Halaman

Jumat, 29 Juli 2016

ZIARAH SPIRITUAL





“Ziarah Spiritual” pertama-tama muncul dengan kuat dalam tradisi budaya Yahudi-Hellenistik, ketika orang-orang Kristiani mempunyai pengalaman sebagai “orang asing” dan sebagai minoritas yang teraniaya, yang bergulat untuk mengidentifikasikan dirinya di tengah kekuatan tradisi-tradisi religius dan budaya yang dominan pada saat itu.

“Ziarah Spiritual” membawa mereka keluar dari asal-usul mereka, dan membangun relasi dengan tradisi-tradisi agama-agama lainnya, mengalami transformasi, untuk menggali lebih penuh realitas tradisi-tradisi agama-agama lainnya tanpa kehilangan jati diri dan perspektif teologis mereka.

Ziarah spiritual juga akan menolong kita untuk memahami asal usul kita, dan siapakah kita yang sebenarnya guna membangun relasi yang baik dengan tradisi-tradisi agama lainnya, tanpa kehilangan jati diri dan perspektif teologis kita ...



Sabtu, 16 Juli 2016

Yesus dan orang-orang Farisi. Motif Yesus adalah Kasih.


Lalu keluarlah orang-orang Farisi itu dan membuat rencana untuk membunuh Dia. Tetapi Yesus mengetahui maksud mereka lalu menyingkir dari sana.
Banyak orang mengikuti Yesus dan Ia menyembuhkan mereka semuanya. Ia dengan keras melarang mereka memberitahukan siapa Dia, supaya digenapi firman yang disampaikan oleh Nabi Yesaya, “Lihatlah, itu Hamba-Ku yang Kupilih, yang Kukasihi, yang kepada-Nya jiwa-Ku berkenan; Aku akan menaruh roh-Ku ke atas-Nya dan Ia akan menyatakan keadilan kepada bangsa-bangsa. Ia tidak akan berbantah dan tidak akan berteriak dan orang tidak akan mendengar suara-Nya di jalan-jalan. Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan-Nya, sampai Ia menjadikan hukum itu menang. Dan pada-Nyalah bangsa-bangsa akan berharap.” (Mat 12:14-21) 
Selama hidupnya di dunia, kehadiran Yesus kerapkali menimbulkan pertentangan dan penolakan dari sejumlah orang Farisi. Mengapa begitu? Pada hari Sabat, Yesus menyembuhkan seseorang yang tangannya lumpuh sebelah di dekat Synagoge, dan tindakan Yesus itu akhirnya membuat mereka berencana untuk membunuh dia (Matius 12:9-13).
Injil Matius menceritakan kepada kita, bahwa Yesus mengetahui niat jahat orang-orang Farisi itu, lalu Dia menyingkir dari sana  tanpa mampu disentuh sedikit pun oleh orang-orang jahat itu. Yesus berpindah ke tempat yang lain, dan melanjutkan perbuatan baik-Nya; menyembuhkan orang dari sakit penyakit dengan segala mukjizat dan tanda heran yang mengiringinya. Semua itu dilakukan Yesus karena Dia sangat mengasihi umat-Nya. Yesus tidak membiarkan ancaman-ancaman terhadap diri-Nya melumpuhkan diri-Nya dengan rasa takut dan juga melumpuhkan pelayanan-Nya guna menyembuhkan, mengampuni dan mengubah jiwa-jiwa yang terluka.
Yesus melakukan semua tindakan kebaikan itu bukan lah untuk pencitraan diri-Nya sebagai Mesias yang kedatangan-Nya dinanti-nantikan oleh umat, atau untuk tebar pesona dan sejenisnya. Khotbah-khotbah-Nya mengenai Kerajaan Allah bukanlah sekadar “pepesan kosong.” Dia hanya ingin setiap orang menjadi percaya kepada-Nya, dan melalui diri-Nya percaya kepada kasih Bapa kepada mereka. Sebaliknya, para lawan Yesus tidak sedikitpun berhasil memperoleh petunjuk tentang motif sejati di belakang segala mukjizat dan tanda heran lainnya yang diperbuat oleh Yesus. Nah apakah sebenarnya motif Yesus itu? Sederhana saja: KASIH!! Sebuah pesan yang sangat sederhana, namun mengiring diri-Nya kepada kesengsaraan dan kematian-Nya di atas kayu salib, dengan tujuan supaya “Ia hukum/keadilan itu menang” (Matius 12:20). Yesus menunjukkan dengan jelas, bagaimana Allah itu dapat dipercaya. Melalui teladan hidup-Nya, Yesus menunjukkan bagaimana seharusnya kita menyerahkan diri kita kepada Bapa Sorgawi setiap hari. Ancaman apa pun yang dihadapi-Nya, dan kelelahan badani bagaimana pun yang dialami-Nya, Yesus sepenuhnya menggantungkan diri-Nya kepada Bapa. Kita juga dapat mempunyai pengharapan dan menaruh kepercayaan kepada Allah, sumber segala kebaikan itu. Dengan cara seperti ini, kita akan dapat melihat “keajaiban-keajaiban Tuhan” yang terjadi atas hidup kita. Betapa pun mengagumkannya segala mukjizat Yesus, semua itu tidak ada artinya apabila dibandingkan dengan perubahan diri yang kita alami sementara kita menyerahkan hati kita kepada-Nya.
(Disarikan dari Sang Sabda, 12 Juli 2016)
Noted:
Orang-orang Farisi adalah, sebuah kelompok religius di dalam Yudaisme. Mereka perjuangkan pengetahuan yang mendasar tentang Taurat dan tradisi para nenek-moyang (Misna; Talmud). Mereka menuntut penafsiran yang paling keras, terutama tentang soal-soal yang berhubungan dengan Sabat, kebersihan rituil (tahir) dan yang berkaitan dengan soal persepuluhan, dan mereka cenderung memandang rendah orang-orang yang bukan Farisi.



