justru adalah suatu peluang untuk maju dan berkembang. Masalah yang pelik akan membuat otak kita berpikir keras mencari solusi yang kreatif. Masalah akan membuat kita mengerahkan  segala daya dan kemampuan kita untuk menyelesaikannya. Kalau kita menjalani prosesnya dengan benar, kita akan mendapatkan kenikmatan hidup begitu kita dapat menyelesaikannya. Kuncinya, adalah hadapilah masalah dengan tenang. Pandanglah sebagai kesempatan berharga untuk bertumbuh atau naik kelas. Sama seperti tugas yang harus dilakukan seorang anak di sekolah. Dia harus membuat pekerjaan rumahnya. Mempersiapkan diri menghadapi ujian atau ulangan agar dapat meraih prestasi dan naik kelas. Demikian juga dengan kita. David Brinkley, seorang jurnalis senior dan komentator televisi terkenal di Amerika Serikat pernah mengatakan, “Orang sukses adalah orang yang dapat membangun fondasi dari batu-batu yang dilemparkan oleh orang lain kepadanya.”

Begitulah cara Tuhan membentuk dan mendidik kita. Kita harus merubah cara kita memandang kehidupan ini. Merubah keyakinan bahwa kita akan bahagia kalau semua keinginan dan target-target kita terpenuhi. Padahal keinginan dan target-target itulah yang biasanya membuat kita tegang, frustasi, cemas, gelisah dan takut. Terpenuhinya keinginan kita paling-paling hanya membawa kesenangan dan kegembiraan sesaat. Kita pun harus merubah keyakinan kita bahwa kebahagiaan akan datang apabila kita berhasil mengubah situasi dan orang2 yang ada di sekitar kita. Kita bisa tidak bahagia dengan pasangan, orang tua, anak,  tetangga, dan atasan kita. Karena itu jangan biarkan situasi, lingkungan dan orang-orang di sekitar  kita membuat kita tidak bahagia. Yang perlu kita  lakukan adalah  bukan mengubah diri mereka, tetapi merubah diri kita sendiri, merubah hati dan paradigma kita. Urusan hasilnya adalah urusan Tuhan. Yang bisa kita lakukan sebagai manusia hanyalah berusaha dengan sekuat tenaga. Sementara hasil sepenuhnya dalam kekuasaan Tuhan. Memikirkan mengenai hasil hanyalah akan membuat kita stress dan tertekan karena semua itu berada di luar kontrol kita.



Minggu, 12 Oktober 2014

"Nonviolence is a way of life for courageous people"


MENSIASATI SEGALA BENTUK PENINDASAN
Bacaan Matius 9:35-10:8
Oleh: Pdt. Maryam Kurniawati D.Min


Penindasan, dalam bentuk apa pun, akan selalu menimbulkan trauma atau luka dalam diri seseorang. Orang akan merasa terasing, kesepian, dan bahkan kehilangan harga dirinya. Mungkin kita pernah mempunyai pengalaman ditindas atau tertindas, yang menimbulkan trauma di sepanjang hidup kita. Pengalaman kita di tempat kita bekerja, atau di sekolah misalnya, dapat menimbulkan trauma dalam diri kita. Anak saya yang besar, Brian, ketika di bangku kelas IV mengalami penindasan yang dilakukan oleh teman sekelasnya. Setiap hari, dia dipaksa oleh teman sekelasnya untuk membawa tasnya ke kelas di Lantai 2. Jika dia menolak, maka dia akan dipukul dan dijahati oleh teman tersebut. Alhasil selama 1 bulan, Brian karena takut, selalu membawakan tas temannya, dengan susah payah, karena dia sendiri juga harus membawa tasnya ke Lantai 2. Penindasan ini terus berlangsung tanpa ada yang mengetahuinya, karena Brian sendiri tidak pernah menceritakannya kepada saya atau suami saya. Bahkan Guru dan Kepala Sekolahnya sendiri tidak mengetahuinya. Akhirnya, pada suatu hari, suster anak saya yang kedua, ketika membawa buku anak saya yang tertinggal di rumah, melihat peristiwa tersebut dan melaporkannya kepada saya. Saya terkejut dan juga marah, karena penindasan itu terjadi di sekolah dan dilakukan oleh anak seorang Guru. Karena itu, ketika Brian pulang, saya minta anak saya menceritakan semua yang dia alami di sekolah. Dengan perasaan ketakutan dan bingung, dia mengungkapkan penyiksaan yang dialaminya. Dia takut melapor kepada Guru, Kepala Sekolah dan saya, karena ancaman-ancaman yang diberikan oleh teman sekelasnya itu, dan teman-teman sekelas yang lainnya pada umumnya cuek saja. Esok harinya, saya datang kepada Kepala Sekolah dan melaporkannya. Karena penindasan tersebut, saya dan suami saya harus berupaya keras untuk membantu dan menolong anak saya untuk mengembalikan rasa percaya dirinya yang dirusak oleh karena penindasan yang dilakukan oleh temannya.

