Halaman

Jumat, 27 Maret 2015

"WE DON'T GET A CHANCE TO DO THAT MANY THINGS ..."


Posting ini dibuat untuk mengenang moment terbaik dalam hidup saya, ketika Tuhan mempercayakan saya untuk melayani sebagai Pendeta Tugas Khusus di sebuah Lembaga Pendidikan Kristiani yang cukup bergengsi di Jabodetabek (2009-2012). Menjadi Pendeta Sekolah dan sekaligus Kepala Bagian, bukanlah suatu hal yang mudah untuk dilakukan. Saya masuk dengan hati gembira, tetapi juga dengan rasa takut dan gentar. Ada banyak "rumor" yang saya dapatkan tentang penolakan dan tantangan yang harus saya hadapi di lapangan. Tampaknya gereja-gereja dan lembaga-lembaga pendidikan kita tidak steril dari dari "resistensi/sikap menolak (terhadap orang-orang tertentu yang berada diluar pagar) sekali pun mereka belum pernah duduk dan bekerja sama dalam sebuah kelompok. 

Dalam perjalanan hidup saya, Tuhan sering memberikan kejutan yang tak terduga. Itulah cara yang dipakai Tuhan untuk mendewasakan dan memurnikan panggilan hidup saya. Jalan hidup yang saya lalui tidak selalu mudah, mulus dan rata. Ada kalanya, bahkan seringkali, saya berada di lembah dan jurang yang sangat dalam. Namun Dia selalu menemani saya dan memberikan keberanian kepada saya untuk melanjutkan perjalanan dan menemukan kasih Tuhan. Tiga tahun tanpa terasa telah berlalu ... Ada suka dan duka, gelak tawa, dan derai air mata, kesedihan dan keceriaan. Ternyata hal yang tersulit dalam hidup ini, bukanlah untuk melampaui orang lain, tetapi melampaui ego dan diri kita sendiri. Saya tiba pada kesadaran, bahwa saya tidak akan pernah berhasil jika saya hanya memperbaiki hal yang di luar, dengan konflik yang terus menerus terjadi di dalam (Bukankah perubahan kerapkali membuat banyak orang merasa kurang nyaman, dan yang lebih menyedihkan adalah bila Anda berjuang seorang diri melawan arus yang mendominasi lapangan?). Akhirnya saya memutuskan untuk tidak melanjutkan pelayanan saya ... Di sinilah saya belajar tentang kasih, pengampunan, keikhlasan, ketulusan, dan kemurahan hati karena saya yakin Tuhan menaruh saya di tempat itu bukan karena "kebetulan" dan juga bukan "kecelakaan," tapi karena ada maksud Tuhan yang lebih indah dalam kehidupan saya.




Pengalaman hidup saya sebenarnya dibentuk oleh Tuhan melalui kesukaran, tantangan dan air mata. Masa kecil saya sulit, karena ayah saya memiliki delapan anak, membiayai Ibunya dan menyekolahkan adik-adiknya. Hidup kami pas-pasan, dan Papa menggembleng saya, adik dan kakak saya untuk kerja keras, berusaha dan terus  belajar. Kalau tidak, saya tidak akan bisa makan dan sekolah. Setiap libur kenaikan kelas, ayah saya menyediakan satu lemari buku kepahlawanan (waktu itu serial Old Shaterhand and Winnetou) untuk saya baca. Hasilnya, profile saya, jadi seperti ini. Lebih dekat dengan buku dan introvert. Saya bertumbuh kembang menjadi seorang pribadi yang senang belajar dan membaca. Tidak cukup banyak waktu yang saya miliki untuk berkumpul (hangout) bersama dengan teman-teman. Saya kuliah sambil bekerja, sebagai Guru Pendidikan Agama Kristen, Guru Sejarah dan Guru Geografi di salah satu sekolah swasta di Jakarta. Namun hobby belajar dan membaca masih terus terbawa, hingga saya berkeluarga dan bahkan menjadi seorang Pendeta. Saya bersyukur kepada Tuhan, yang mengijinkan saya untuk melanjutkan studi hingga Pascasarjana, sekali pun studi ini pada awalnya adalah sebuah kecelakaan (atas permintaan Lembaga, namun kemudian mengingkarinya, dan lepas tangan). Namun Tuhan mengubah kecelakaan itu menjadi anugerah dan berkat, karena saya mendapatkan sponsor dan dukungan dari sepasang suami dan istri yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan dalam hidup mereka.