Senin, 23 Mei 2016

MERANCANG PEMBELAJARAN YANG AKTIF, INOVATIF, KREATIF DAN MENYENANGKAN



GURU YANG MERANCANG PEMBELAJARAN
YANG AKTIF, INOVATIF, KREATIF DAN MENYENANGKAN

Maryam Kurniawati D.Min

Pengantar
            "Apa pun pekerjaan kita, jika ditekuni dengan maksimal, akan berbuah manis bagi diri sendiri dan orang lain." Demikian prinsip yang selalu memotivasi Niken Kencono (30), seorang guru di SMK Yudha Karya, Magelang, Jawa Tengah untuk berprestasi dan berkarya hingga diakui di tingkat nasional.[1]

            Bagi Niken, menjadi seorang guru bukanlah cita-citanya sejak kecil. Dulu ia bercita-cita ingin menjadi seorang dokter. Bahkan sempat diterima di Fakultas Kedokteran sebuah universitas ternama. Namun karena keterbatasan ekonomi orangtuanya, Niken pun akhirnya kuliah di Universitas Negeri Tidar Magelang, jurusan Bahasa Inggris pada tahun 2004. Sambil kuliah, ia mengajar di SD Muhammadiyah 2 Magelang hingga saat ini, ketika ia sedang menyelesaikan pendidikan S-2 di UST Yogyakarta.

            "Saya ingat pesan Ibu. Tidak perlu malu apa pun profesi kita, yang penting bekerja secara maksimal, maka akan berbuah manis bagi diri kita dan orang lain. Bekerjalah dengan ikhlas, biarkan Tuhan yang menghitungnya," ujar Niken.

            Niken mendapat penghargaan Best Practise Teacher 2014 dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, berkat inovasinya dalam menciptakan pembelajaran Bahasa Inggris dengan metode yang sederhana, menyenangkan, dan mudah diingat oleh siswa. Niken menyebut metodenya dengan "Tepuk Tangan Keledai Cerdik."[2]

            Gagasan atau ide metode tersebut tercetus karena pengalaman pribadinya, bahwa ia selalu merasa kesulitan jika belajar Bahasa Inggris. Selama ini pelajaran bahasa asing itu menjadi momok yang menakutkan sehingga siswa menjadi malas untuk belajar.

            "Saya tidak ingin anak-anak didik saya takut dengan Bahasa Inggris. Saya mulai berpikir, hingga terciptalah metode Tepuk Tangan Keledai cerdik pada tahun 2011. Metode ini memudahkan siswa menjawab soal-soal dengan sebuah trik sederhana," ujar Ibu empat putra itu. Sementara itu metode "Tepuk Tangan Keledai cerdik," lanjut Niken merupakan pengembangan dari metode sebelumnya, yakni penerapan metode "Keledai cerdik" yang disertai dengan tepuk tangan. Metode ini pun ia peroleh dengan berimajinasi saat bersantai di rumahnya yang terletak di Jalan Ketepeng 3, Kampung Trunan, Magelang Selatan.

            "Saya berimajinasi dan iseng-iseng saja, bagaimana membuat metode belajar yang asyik dan menyenangkan bagi siswa. Awalnya, saya praktikkan kepada anak saya yang masih SD, ternyata dia bisa menjawab soal-soal Bahasa Inggris dengan benar. Kemudian saya memberanikan diri untuk saya terapkan kepada siswa-siswa di SMK Yudha Karya setahun yang lalu," kata Niken.

            "Respon siswa beragam ketika metode tersebut diperkenalkan, bahkan ada yang menganggap metode tersebut seperti cara belajar anak Taman Kanak-kanak (TK). Namun lambat laun, siswa justru menyukainya," ucap Niken. Selain menyenangkan, metode "Tepuk Tangan Keledai cerdik" sangat mudah diingat dan effektif untuk menjawab soal-soal Bahasa Inggris dan mata pelajaran lainnya.[3]

            "Sekarang siswa tidak perlu bersusah-payah menghafal rumus grammar Bahasa Inggris yang panjang dan banyak. Hanya dengan tepuk tangan saja, mereka bisa menjawab soal dengan cepat dan benar," kata Niken sambil memeragakan cara "Bertepuk Tangan Keledai cerdik" tersebut. Menurut NIken, tepuk tangan ternyata memiliki manfaat luar biasa. Tepuk tangan yang benar dapat membuka dan menghubungkan ribuan syaraf ke berbagai organ dan otak manusia.

            Ide tepuk tangan itulah yang membuat para juri tercengang. Mereka tidak mengira, bila perempuan kelahiran 24 Agustus 1984 itu mampu menciptakan metode yang sangat berbeda dengan para kontestan lainnya. Padahal hampir semua kontestan yang terdiri dari para guru SMA/SMK/SMAN dari seluruh Indonesia itu mempresentasikan karya yang lebih modern dan "berkelas."