Sekolah anak-anak kita, ternyata tidak steril dari yang namanya penindasan. Tadi malam saya sempat membaca sebuah website tentang penindasan siswa di sekolah, dan isinya sungguh mengejutkan saya. Karena dilaporkan ada begitu banyak penindasan yang dialami oleh siswa2 di sekolah, di segala penjuru dunia. Di Columbia,  di Colorado, di Manchester, di Irlandia, dan bahkan di Indonesia. Sebagai contoh, di Manchester Inggris, Marie Bentham berusia 8 tahun menggantung diri di kamar tidurnya karena merasa tak mampu menghadapi dan mengalami penindasan demi penindasan di sekolahnya. Lalu beberapa waktu lalu diberitakan seorang anak harus dibawa di rumah sakit, dalam perjalanan menemui ajalnya akibat sebuah penindasan yang dilakukan oleh temannya sendiri. Barbara Coloroso (2007) dalam bukunya yang berjudul “The Bully, The Bullied, and The Bystander” mengatakan “Penindasan adalah sebuah isu hidup dan mati yang kita abaikan resikonya pada anak2 kita. Anak2 yang tertindas menghabiskan banyak waktu untuk memikirkan cara guna menghindari trauma dan hanya memiliki sedikit energi untuk belajar. Yang menderita akibat adanya penindasan ini tidak hanya anak yang tertindas. Anak2 penindas banyak yang terus memiliki perilaku penindas hingga dewasa, sehingga kemungkinan besar mereka kelak akan menindas anak2 mereka sendiri, gagal dalam hubungan antar pribadi, kehilangan pekerjaan, dan berakhir di penjara.

Tidak banyak dari kita yang menyadari, bahwa kekerasan kemanusiaan dimulai dari ruang kelas, dan 30%-80% waktu dihabiskan guru untuk mengatasi permasalahan disiplin, dan 25% ketidakmampuan belajar disebabkan karena adanya rasa takut siswa terhadap siswa lain di kelas. Perasaan tidak suka yang kuat terhadap seseorang yang dianggap tidak berharga, dan lemah membuat anak2 korban penindasan itu telah ditindas tanpa ampun. Diejek, diolok2, dijadikan bulan2an dan disiksa oleh teman2nya di sekolah. Willem Standaert, senior Programme Coordinator Unicef Indonesia mengatakan; "Penindasan pada anak, apapun alasannya, memiliki implikasi serius terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak. Penindasan kelak dapat merusak kepercayaan diri anak. Anak merasa terasing, kesepian, kehilangan harga diri, dan lebih jauh menurunkan kemampuan mereka untuk menjadi orang tua yang baik di masa mendatang.”

Fenomena yang tidak menyenangkan ini, dapat kita selidiki, kita ubah dan kita perbaiki, tergantung kepada kesungguhan dan kepedulian kita semua untuk membangun kesadaran dan memutuskan siklus kekerasan yang terjadi di sekolah-sekolah kita. Jangan lupa bahwa tragedi penindasan (bullying) siswa melibatkan tiga aktor, yakni pelaku yang menindas, korban tertindas yang takut melapor, dan penonton yang berperan serta atau cuek. Sadarkah kita bahwa ketiga aktor atau karakter tersebut juga dimainkan dan dipelajari oleh siswa dan anak-anak kita pada umumnya dalam kesehariannya, baik di rumah, di sekolah, di tempat bermain, dan di lingkungannya?! Lalu bagaimana dengan keluarga2 kita, dan kehidupan Gereja2 kita?! Apakah mereka juga ”bebas’ dari siklus kekerasan dan penindasan?!  Jujur kata, ternyata tidak.