Di penghujung pelayanan saya sebagai seorang Pendeta, saya bersyukur kepada Tuhan untuk semua suka dan duka serta manis dan pahitnya dunia pelayanan dan pendidikan, yang menempa dan membentuk saya. Saya berdoa dan berharap, agar Tuhan berkenan memakai saya untuk terus melanjutkan pekerjaan-Nya dalam bentuk yang berbeda. Bukankah ladang Tuhan seluas dunia ini? Mengapa kita memagarinya hanya dalam ruang lingkup lembaga atau institusi, yang pada akhirnya hanya akan memadamkan kreativitas dan sukacita kita dalam melayani Tuhan dan sesama? Saya berdoa agar Tuhan Yang Mahabaik memberikan kepada saya, hati yang penuh dengan belas kasih dan tangan yang siap untuk merangkul, sehingga setiap orang yang saya jumpai dapat merasakan tuntunan, sapaan dan didikan Tuhan yang penuh dengan kasih melalui kehidupan mereka. Semoga! Saya jadi ingat apa yang dikatakan oleh Steve Jobs, "We don't get a chance to do that many things, and every one should be really excellent. Because this our life. Life is brief, and then you die, you know? And we'all chosen to do this with our lives. So it better be damn good. It better be worth it." 

Senin, 23 Maret 2015

APA ITU KEBUDAYAAN?

APA ITU KEBUDAYAAN?

Kebudayaan merupakan sebuah system arti dan makna yang tercipta secara historis, yang mewujud dalam pada satu system keyakinan dan praktek, yang mengatur dan menstrukturkan kehidupan individual dan kolektif manusia. Dengan demikian istilah kebudayaan selalu merujuk pada keyakinan-keyakinan dan praktek.
Kebudayaan juga merupakan sebuah cara, baik untuk memahami maupun untuk mengorganisasikan kurang lebih keseluruhan kehidupan manusia. Istilah budaya bisnis,  budaya obat, dan moral, politis, akademis atau seksual mengacu pada lembaga kepercayaan dan praktek yang mengatur bidang kehidupan manusia yang relevan, termasuk cara bagaimana budaya-budaya ini dikonsptualisasikan, dibatasi, distrukturkan, dan diatur.

Istilah kebudayaan “kita” bukan mengacu pada salah satu kebudayaan yang di dalamnya kita dilahirkan, karena kita berpindah atau mengadopsi dan dibesarkan dalam kebudayaan lain, tetapi kebudayaan yang digunakan untuk memahami dan mengorganisasikan kehidupan kolektif dan individual kita. Kebudayaan “kita” adalah kebudayaan yang kita diami, yang telah membentuk kita, dan yang kita manfaatkan untuk mengidentifikasi, dan kita mengakuinya sebagai anggota dari komunitas budaya yang berbagi bersama kepercayaannya dan berpartisipasi dalam prakteknya.



KOMUNITAS BUDAYA
Komunitas budaya merupakan sebuah kumpulan masyarakat yang berbagi pengetahuan, kepercayaan, agama dsbnya, yang bersatu menurut budaya yang sama. Walaupun  budaya lain memberi pengaruh dan memberi banyak kesenangan, namun tidak menjadi bagian dari kebudayaan kolektif mereka.

Dilahirkan dan dibesarkan dalam komunitas budaya berarti dipengaruhi secara mendalam oleh isi kebudayaan dan dasar komunalnya. Manusia dilahirkan dengan kumpulan kapasitas dan tendensi dan ditransformasikan secara perlahan oleh kebudayaan mereka ke dalam pribadi-pribadi rasional dan bermoral, dan kebudayaan membentuk dan menstrukturkan kepribadian mereka. Anggota komunitas budaya belajar untuk melihat dunia dengan cara yang khusus mengindividuasikan dan memberikan arti dan makna tertentu pada aktivitas dan hubungan manusia, dan untuk melangsungkan aktivitas dan hubungan manusia menurut norma-norma tertentu (=memberikan isi atau identitas kepadanya). Sebab itu Identitas dan identifikasi terkait erat dengan kebudayaan. Seseorang teridentifikasi sebagai laki-laki atau perempuan karena memiliki identitas yang sama dengan mereka, dan identifikasi seseorang memberikan sebuah dasar social, kekuatan emosi dan ukuran stabilitas serta obyektivitas pada identitas tersebut.