            "Saya sempat ditanya oleh Dewan Juri, mengapa saya menggunakan metode ini untuk siswa SMK. Saya lalu menjawab bahwa saya tidak mungkin mengajarkan siswa-siswa saya yang memiliki kemampuan ekonomi dan kecerdasan menengah ke bawah dengan metode yang rumit dan canggih. Wong menggunakan gadget saja mereka banyak yang belum bisa, apalagi siswa-siswa saya terkenal karena "hobby tawuran. Saya tidak mau mereka tambah terbebani dan stress," ucap guru yang gemar menyanyi ini.

            Selain mendapat penghargaan bergengsi itu, ternyata Niken termasuk perempuan yang memiliki segudang prestasi. Tidak terhitung karya tulis ilmiah dan fiksi yang dibuatnya. Belum lagi prestasi dari berbagai kejuaraan tingkat kota, kabupaten, provinsi, hingga nasional.[4]

            Kisah Niken dengan metodenya "Tepuk Tangan Keledai Cerdik." menginspirasi kita untuk memahami kondisi dan kebutuhan siswa kita yang berbeda-beda (latar belakang suku, ras, agama, budaya dan golongan). Seorang guru yang cerdas dan bijak akan menganalisa apa yang menjadi kekuatan dan kelemahan siswa-siswa yang ada di kelasnya, mencari sumber-sumber (kepustakaan dan non-kepustakaan) yang sesuai dengan program pembelajaran siswa di kelasnya dan merancang pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif dan menyenangkan. Rencana program pembelajaran seperti ini disebut dengan Program Pembelajaran Individual (PPI) atau Individualized Education Program (IEP).
                       

Merancang Model Pembelajaran yang Aktif, Inovatif, Kreatif dan Menyenangkan            
         Untuk membantu peserta didik mengembangkan kemampuan berpikir kritis, konstruktif dan kreatif setiap guru perlu merancang suatu model pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif dan menyenangkan (PAIKEM). Dalam Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 tentang Standard Nasional Pendidikan Pasal 19:1 diamanatkan bahwa Proses pembelajaran pada satuan pendidikan harus diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, dan memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.[5] Di sini guru mempunyai peran sebagai "agen pembelajaran" (learning agent) - sebagai fasilitator, motivator dan pemberi inspirasi bagi peserta didik mereka. Seperti halnya seorang "tour leader" yang membawa kelompoknya untuk mengekspolrasi obyek wisata yang dikunjunginya, demikian pula peran seorang guru di kelas.

            Banyak guru yang lebih fokus pada pencapaian target materi kurikulum dengan mendominasi kegiatan pembelajaran di dalam kelas. Dalam merancang pembelajaran, guru hanya menggunakan "metode instruksional" (dalam bentuk ceramah, menghafalkan konsep dll), dan siswa hanya duduk, mencatat dan mendengarkan apa yang disampaikan guru dan sedikit peluang bagi siswa untuk bertanya dan mendiskusikan materi pembelajaran di kelas. Hasilnya, siswa tidak hanya bersikap pasif, tetapi juga tidak mampu berpikir kritis, konstruktif dan kreatif.

            Pada tahun 2012, saya dan teman-teman dari BPK Penabur Jakarta melakukan studi banding ke tiga sekolah di Singapore. Satu sekolah yang berafiliasi agama dan dua sekolah (SMP dan SMA) yang tidak berafiliasi agama tertentu, namun menjadi nilai "compassion" (belas kasih" sebagai nilai utama yang diintegrasikan di dalam seluruh program dan kegiatan pembelajaran sekolah. Selain melihat design atau konsep pembelajaran yang diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, dan memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, kami diberi kesempatan untuk melihat praktiknya di lapangan, bagaimana interaksi guru dan siswa di kelas dan di lapangan.

            Yang menarik adalah guru yang kreatif membuat pembelajaran di kelas dan di lapangan sekolah menjadi menarik dan disukai oleh para peserta didik. Suasana kelas direncanakan dan dibangun sedemikian rupa, dengan model pembelajaran yang tepat guna sehingga siswa dapat memperoleh kesempatan untuk berinteraksi satu sama lain, bahkan berinteraksi dengan kami sebagai "tamu yang mengunjungi mereka" sehingga pada gilirannya dapat diperoleh prestasi belajar yang optimal.

            Hal ini mengingatkan setiap guru bahwa proses pembelajaran dalam Kurikulum Tingkat satuan Pendidikan menuntut partisipasi aktif dari seluruh siswa, sehingga kegiatan belajar mengajar berpusat kepada siswa, dan guru hanya mengambil peran sebagai fasilitator dan motivator. Peran aktif siswa sangat penting dalam rangka membentuk generasi yang kritis, aktif dan kreatif, guna menghasilkan sesuatu bukan hanya untuk kepentingan dirinya sendiri tetapi juga bermanfaat bagi banyak orang. Selain memilih metode pembelajaran yang mempermudah pemahaman siswa tentang materi yang diberikan dan memilih media yang tepat untuk memperlancar proses pembelajaran, serta menemukan instrumen evaluasi yang tepat untuk mengukur tingkat penguasaan siswa terhadap materi yang diberikan, guru harus menciptakan suasa belajar mengajar yang membuat siswa senang sehingga memusatkan perhatiannya secara penuh untuk belajar secara optimal.