Pembacaan Mazmur kita mengungkapkan keadaan pemazmur yang hampir putus asa. Ia berada dalam keadaan tertindas, terluka dan kebingungan. Dalam keadaan tertindas, ternyata tidak ada seorang pun yang dapat diandalkan untuk menolong dirinya. Hanya Tuhan yang dapat menolong dan menyelamatkan dirinya. Karena itu, pengalaman hidupnya bersama Tuhan itulah yang dapat memulihkannya. Dalam kehidupan kita sehari-hari, sebagaimana pemazmur, mungkin kita sedang berada dalam keadaan tertindas, terluka dan kebingungan, dan mungkin tidak ada seorang pun yang dapat menolong kita. Kita jadi merasa terasing, kesepian, kehilangan harga diri dan terus tidak berdaya karena tertindas dan terluka. Karena itu, pemazmur mengajak kita untuk berseru kepada Tuhan dan menaruh harap kepada-Nya. Hanya Tuhan yang dapat menolong kita dan memulihkan kita. Dalam surat Roma 5:1-8, Rasul Paulus mengatakan, bahwa kesengsaraan adalah sebuah fakta kehidupan. Tidak ada seorang pun yang dapat menghindarinya. Sebab itu ketika seseorang susah dan menderita, ia harus melihat segala bentuk penderitaan dan kessengsaraannya dari perspektif iman, bahwa melalui pergulatan yang berat itu Allah sedang mengubah hidupnya, menjadi matang dan dewasa, serta lebih bersandar kepada kekuatan Allah. Salib adalah bukti yang paling jelas dari kasih Allah kepada manusia. Dalam surat Roma 8:35-39 Rasul Paulus berkata, ”Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? Seperti ada tertulis: "Oleh karena Engkau kami ada dalam bahaya maut sepanjang hari, kami telah dianggap sebagai domba-domba sembelihan." Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita. Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.

Di dalam Injil Matius 9:35 dst, kita menyaksikan bagaimana Yesus tidak pernah berdiam diri atau mengambil sikap tidak peduli ketika Ia diperhadapkan dengan kesusahan dan penderitaan manusia. Berulang-ulang kali dikatakan oleh Kitab Injil kepada kita, bagaimana hati Yesus selalu tergerak oleh belas kasihan melihat orang-orang yang terbaring tak berdaya, yang lelah dan yang kebingungan. Kehidupan manusia modern dengan segala bentuk persoalan-persoalannya melahirkan orang-orang yang tidak berdaya, yang terluka, lelah dan kebingungan. Jumlah mereka yang tidak berdaya, yang terluka, lelah dan kebingungan semakin besar dibandingkan dengan mereka yang peduli. Karena itulah Yesus menyatakan bahwa pekerja sedikit, tetapi tuaian banyak. Pernyataan Yesus ini pada saat itu mau menggambarkan kondisi di mana orang-orang Farisi sibuk dengan dirinya dan menutup mata terhadap orang-orang yang ada di sekelilingnya. Orang-orang Farisi memandang mereka sebagai orang-orang yang tidak diperhitungkan dan patut dilupakan. Namun Yesus memilih untuk memperhitungkan dan merangkul mereka agar mereka tidak terhilang di tengah himpitan pergumulan hidup mereka. Karena itu Ia memberikan kuasa-Nya. Dengan kuasa-Nya, para murid dimampukan untuk melakukan dan memberikan yang terbaik, dan mereka dilarang untuk menerima imbalan karena pekerjaan mereka. Mereka telah menerima dengan cuma-cuma, karena itu mereka juga harus memberi dengan cuma-cuma. Hal ini mengingatkan kita, untuk tidak menutup mata terhadap orang-orang yang ada di sekeliling kita. Betapa banyak orang yang tertindas dan teraniaya, yang terluka, lelah, dan kebingungan. Mungkin bukan disebabkan oleh karena kita, tetapi karena ketidakdilan dan kejahatan yang membuat atau menjadikan mereka sebagai korban yang tidak berdaya. Oleh karena itu, dengan kuasa Yesus, kita harus membangun kesadaran untuk memutuskan siklus kekerasan atau pun penindasan yang mengakibatkan penderitaan dalam hidup manusia, dan menggantikannya dengan cinta kasih. Tanpa kuasa-Nya, kekuatan kita sehebat apa pun tidak akan menghasilkan apa-ap. 