Meskipun manusia dibentuk oleh kebudayaan mereka, mereka tidak dibentuk atau ditentukan oleh kebudayaan, dalam pengertian tidak mampu memberikan pandangan kritis atau menonjolkan keyakinan dan aktivitas yang mendasar serta menggapai kebudayaan-kebudayaan lain. Determinisme budaya masuk akal hanya jika kita mengasumsikan bahwa kebudayaan merupakan suatu keseluruhan yang melekat dan keutuhan terstruktur yang dengan erat tidak terpengaruh oleh apa pun di luarnya, dan bahwa individu merupakan materi pasif dan liat yang tidak berpikir mandiri. Kebudayaan tidak hidup dengan sendirinya. Kebudayaan  terikat menjadi satu dan dipengaruhi oleh susunan ekonomi dan politik, tingkat perkembangan tehnologi, dsb yang dijalankan oleh masyarakat.



ARTIKULASI KEBUDAYAAN
Kebudayaan diartikulasikan dalam beberapa level. Pada level paling dasar budaya direfleksikan dalam bahasa, termasuk cara-cara sintaksisnya, tata bahasa dan kosa kata dalam membagi dan mendeskripsikan dunia. Kebudayaan juga ditanamkan dalam peribahasa, pepatah, mitos, ritual, symbol, memori kolektif, lelucon, bahasa tubuh, model komunikasi non-linguistik, adat, tradisi, institusi dan cara bertegur sapa. Pada level yang sedikit berbeda, budaya ditanamkan dalam literature seni, music, karya sastra lisan dan tulisan, kehidupan moral, cita-cita, dll. Dalam struktur dan tatanan kehidupan manusia, budaya juga diartikulasikan dalam peraturan-peraturan dan norma-norma yang mengatur hubungan social dan aktivitas dasar seperti bagaimana, di mana, kapan dan dengan siapa orang bergaul dan bercinta, bagaimana orang berkabung ddan melupakan kematian, dan memperlakukan orang tua, anak, istri, tetangga-tetangga dan orang asing.

Setiap kebudayaan berkembang sepanjang waktu, karena itu kebudayaan tetap menjadi keseluruhan yang kompleks dan tidak tersistematisasikan. Setiap budaya berubah secara internal, berbicara dalam sejumlah bahasa, dan rentangan kemungkinan interpretatifnya sering tidak menentukan.

KEBUDAYAAN DAN MASYARAKAT
Kebudayaan dan masyarakat tidak terpisahkan dalam pengertian bahwa tidak ada masyarakat tanpa budaya atau pun budaya yang tidak berhubungan dengan beberapa masyarakat, namun keduanya memiliki focus dan orientasi yang berbeda. Pada umumnya masyarakat mengacu pada kelompok manusia dan struktur hubungan di dalamnya di mana kebudayaan mengacu pada isi dan prinsip-prinsip pengorganisasian dan pengesahan hubungan tersebut.
Masyarakat terutama berhubungan dengan struktur pratek dan dengan mengandalkan keyakinan budayanya, masyarakat juga memiliki system sanksinya sendiri dalam bentuk pengasingan, pencabutan status social dan bermacam-macam kritik yang mereka andalkan untuk menegakkan praktek kebudayaan. Contohnya, praktek monogami, ditanamkan dalam arti dan makna yang ditetapkan oleh kebudayaan kita menyangkut masalah perkawinan dan hubungan jender. Manusia mungkin mengikuti monogamy karena berbagi dan menghormati kepercayaan tersebut, dank arena tidak ingin tampak aneh, mengundang perhatian yang bermusuhan atau menghadap cemooh dari para sahabat dan orang tuanya. Dalam hal perkawinan, orang mengikuti aturan tersebut karena alasan budaya; dalam hal hubungan antar gender orang melepaskan arti budaya, memandangnya sebagai praktek social daripada praktek budaya, dan mengikutinya karena alasan sosial.