                [1] Ika Fitriana,  "Tepuk Tangan Keledai Cerdik" Bawa Niken Jadi Guru Terbaik di Indonesia," Kompas, Senin, 13 Oktober 2014 diunduh tanggal 2 Juni 2015)
            [2] Ibid.
            [3] Ibid.
            [4] Ibid.
            [5] Hadi Susanto, "Pembelajaran Aktif, Kreatif, Effektif dan Menyenangkan,"  https://bagawanabiyasa.wordpress.com diunduh tanggal 2 Juni 2015

Sabtu, 21 Mei 2016


"Lonely, but not Alone"


Pernah nggak kamu berada di sebuah keramaian 
tapi tetap merasa kesepian? Bahkan mungkin saat itu kamu nggak cuma dengan orang-orang yang nggak kamu kenal, tapi juga sama teman-teman kamu? Di tengah-tengah obrolan di sebuah coffee shop, di sebuah konser, misalnya?


Setiap dari kita pasti pernah merasa kesepian. Yang membuat perbedaan adalah kadarnya,lamanya, penyebabnya dan tentu saja penanganannya. Kebanyakan orang menghindari kesepian karena kesepian berkonotasi negatif, atau paling tidak menimbulkan perasaan tidak menyenangkan..


Seseorang bisa saja memiliki banyak teman dan keluarga, tetapi jauh di dalam hatinya ia tetap merasa sendiri. Penyebabnya, karena merasa tidak dimengerti,tidak didengarkan, atau merasa diperlakukan secara berbeda dari orang lain. Semakin seseorang memikirkan kebahagiaan, rasa kesepian itu pun semakin mendera.

Kesepian tidak dialami orang yang tinggal di puncak gunung atau desa terpencil, karena mereka yang hidup di kota besar yang padat penduduk dan hingar bingar hiburan pun ternyata lebih banyak yang merasa kesepian. Perasaan kesepian jika berkepanjangan bisa menimbulkan berbagai persoalan lanjutan. Problem adaptasi sosial, sulit berteman, suka menyendiri bahkan hambatan akademik yang membuat prestasinya jauh dari optimal, merupakan dampak dari perasaan kesepian panjang yang dialami oleh anak-anak.


Menurut Marano, anak-anak kesepian karena social rejection (diabaikan dan disingkirkan dari lingkungan sosial ataupun keluarga), menjadi salah satu penyebab putus sekolah; karena dalam kesehariannya mereka cenderung menunjukkan perilaku agresif (nakal, suka berkelahi,

merampas/mencuri dll). Di kalangan dewasa, kesepian menjadi penyebab depresi serta adiksi, baik itu adiksi terhadap relationship (co-dependent), sexbelanja (shopaholic), kerja (workaholic), alkohol /minuman keras, maupun obat-obatan terlarang (substant abuse).



Dampak kesepian bagi kesehatan?

John Cacioppo dari University of Chicago meneliti dampak kesepian ini, dan mengatakan:
1.Orang yang kesepian dilaporkan mempunyai tingkat stress yang lebih tinggi, 
bahkan di saat rileks dibandingkan dengan orang-orang yang tidak kesepian.
2. Kesepian meningkatkan sirkulasi hormon stress dan meningkatkan tekanan darah. Pengaruhnya kepada sistem sirkulasi jantung yang bekerja lebih keras dan menghadapi potensi kerusakan akibat “tekanan yang tidak stabil.”
3. Kesepian mengganggu kualitas dan efektivitas tidur sehingga menghambat proses restorasi fisik maupun psikologis yang diperlukan tubuh. Orang-orang yang mengalami kesepian lebih sering terbangun malam hari dan tidur lebih sedikit dibandingkan mereka yang tidak kesepian.

Anak-anak, remaja, orang muda hingga manula, pasti pernah mengalami rasa kesepian. Anak-anak merasa kesepian ketika ditinggal pergi orangtua mereka. Istri/suami yang kesepian karena kehilangan pasangan, akibat kematian atau perpisahan. Seorang gadis atau pemuda kesepian setelah putus dari pacar.
Ibu dan Ayah kesepian karena anak-anaknya tinggal di luar kota. Seseorang bisa kesepian karena sakit, harus tinggal di rumah atau di rumah sakit, serta terisolasi dari teman-teman dan keluarga. Pindah rumah atau pindah sekolah juga bisa menyebabkan kesepian karena tercabut dari komunitasnya dan harus menghadapi komunitas baru.

Menurut James Park, seorang  filsuf beraliran eksistensialis, perasaan kesepian tidak selalu disebabkan oleh kurangnya cinta dan teman, namun karena sering disalahartikan dan tidak dipahami, maka segala jenis kesepian lantas diatasi dengan cara bersosialisasi, pacaran, menikah, dsb yang semua berkaitan dengan interpersonal relationship.

Apa yang harus kita lakukan agar tidak kesepian ?

Melakukan sesuatu, adalah pilihan terbaik. Kita dapat membantu dan menolong orang lain dalam kesesakan hidup mereka. Pilihan selanjutnya adalah mencari teman-teman dengan ketertarikan yang sama (misalnya hobby naik gunung, membentuk group band, dsb). Membuka peluang atau usaha baru,akan memberikan solusi dan tantangan baru yang menarik bagi kita.

Kalau kita membaca kitab Mazmur 22:1-11, Pemazmur juga merasa kesepian,
dan tidak berdaya. Secara mental dan emosional, hatinya hancur lebur.