Hal ini juga menunjukkan kepada kita, bahwa kita bekerja bukan karena kekuatan kita, dan bukan untuk kepentingan kita. Tetapi karena kuasa Yesus yang memberkati dan memampukan kita untuk mengatasi setiap penderitaan manusia. Kita telah menerima pengorbanan Yesus Kristus yang mati di kayu salib dengan cuma-cuma, karena itu kita juga harus memberikannya tanpa pamrih, atau menuntut balas jasa. Oleh karena itu, setiap bentuk penderitaan manusia, harus kita hayati sebagai proses yang dipakai Allah untuk mendewasakan dan memetangkan kita. Proses ini membuat kita semakin menyadari dan mengimani bahwa Allah membentuk kehidupan umat-Nya melalui segala peristiwa, baik suka mau pun duka. Kesaksian iman kita dalam Yesus menjadi nyata pada saat kita menghadirkan kepedulian dan pertolongan bagi mereka yang menderita dan teraniaya. Inilah tugas panggilan kita sebagai orang percaya. Soli Deo Gloria!





Senin, 22 September 2014

"Jealousy Is Not for Me"



Saya membaca sebuah buku yang berjudul Jealousy Is Not for Me - A Guide for Freeing Yourself from Envy yang dibuat oleh Molly Wigand (Abbey Press, 2007).  Saya kagum dengan ide atau gagasan dari pengarangnya, karena buku ini dibuat dengan bahasa yang sangat sederhana dan menarik. Molly menjelaskan apakah cemburu itu, cemburu itu sangat wajar, keinginan atau kebutuhan?, cemburu antar saudara, bersaing di kelas, hidup itu bukan perlombaan, menjadi sahabat, ketika temanmu cemburu kepadamu, menghadapi pembual, jangan sembunyikan,  bersyukurlah, orang lain juga perlu bantuan, kamu bisa mengatasi rasa cemburu, dan kita adalah ciptaan Tuhan yang istimewa.

Buku ini dibuat untuk membimbing anak-anak untuk menjadi orang baik dan hidup bahagia. Di tengah budaya materialistik, konsumtif dan kompetitif saat ini, membebaskan anak-anak dari rasa cemburu adalah tantangan yang tidak mudah. Dari berbagai iklan media, anak-anak belajar, untuk menjadi anak yang keren, mereka harus mempunyai segala sesuatu yang terbaik seperti dalam iklan. Mulai dari telepon seluler, alat-alat olahraga, video game, dan baju bermerek. Kompetisi di sekolah juga memupuk kecemburuan anak-anak atas teman-temannya. "Melakukan yang terbaik" rasanya tidak cukup lagi karena anak-anak mulai mengukur pencapaian mereka dengan prestasi anak lain.

Kecemburuan merampas kegembiraan mereka dan membuatnya sulit menjalin pertemanan yang baik. Untuk mengatasinya, kita bisa membantu anak-anak memahami keunikan yang dimiliki tiap manusia, sekaligus rasa cemburu yang bisa ditimbulkan. Kita perlu mengajar anak-anak untuk merasa puas dan bangga dengan kemampuan mereka. Cara paling baik untuk mengajarkan adalah dengan memberi contoh, tindakan nyata sehari-hari. Kita bisa mengajak anak untuk bersyukur atas berkat yang kita terima dengan berbagi kepada sesama. Kita tunjukkan cinta dan perhatian yang seimbang kepada anak-anak. Sebagai orang yang bijaksana, kita jadikan rumah, sekolah dan gereja/komunitas kita sebagai tempat yang nyaman, di mana hati terbebas dari kecemburuan, maka kita akan mampu mensyukuri berkat yang kita terima setiap harinya. 


Selasa, 22 Juli 2014

MEMAHAMI APA YANG TUHAN KERJAKAN DALAM HIDUP KITA




Sebuah legenda tua mengisahkan bahwa Tuhan pada mulanya menciptakan burung tanpa sayap. Beberapa saat kemudian, Tuhan membuat sayap dan berkata kepada burung-burung, “Ayo, bawalah beban ini dan jangan berhenti membawanya.” Mulanya sang burung terkejut, namun segera menuruti. Burung-burung tersebut mencoba membawa sayap itu di paruhnya, namun terlalu berat. Kemudian, dicobanya dibawa dengan cakar, namun terlalu besar. Akhirnya salah seekor burung mencoba membawa sayap itu di punggung yang merupakan tempat yang paling tepat untuk diberi beban.