KEBUDAYAAN DAN AGAMA
Kebudayaan berkaitan dengan arti dan makna tentang aktivitas dan relasi manusia, dan karena ini menjadi perhatian sentral bagi agama, keduanya cenderung terkait erat. Hampir tidak ada budaya yang dalam penciptaan, penyusunan dan keberlangsungannya, agama belum memainkan peranan penting sehingga kita bisa memiliki beberapa contoh dalam kebudayaan kaum humanis atau sekuler secara keseluruhan. Walau tampaknya memberi sifat seperti halnya kebudayaan, modernitas dalam kenyataannya mewarisi dan dibentuk secara mendalam oleh nilai-nilai, kepercayaan, dan mitos agama Kristen.
Baik peran agama maupun kebudayaan berbeda. Tidak ada kebudayaan yang dapat diperoleh seluruhnya dari agama, betapa pun detailnya, karena agama tidak pernah meliputi semua bidang kehidupan manusia dan mengantisipasi semua situasi. Hampir tidak ada agama mengatakan kepada para pengikutnya tentang bagaimana cara makan, berpakaian, berbicara, duduk, tidur, menggosok gigi, atau  bercinta. Kendati mungkin menetapkan bermacam-macam norma umum seperti menghormati orang tua, agama tidak mengatakan kepada para pemeluknya apakah penghormatan itu meliputi penahanan diri untuk tidak merokok di tengah-tengah kehadiran orang tua atau tetap duduk ketika orang tua sedang berdiri.

Kebudayaan dan agama mempengaruhi satu sama lain pada berbagai level. Agama membentuk system kepercayaan dan praktek pada satu kebudayaan, ketika para individu atau komunitas berpindah pada agama lain, cara berpikir dan hidup mereka mengalami perubahan penting. Pda bagian-bagiannya, kebudayaan mempengaruhi bagaimana agama diinterpretasikan, ritual dilakukan, tempatnya ditetapkan dalam kehidupan masyarakat, dan sebagainya.  Contohnya ; bentuk Kristianitas orang Cina, Mesir, Amerika dan Indonesia. Tidak ada agama dapat bebas dari kebudayaan, dan kehendak mulia tidak bisa memperoleh arti manusia yang sudah tetap tanpa mediasi budaya. Kristus itu ilahi tetapi kristianitas adalah fenomena budaya.

Tidak ada kebudayaan yang dapat secara eksklusif didasarkan pada agama, kebudayaan dapat dibentuk oleh agama dengan derajat dan cara yang berbeda. Beberapa kebudayaan pada dasarnya berasal dari agama dan sangat bergantung pada agama, namun di tempat lain, agama hanya merupakan salah satu sumber pengaruh dan terus menerus ditantang oleh pengaruh sains, moralitas sekuler dan akal budi kritis.

Kita dapat mengabstrasikan dasar budaya sebuah praktek dan mengikutinya untuk alasan social semata. Kita dapat memisahkan basis religious dan mengikuti atau menghormati alasan budaya atau bahkan secara eksklusif alasan social. Contohnya : orang-orang pergi ke gereja karena percaya pada Tuhan sebagai bagian dari komitmen religiusnya, atau karena hal itu bersifat integral denga budaya, dan menjaga kelangsungan komunitas budayanya, atau untuk meningkatkan status sosialnya. Orang merayakan Natal karena makna religious yang dalam, atau karena perayaan Natal merepresentasikan momen budaya penting dalam sejarah seseorang, atau karena perayaan ini merupakan jalan lain untuk mempertegas keanggotaan dalam masyarakat atau bukan untuk menarik perhatian.
Menjadi bagian dari komunitas budaya membuat kita mengikuti variasi dan tidak menjadi homogen secara alamiah. Keanggotaan satu komunitas budaya dengan demikian bervariasi dalam jenis dan tingkat. Individu mengalami konflik budaya ketika mereka menganut atau hidup dengan dua system arti dan makna yang berbeda, entah secara keseluruhan ataupun sebagian.



DINAMIKA KEBUDAYAAN
Tidak ada budaya yang bebas dari persaingan dan perubahan. Konflik kelas,  gender, generasi dan konflik lainnya mewabah dalam semua masyarakat dan berusaha menemukan ekspresi budaya yang sesuai sudut pandang  pengetahuan dan situasi yang baru. Setiap anggota komunitas budaya  tidak dapat menghindari merentangnya batas system praktek dan kepercayaan yang berlaku dan membuka kemungkinan interpretasi baru. Kebudayaan, dengan demikian, bukan merupakan warisan pasif, tapi satu proses aktif dalam menciptakan arti (bukan yang diberikan) tetapi secara konstan diartikan dan disusun ulang (=media kreativitas).