Dalam kondisi seperti ini, biasanya orang akan mencari seribu satu macam hiburan (dari nongkrong di mall seharian, nonton film di XXI, ngopi bareng teman dll). Bahkan mengkonsumsi obat-obat terlarang (obat tidur, obat penenang, Napza). Namun pemazmur tidak melakukan hal itu. Ia memilih untuk tetap menjadi orang yang beriman kepada Allah. Kasih setia Allah kepada nenek moyangnya membuktikan bahwa Allah tidak pernah meninggalkan umat-Nya yang berseru minta tolong kepada-Nya.Hal ini memperkuat iman pemazmursehingga ia tidak membiarkan dirinya depresi dan dikuasaiperasaan bahwa ia ditinggalkan sendirian oleh Allah. 
Nah bagaimana sekarang dengan kita?


Even when it seems that there is no one else, always remember there's one person who never ceased to love you - yourself” 

(Sanhita Baruah)



Kamis, 24 Maret 2016

LIDAH TAK BERTULANG


Lidah tak bertulang adalah sebuah peribahasa Indonesia. Lidah tak bertulang memiliki arti ucapan seseorang sulit dipercaya, sebab kata-kata yang diucapkannya bisa berubah-ubah, tidak tetap. Sebuah lagu keroncong berjudul "Seribu Tahun" telah turut mempopulerkan peribahasa "lidah tak bertulang." Lagu itu dinyanyikan oleh Bob Tutupoly, tetapi entah mengapa, judulnya bisa berubah menjadi "Tinggi Gunung Seribu Janji."  Mungkin klop dengan peribahasa lidah tak bertulang yang dipopulerkan olehnya, karena seseorang sangat mudah untuk berbohong dan mengumbar janji.

Selain peribahasa lidah tak bertulang, sebenarnya masih ada beberapa peribahasa lainnya yang berkaitan dengan lidah. Contohnya orang yang senang menyampaikan rumor atau gosip dikiaskan sebagai "nenek tua yang berlidah panjang." Lidah yang panjang dengan motif yang jahat dapat menghancurkan kehidupan seseorang, menyebabkan keretakan di dalam gereja dan melukai hati  banyak orang.

Ronin Shimizu, bocah 12 tahu asal California adalah salah satu dari sekian banyak orang yang menjadi "korban" akibat lidah yang panjang. Pada bulan Desember tahun 2014, Ronin memilih pemandu sorak (cheer leader) sebagai kegiatan ekstra kulikuler di Sekolah Menengah Pertama Folsom, Sacramento tempat ia menuntut ilmu. Dari sekian banyak teman-temanya yang ikut kegiatan ekstra kulikuler pemandu sorak itu hanya dia lah satu-satunya anak laki-laki. Petaka terjadi ketika teman-teman Ronin yang lain mengejek dan menyebutnya "gay." Semua teman-teman Ronin tidak menduga, si periang itu pergi dengan cara tragis, yaitu bunuh diri (3/12/14). Pantas bila Yakobus memberi perhatian yang besar kepada lidah dan memberikan peringatan keras, bahwa “Lidah pun adalah api; ia dapat merupakan suatu dunia kejahatan dan mengambil tempat di antara anggota-anggota tubuh kita sebagai sesuatu yang dapat menodai seluruh tubuh” (Yakobus 3:6a).


Selain lidah yang panjang, ada pula lidah penjual obat. Lidah penjual obat berarti pembual atau pembohong. Seorang penjual obat di tepi jalan, bila ingin menarik perhatian para pembeli, pasti akan membual dan mengatakan, bahwa obat yang dijualnya adalah yang nomor satu di dunia. Banyak orang yang senang membual untuk menaikan reputasi atau harga dirinya di hadapan orang banyak, dan kejujuran seolah tak lagi mendapat ruang dan tempat. "Di dalam banyak bicara pasti ada pelanggaran, tetapi siapa yang menahan bibirnya, berakal budi" (Amsal 10:19).

Masih ada satu lagi, yaitu lidah yang berbisa. Lidah yang berbisa adalah orang yang senang menghasut/mengadu domba, menghina dan menjatuhkan orang lain dengan pernyataan-pernyataan yang dikemukakan/diucapkannya. Dalam kitab Mazmur 140:4, Pemazmur mengatakan, "mereka menajamkan lidahnya seperti ular, ular senduk ada di bawah bibirnya." Lidah yang berbisa jauh lebih dasyat dan mematikan. Tubuh kita yang besar ini ternyata berada di bawah pengaruh lidah. Menurut pengarang surat Yakobus, "dengan lidah kita memuji Tuhan, Bapa kita; dan dengan lidah kita mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Allah. Dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk" (Yakobus 3:9-10). 

Banyak orang menderita gara-gara "lidah yang berbisa," tidak terkecuali di rumah, di keluarga, di kantor, di gereja, di sekolah dan lain sebagainya. Contohnya, "Kamu bodoh!" "Kamu tidak berguna!" "Ini semua salahmu!" "Kamu jelek!" "Otak kamu di dengkul!" "Hai monyet!" "Seleranya kampungan!" Ternyata selama ini kita sering menyiksa dan menghukum orang dengan mengutuk, mencaci maki, menjelek-jelekan dan mempermalukan orang lain. Sebab itu pergunakan lidah untuk mempermuliakan Tuhan. Betapa terhormatnya kita bila kita dikenal sebagai orang-orang yang senantiasa penuh kasih dan bertutur kata lembut. "Barangsiapa memelihara mulut dan lidahnya, memelihara diri dari pada kesukaran" (Amsal 21:23) 