Di luar dugaan burung-burung itu, sayap-sayap tersebut tidak lama kemudian mulai tumbuh dan menyatu dengan tubuhnya. Salah seekor burung mulai mengepakkan sayapnya sementara yang lain mulai mengikutinya. Salah seekor burung dengan segera terbang dan mulai membubung tinggi!
Apa yang semula menjadi beban berat, sekarang telah menjadi alat penting yang memampukan burung untuk pergi ke tempat-tempat yang belum pernah dikunjungi ... dan pada waktu yang bersamaan, mereka benar-benar menggenapi tujuan akhir penciptaan mereka.

Tugas dan tanggung jawab yang kita anggap sebagai beban hari ini mungkin merupakan bagian dari rencana Tuhan bagi hidup kita, suatu sarana untuk mengangkat jiwa kita dan mempersiapkan kita menuju masa depan yang lebih baik dari sekarang. 
 
Sekali waktu mungkin kita merasakan betapa kacau dan ruwetnya persoalan hidup kita, sehingga amat sangat sulit bagi kita untuk meyakini apa yang dikerjakan Tuhan di dalam kehidupan kita. Kita sungguh berharap, agar segala sesuatunya berlancar, dan bebas hambatan. Itulah rencana dan kehendak Tuhan yang kita inginkan terjadi di dalam kehidupan kita. 
Alkitab memperlihatkan kepada kita, bagaimana Tuhan menggunakan berbagai cara yang amat sangat sukar dan bahkan tidak masuk di akal. Sungguh menguras kesabaran, keuletan dan ketekunan orang untuk mentaati dan mematuhi apa yang menjadi kehendak Tuhan di dalam kehidupannya.

Dalam Mazmur 105:4-7, Firman Tuhan berkata, “Carilah TUHAN dan kekuatan-Nya, carilah wajah-Nya selalu! Ingatlah perbuatan-perbuatan ajaib yang dilakukan-Nya, mujizat-mujizat-Ny dan penghukuman-penghukuman yang diucapkan-Nya, hai anak cucu Abraham, hamba-Nya, hai anak-anak Yakub, orang-orang pilihan-Nya! Dialah TUHAN, Allah kita, di seluruh bumi berlaku penghukuman-Nya.” Kiranya kasih Allah dalam Kristus Yesus selalu menjadi topangan yang meneguhkan dan menguatkan kita dalam menghadapi keras dan kejamnya hidup ini.



SABAR, TUIHAN BELUM SELESAI MENCIPTAKAN AKU!"

Angel adalah seorang gadis remaja, berusia sekitar 14 tahun ...
Ia merasa kesal, karena apa saja yang dilakukannya mendapat kritikan dan celaan dari orangtua mau pun gurunya. Setiap hari, baik ayah mau pun ibunya selalu mencari-cari kekurangan dan kelemahan yang diperbuat Angel di rumah atau pun di ruang belajarnya. Begitu pula, ketika Angel berada di Kelas ... Setiap hari, gurunya selalu saja menemukan hal-hal yang kurang pada diri Angel. Entah penampilannya, ataukah pekerjaan rumahnya dan sebagainya.
 
Akhirnya ia membuat sebuah tulisan di karton dan di kalungkan di dadanya, "Sabar! Tuhan belum selesai menciptakan aku!"
 
Tidak ada seorang pun yang hidup tanpa menjalani "proses menjadi." Ketika aku masih berada di bangku Taman Kanak-Kanak, aku belajar untuk merapihkan tempat tidur dan mengenakan baju sendiri ... Perlahan, namun pasti! Sesudah di bangku SD, aku secara bertahap kita belajar untuk merapihkan meja belajar dan lemari buku. Selanjutnya, di bangku SMP aku belajar untuk memahami jati diri kita yang tiba-tiba bertumbuh dengan sangat pesat, yang membuat aku kerapkali merasa cangung dengan diriku ..
 
Untuk itu aku membutuhkan waktu, ketekunan, dan kesabaran. Bukankah bunga yang masih kuncup tidak boleh dipaksa untuk segera mekar? Jika setiap kelopaknya dipaksa mekar oleh tangan kita, maka bunga itu justru akan terluka dan rusak.
 
Namun adakah yang akan memahami diriku, bahwa Tuhan masih belum selesai menciptakan aku ?! Mengapa begitu sulit untuk memahami bahwa Tuhan masih berproses dalam diriku?