Kebudayaan masyarakat juga berubah sebagai tanggapan terhadap beberapa factor lain, seperti tehnologi, perang, dan bahkan bencana alam, sering dengan suatu cara yang tidak dipahami atau tidak dimengerti oleh masyarakat tersebut.

(Disarikan dari Pareh, Bikhu. Rethinking Multiculturalism, Cultural Diversity and Political Theory. Yogyakarta: Kanisius, 2008)


Bamboo Bridge Press


VISI

Menjadi perusahaan penerbitan yang inspiratif,  inovatif dan profesional


Buku Every Moment, Inspired Living, Pendidikan Kristiani Multikultural


Kamis, 12 Maret 2015

Every Action Counts!


Every Action Counts!
Sometimes it's the smallest things in life that can have the biggest impact
So take the lead and BE the person you would like to meet
Greet your co-workers warmly, complement someone, smile at a supermarket cashier, write a thank you letter etc
Just don't wait around for someone else to seize the initiative ...
As you might be left waiting!
"Not all of us can do great things.
But we can do small things with great love.”
― Mother Teresa


(Sumber: Noel Lyons)

KENAPA HARUS SAYA?






Arthur Ashe, pemain Wimbledon legendaris sekarat karena AIDS yg berasal dari darah yg terinfeksi virus ketika operasi jantung pada 1983.

Dia menerima surat dari para penggemarnya, salah satu dari mereka ada yg menyampaikan:  "Mengapa Tuhan memilih Anda untuk mendapatkan penyakit yg buruk seperti ini??"

Lima puluh juta anak mulai bermain tenis,  Lima juta dari mereka belajar bagaimana bermain tenis, Lima ratus ribu belajar tenis secara profesional,  Lima puluh ribu bertanding dalam turnamen,  Lima ribu mencapai Grand Slam,  Lima puluh mencapai Wimbledon, Empat mencapai semifinal, Dua mencapai final dan ketika saya menggenggam pialanya, saya tak pernah bertanya pada Tuhan, "Kenapa (harus) saya?"

Cobaan membuatmu kuat. Kesedihan membuatmu tetap menjadi manusia. Kegagalan membuatmu tetap rendah hati. Kesuksesan membuatmu tetap berpijar. Namun, hanya iman yg membuatmu tetap melangkah.

Nikmatilah hidupmu. Tapi? Hanya anak2 miskinlah yg melakukannya. Tapi? Hanya mereka yg hidup sederhana yg bisa tidur nyenyak. Berjalanlah dengan rendah hati. Dan mencintailah dengan tulus
(Sumber: Unknown)

Terhadapnya, Arthur Ashe menjawab:Jadi ketika sekarang saya sakit, bagaimana bisa saya menanyakan kepada Tuhan, "Kenapa (harus) saya?"

Kebahagiaan membuatmu tetap manis.Layak dibagikan:Kadang engkau merasa tidak puas terhadap kehidupanmu sementara banyak orang di dunia ini memimpikan bisa hidup sepertimu.Anak kecil di ladang memandang pesawat terbang di atasnya, dan memimpikan bisa terbang, tetapi sang pilot di pesawat itu memandang ladang di bawahnya dan memimpikan bisa pulang ke rumah.Begitulah hidup.Jika kekayaan adalah rahasia kebahagiaan, tentu orang-orang kaya akan menari-nari di jalanan. Jika kekuatan memang menjamin keamanan, tentu orang-orang penting akan berjalan tanpa pengawalan. Jika kecantikan dan kepopuleran memang membawa kita pada hubungan yang ideal, tentu para selebriti pasti punya perkawinan yg terbaik.Hiduplah sederhana...

KASIH ADALAH ANUGERAH TUHAN YANG TERINDAH



Kasih merupakan anugerah Tuhan yang terindah Kasih membuat hidup tetap mempersona dan berwarna,  walau pun penuh dengan duri Ia menyapu gelapnya hidup hanya dengan kedipan mata Keindahan kasih tak pernah sirna terhapus derita yang mungkintelah mengacaukan kehidupan ...Di dalam gelapnya kehidupan, kasih senantiasa hadir memberi terangKekuatan Kasih bukan seperti banjir yang melanda kota Jakarta, tetapi seperti air sungai yang senantiasa mengalir tiada hentiKedasyatan Kasih bagaikan angin sepoi-sepoi yang berhembus memasuki relung hati dan jiwa ...