"Perkataan yang baik, yang menyejukkan dan penuh kasih berasal dari lidah manusia yang dipimpin oleh Roh Kudus"


Senin, 29 Februari 2016

PERAN ORANGTUA DALAM PENDIDIKAN SEKS ANAK

PERAN ORANGTUA DALAM PENDIDIKAN SEKS ANAK
Oleh: Pdt. Em. Maryam Kurniawati D.Min



Pengantar
Seks masih dianggap tabu untuk dibicarakan oleh sebagian orang, terutama orangtua. Mungkin karena kata "seks" selalu dihubungkan dengan area organ kelamin, bentuk, peran dan segala fungsinya bahkan hubungan seks yang masih dianggap porno, kotor dan tabu. Padahal anggapan ini bisa jadi keliru. Bagaimana jika pendidikan seks dihubungan dengan anak? Yang dimaksud dengan pendidikan seks di sini adalah pengajaran, penyadaran dan penjelasan kepada anak tentang masalah yang berkaitan dengan perubahan fisik, mental dan proses kematangan emosional yang berkaitan dengan masalah seksual (kehamilan, perilaku seksual, pernikahan) dan membimbing anak ke arah hidup dewasa yang sehat dan bertanggung jawab. Hal ini dimaksudkan agar mereka tidak menganggap seks itu sebagai sesuatu yang menjijikan dan kotor, tetapi sebagai anugerah Tuhan bagi keberlangsungan kehidupan manusia, dan membimbing anak ke arah hidup dewasa yang sehat dan bertanggung jawab terhadap kehidupan seksualnya.

Setiap anak pada umumnya mempunyai rasa ingin tahu yang besar terhadap perubahan dan perkembangan organ tubuhnya dan juga perbedaan-perbedaan dengan milik orang lain. Sebab itu anak-anak akan banyak bertanya. Orangtua perlu mempersiapkan diri dengan menambah pengetahuan untuk menghadapi pertanyaan anak, sesuai dengan tingkatan usianya, sehingga anak dapat memperoleh jawaban yang memuaskan rasa ingin tahu mereka.

Menurut  para ahli, penyimpangan seksual anak, bukanlah gangguan yang pasti dihadapi oleh setiap anak. Perkembangan seksual anak, bila tidak dibantu dan diarahkan oleh orangtua, dapat menimbulkan penyimpangan orientasi seksual anak, dan perilaku yang salah  pada tahap selanjutnya (remaja, pemuda, dewasa). Di sini keteladanan, sikap dan perilaku orangtua menjadi sangat penting artinya bagi anak-anak.

Perkembangan Psikoseksual Anak
Menurut Sigmund Freud, yang dikenal dengan Teori Psikoanalisisnya, perkembangan psikoseksual anak terbagi dalam empat fase, yaitu:
1.   Fase Oral. Berlangsung dari lahir hingga usia 2 tahun. Anak mendapatkan   kenikmatan melalui mulutnya. Hal ini terlihat ketika anak menyusu pada puting payudara ibunya mau pun memasukkan segala sesuatu ke mulutnya.
2.   Fase Muskuler. Berlangsung dari usia 2 hingga 3-4 tahun. Pusat  kenikmatan anak berpindah ke otot, dan ditandai dengan kesenangan untuk dipeluk, memeluk, mencubit, atau ditimang-timang.
3.   Fase Anal Uretral. Berlangsung dari usia 4 hingga 5 tahun. Pusat kenikmatan anak terletak pada anus/dubur dan saluran kencing, sehingga anak sering menahan BAB (Buang Air Besar) atau BAK (Buang Air Kecil).
4.   Fase Genital. Berlangsung dari usia 5 hingga 7 tahun. Pusat kenikmatan dirasakan pada alat kelamin, ditandai dengan seringnya memagang atau memainkan alat kelaminnya. Seiring dengan kemampuan berpikirnya yang meningkat, muncul rasa ingin tahu akan organ tubuhnya. Seringkali memperhatikan atau mempermainkan alat kelamin (E. Hurlock, 2001).

Beberapa praktisi perkembangan seksual anak menyebutkan bahwa perkembangan seksualitas di usia pra-sekolah, hanya terbatas pada perkembangan perilaku. Perilaku berhubungan erat dengan kebiasaan. Oleh karena itu tidak perlu ditanggapi secara berlebihan. Pada rentang usia pra-sekolah, anak tidak mengalami perkembangan fungsi seksual karena pada tahapan ini hormon-hormonnya belum berfungsi secara maksimal.

Sebelum masa pubertas, perkembangan fungsi seksual berlangsung sangat lambat, dan akan lebih cepat berkembang pada masa pubertas. Jadi yang dapat diamati hanyalah perkembangan perilaku atau psikoseksualnya. Tidak perlu kaget bila mendapati anak di usia pra-sekolah sedang melakukan eksplorasi atau memainkan alat kelaminnya.

Menurut hasil penelitian dari The Kinsey Institute, sebuah lembaga yang bergerak di bidang penelitian tentang seksualitas manusia, gender dan kesehatan reproduksi di Indiana University menyatakan, sejak dalam kandungan anak sudah mengalami ereksi. Jadi tidak perlu heran, bila bayi laki-laki yang baru bangun tidur tampak tegang alat kelaminnya, walau pun fungsi susunan sarafnya belum sempurna dan kadar hormon androgennya masih sangat rendah, sedangkan kelamin bayi perempuan biasanya tampak berlendir.

Bantuan Orangtua Dalam Perkembangan Seksual Anak
Dalam menghadapi perkembangan seks anak dan perilaku anak yang selalu ingin tahu terhadap seks, orangtua harus memperlengkapi diri dengan pengetahuan dan informasi tentang seks yang tepat.  Orangtua hendaknya memahami motif di balik pertanyaan anak, sehingga dapat mengklarifikasi permasalahan yang dihadapi anak, serta memberi jawaban yang sederhana dan tepat.

Pada umumnya anak-anak belum dapat membayangkan fungsi seksual dari organ tubuh manusia, karena mereka belum dapat memahami. Sebab itu menghadapi pertanyaan dan tingkah polah anak yang berkaitan dengan fungsi seksual, orangtua hendaknya bersikap tenang dan memberikan jawaban dan penjelasan yang tepat guna, sehingga anak menemukan jawaban yang memuaskan dan rasional menurut mereka.

1. Memahami rasa ingin tahu anak. Orangtua diharapkan memberikan penjelasan yang rasional yang dapat ditangkap secara kognitif oleh anak. Misalnya dengan membiasakan menyebut nama alat kelamin anaknya (seperti penis, vagina). Hindari menyebutkannya dengan istilah-istilah tertentu (seperti burung, atau tongkat, dsb). Dengan cara seperti  ini anak-anak akan terbiasa dan tidak menganggap kata-kata itu sebagai sesuatu yang menjijikkan, kotor, dan tabu. Bila pertanyaan seputar alat kelamin tidak terlontar dari anak dalam usia pra-sekolah, orangtua wajib memunculkannya. Pendidikan seks dalam usia dini akan lebih baik. Tidak perlu kuatir anak tidak akan mampu menangkap informasi yang diberikan orangtua, karena otak anak bagaikan jendela yang terbuka lebar dan selalu siap menerima semua informasi sekali pun tidak langsung dimanfaatkan atau dipahami. Kelak ketika anak usia pra-sekolah beranjak besar dan telah memahami tentang seksualitas, ia tidak akan asing lagi dengan istilah atau sebutan alat kelamin dan tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang kotor, berdosa atau tabu.

2.  Memberi penjelasan sesuai tingkatan usia dan kemampuan kognitif anak. Diperlukan kreativitas untuk memberikan jawaban yang sesuai dengan tingkat pemahaman anak. Dalam rentang usia ini, anak memiliki pemahaman sebatas hal-hal yang konkret saja. Mereka ingin mengenal tentang perbedaan bentuk, perbedaan dengan lawan jenis kelamin, dan fungsi dari organ tersebut secara sederhana.

3.  Menanggapi secara jujur dan positif pertanyaan anak. Berbohong dapat membuat anak merasa ada sesuatu yang disembunyikan, dan dapat memicu rasa keingintahuan yang lebih besar. Contohnya, orangtua menyebutkan ada burung di celananya. Bisa jadi anak akan penasaran, mengapa burung bisa ada di dalam celananya. Penghindaran akan membuat anak semakin penasaran. Bisa jadi anak akan mencari informasi dari orang lain, karena informasi yang diberikan belum tentu benar dan tepat.

Mendeteksi Sejak Dini Penyimpangan Orientasi Seksual Anak
Orientasi seksual adalah suatu aspek dari kodrat manusia. Hal ini menunjukkan tentang perbedaan orientasi seksual dalam diri laki-laki dan perempuan, dan bahwa faktor-faktor budaya juga mempunyai pengaruh yang besar dalam diri seorang anak.

Akhir-akhir ini kontroversi seputar masalah homoseksualitas dan isu LGBT menjadi topik yang hangat dibicarakan di kalangan masyarakat. LGBT merupakan singkatan dari Lesbian, Gay, Bisexual dan Transgender.  Lesbian  merupakan perempuan yang memiliki ketertarikan seksual kepada sesama perempuan, Gay adalah laki-laki yang memiliki ketertarikan seksual kepada laki-laki. Sementara Biseksual bisa tertarik pada perempuan maupun laki-laki. Sementara itu, Transgender merujuk pada kelompok yang memilih untuk mengganti gender mereka dari laki-laki ke perempuan ataupun sebaliknya, secara sosial maupun secara fisik. Keempat kelompok tersebut mewakili komunitas bersama yang disebut LGBT.

LGBT masih menjadi isu yang sangat sensitif di Indonesia, dan masih banyak kalangan yang melakukan kekerasan kepada LGBT seolah-oleh mereka bukan manusia seperti yang lain. Diskriminasi seksual dan bias gender juga menjadi masalah utama yang harus dihadapi LGBT, bahkan di lingkungan kerja sekali pun. Konon, semakin banyak ditemukan anak muda laki-laki dan perempuan di Amerika Serikat yang melaporkan memiliki ketertarikan terhadap sesama jenis. Penerimaan masyarakat yang semakin terbuka terhadap sesama jenis diprediksi yang menjadi penyebab semakin banyaknya anak muda, yang berani mengungkapkan rasa suka terhadap mereka yang memiliki jenis kelamin yang sama. seperti yang dituturkan Profesor Perkembangan Psikologi dari Cornell University, Ritch Savin Williams, yang melakukan penelitian mengenai orientasi seksual dan perilaku seksual. 