Saya menemukan puisi tentang kasih ini, ketika saya merenungkan kehidupan dan pelayanan saya, yang genap dua puluh lima tahun pada hari ini (21 Februari 1991-21 Februari 2016). Saya bukan malaikat, hanya manusia biasa yang berupaya tetap setia guna memenuhi panggilan-Nya dalam kehidupan saya.


Maryam Kurniawati D.Min (Diracik dari berbagai sumber, salah satunya katolisitas.org/10342/puisi kasih)

DAMAI YANG HILANG



By Pdt. Maryam Kurniawati D.Min

Semua orang pasti pernah marah. Jika Anda termasuk orang yang gampang marah dan kesal, hati-hati! Mengapa? Pertama,karena kemarahan adalah emosi yang negatif, yang dapat membuat Anda sakit kepala dan kehilangan damai sejahtera.

Kemarahan memiliki spektrum yang berbeda, mulai dari frustrasi ringan, hingga kemarahan yang meluap-luap. Menurut para ahli, kemarahan tidak hanya akan mempengaruhi emosi saja, tetapi kemarahan juga mempengaruhi otak Anda. Bagian dari otak yang akan merespon di bagian otak ketika Anda marah adalah amigdala. Amigdala merespons emosi dan naluri yang terkait dengan rasa takut, stres, dan perasaan terancam.

Ketika Anda marah, darah akan mengalir langsung ke korteks frontal dan mengurangi kemampuan Anda untuk berpikir dan bertindak secara rasional. Hasilnya bisa menguntungkan, tetapi juga bisa merugikan Anda. Sebab itu ketika marah, banyak orang bertindak tidak rasional dan akhirnya menyesal..




Kemarahan akan membuat kelenjar adrenal memproduksi hormon adrenalin dan stres, yaitu kortisol. Kemudian darah yang biasanya mengalir ke lambung dan usus akan mengubah arah ke otot dan mempersiapkan tubuh Anda untuk melawan. Hal itu menyebabkan Anda bisa melakukan hal-hal yang tidak masuk di akal dan di luar kemampuan fisik ketika Anda marah. Ketika Anda marah, tekanan darah, suhu tubuh, pernafasan, denyut jantung juga akan meningkat serta pupil mata melebar. Jika Anda sering marah dan kesal, dalam jangka panjang hal ini merusak jantung dan kesehatan mental Anda.

Peristiwa kebangkitan Lazarus (Yohanes 11:45-57) menimbulkan kemarahan dalam diri orang-orang Farisi. Orang-orang Farisi merasa tersinggung, kesal, marah dan sakit hati kepada Tuhan Yesus, karena dianggap telah menyimpang dari kaidah-kaidah/norma-norma agama Yahudi. Popularitas mereka langsung terjun payung, dan mereka merasa tidak damai sejahtera karena orang banyak lebih percaya kepada Tuhan Yesus. Ujung-ujungnya, mereka berusaha untuk menyingkirkan Tuhan Yesus dengan menghalalkan segala cara, seperti menggunakan wibawa Mahkamah Agama. Namun Tuhan Yesus tidak merespon secara negatif kemarahan dan kekesalan mereka. Ia mengupayakan jalan tengah, yaitu jalan damai serta meredam kemarahan dengan pergi ke suatu tempat.

Setiap orang bisa saja tersinggung, kesal dan marah. Salah satu peyebabnya adalah pikiran negatif tentang orang lain. Salah duga dan buruk sangka kerapkali membuat seseorang tidak hanya kehilangan damai sejahtera tetapi juga bersikap kejam dan jahat karena ia mencari sasaran kemarahan. Akibatnya, orang lain juga merasa tidak damai sejahtera. Sekarang ini banyak sekali alasan yang membuat orang menjadi tersinggung, marah dan sakit hati serta menjadi pemarah. Tuhan Yesus mengajar kita untuk berpikir positif bukan negatif. Mencari hikmah dibalik semua masalah, meredam kemarahan serta mengupayakan jalan damai akan menolong kita tidak kehilangan kontrol serta damai sejahtera. Berdamai dengan Tuhan, berdamai dengan sesama dan berdamai dengan diri sendiri adalah solusi yang terbaik (Kebaktian Remaja GKI Cicurug, 22 Februari 2015)