Bagaimana pun juga hubungan orangtua dan anak tidak lah dapat dipisahkan. Apa pun yang terjadi pada anak, orangtua sebaiknya selalu melakukan monitor demi tumbuh kembang anak yang optimal. proses pengasuhan anak tidak berlaku rumus-rumus matematis, karena perkembangan anak melibatkan banyak faktor yang secara sistemik bersinergi membentuk perilaku anak, selain faktor pembawaan anak itu sendiri. Sebab itu pendampingan perkembangan seksual yang proporsional dari orangtua setidaknya akan memberikan rangsangan yang terarah dan positif kepada anak di dalam masa tumbuh kembang mereka. 

Akhirnya, setiap orangtua diberi nasehat untuk mengabdi kepada Tuhan dan melatih anak untuk kehidupan dewasa. Dalam kitab Amsal 22:6 dikatakan, "Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tua nya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu." Prinsip ini mendesak para orangtua untuk memberikan perhatian khusus, mengenai tugas yang mengagumkan untuk membesarkan anak-anak mereka, sehingga anak-anak dapat bertumbuh kembang sesuai dengan jalan yang patut baginya dan tidak berpaling dari Tuhan. 

          

'MARILAH KEPADAKU, YANG LETIH LESU DAN BERBEBAN BERAT"


"MARILAH KEPADAKU ..."
Pdt. Em. Maryam Kurniawati D.Min






Thomas Smith, seorang musisi, suatu saat berjalan-jalan di toko gadai ecara spontan perhatiannya tertarik pada gitar di sudut etalase, gitar yang tampak dekil dan hanya memiliki satu senar berkarat. Sebagai musisi, ia mengenali alat musik yang bermutu. Dan ia tahu gitar buruk rupa itu sebenarnya sangat berkualitas. Dibelinya gitar itu dengan harga 30 dolar! Perlu waktu satu bulan untuk membersihkan gitar itu, memperbaiki bagian yang rusak, dan memasang senar baru. Benar saja, gitar itu mengalunkan suara yang begitu merdu saat Thomas memainkannya. Membuat iri teman-teman musisi lain yang memiliki gitar dengan harga yang jauh lebih mahal.

Dari kisah Thomas kita belajar, cara pandang Tuhan acap kali berbeda dengan kita.  Dia tidak pernah melihat tampak atau penampilan luar, karena lebih tertarik kepada hati kita, dan hidup kita bernilai bukan karena segala hal yang kita miliki, melainkan karena Tuhan lah yang memilih, menentukan, dan mengangkat hidup kita. Mengapa Tuhan memilih, menentukan, dan mengangkat hidup kita? Jawaban yang pasti, adalah karena penderitaan dan beban hidup kita terlalu berat untuk kita pikul sendiri.
Bukankah setiap keluarga mempunyai salibnya masing-masing  (
leder huis heeft zijn eigen kruis)?

Di sekeliling kita, banyak orang menderita karena kehilangan pekerjaan. Banyak orang susah dan menderita karena mempunyai anak yang berkebutuhan khusus (autis, cacat ganda dll). Banyak orang yang menderita penyakit yang tak kunjung sembuh. Banyak pula orang menderita karena kematian orang yang dikasihinya ... Jorgen Moltmann dalam The Crucified God berpendapat bahwa Allah menyatakan diri-Nya kepada manusia melalui penderitaan dan salib, dan bukan lewat kuasa dan kemuliaan. Sebab itu Allah solider, bahkan berpartisipasi, merasakan, menebus dan memberi kelegaan kepada manusia dari penderitaan yang dialaminya!

Yesus berkata, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan”  (Matius 11:28–30).


"Pikullah kuk yang Kupasang!” Apa yang dimaksudkan Yesus dengan memakai kata “kuk’ dalam pengajaran-Nya itu? Kuk adalah sebatang kayu yang dibentuk untuk mengekang dua ekor sapi, dan menjaga mereka supaya terikat bersama sehingga mereka dapat  berbagi beban secara seimbang. Memikul kuk berarti taat kepada Dia dan mau bekerja untuk Dia. Ia berkata bahwa kuk-Nya enak dan beban yang Ia berikan ringan. Alkitab sering berbicara kepada kita tentang beban dalam arti perbudakan atau kewajiban. Namun bila Yesus memerintahkan kita untuk memikul kuk yang Dia pasang, itu bukan berarti bahwa Dia ingin menambahkan beban kepada kita.

Dia justru mengajak kita untuk “Berserah dan Berbagi”  sehingga kita dapat terus berjalan bersama-Nya sambil memikul bersama beban itu, sehingga beban kita pun akan menjadi lebih ringan. Satu-satunya cara Tuhan untuk mengangkat beban kita adalah dengan kerelaan-Nya memikul beban itu bersama dengan kita; tetapi di saat yang sama itu kita juga harus menyerahkan diri kepada-Nya, agar Dia dapat mulai  mengendalikan hidup kita! Oleh karena itu menjadikan Dia segalanya bagi kita, adalah pilihan yang terbaik.  Izinkanlah Ia mengendalikan segalanya,maka Dia  akan berurusan dengan beban  hidup kita. Langkah berikutnya, adalah belajarlah dari Yesus, sehingga kita dapat memahami apa dan bagaimana cara kita bertindak. Lihatlah bahwa Dia akan memberikan kita kuasa, dan akan memampukan kita untuk menghadapi segala ujian, cobaan dan tantangan dalam kehidupan ini! 

Selamat menjalani hari-hari indah bersama-Nya!