Halaman

Jumat, 24 April 2015

Menangkap Sabda-Nya Dalam Dunia Yang Retak






Menangkap Sabda Allah dalam Dunia Yang "Retak"
Oleh: Maryam Kurniawati D.Min



Dalam dunia  saat ini, keretakan, ketidaksempurnaan, dan penderitaan selalu menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan manusia. Bagaimana Allah hadir dan terlibat dalam penyelamatan manusia di tengah realitas dunia yang ‘tidak sempurna’ (fragile) ini menjadi tema sentral dari setiap pergulatan kehidupan iman kita. Kita diajak untuk menyadari keberadaan kita sebagai manusia yang rapuh, retak, tidak sempurna dan menyelaminya dengan hati terbuka, sebab kasih Allah senantiasa membebaskan kita. Allah tidak akan memaksa kita kembali datang kepada-Nya, namun Ia tetap menunggu kita untuk datang kepada-Nya dan kemudian memeluk kita dengan cinta tanpa syarat.

Bukankah suatu hal yang luar biasa bila dalam setiap kerapuhan, keretakan, ketidaksempurnaan dan penderitaan yang terjadi di tengah dunia saat ini, Allah tetap mengasihi kita tanpa syarat seperti dalam kisah kembalinya Si Anak Hilang? Perumpamaan tentang Anak yang hilang dalam Injil Lukas 15:11-32 mengingatkan kepada kita, betapa sering manusia memberontak kepada Tuhan dengan mengagung-agungkan kemampuan dan kehebatannya? Betapa sering pula manusia menolak kasih Allah dengan mengutamakan kemajuan ilmu pengetahuan dan tehnologi yang justru membuat manusia menderita oleh karenanya? Jika kita tidak pernah merasakan luka dan derita karena kesadaran kita akan kerapuhan, keretakan dan ketidaksempurnaan diri kita, maka kita akan berlaku seperti Si Sulung, yang tidak pernah menyadari bahwa Allah (atau Bapanya) senantiasa mengasihi dirinya.




Dalam buku The Dance of Life, Henri Nouwen berusaha mengungkapkan pergulatan batinnya dalam menangkap sabda Allah di tengah dunia yang penuh dengan ketidaksempurnaan ini.  Pengalaman hidupnya sebagai orang yang dikasihi dan dipanggil oleh Allah dalam "karya kasih" telah menggerakkannya untuk membagi pengalaman ini melalui refleksi-refleksi pribadinya. Pergulatan Nouwen dalam menyentuh kebenaran sejati Allah di tengah dunia modern ini mengantarkannya kesadaran bahwa  keberadaan kita sebagai manusia yang retak dan tidak sempurna selalu berada dalam kasih Allah yang tak terbatas dan tak berkesudahan.

Dari refleksi Nouwen, kita dapat memetik satu nilai bahwa selama hidup ini, kita jangan pernah berhenti untuk menemukan Sabda Allah. Usaha untuk menemukan Sabda Allah ini tentu bukanlah suatu hal yang mudah karena realitas keretakan, ketidaksempurnaan, dan penderitaan seringkali membuat kita tak mampu melihat kasih-Nya. Dengan  menerima dan mencecap pengalaman menderita dan terluka  (sebagaimana yang dialami oleh Si Anak Hilang), kita pun diajak untuk berani menjadi penyembuh bagi yang lain (the others), yang juga menderita dan terluka. Dalam keterlibatan untuk saling menyembuhkan inilah, kasih Allah semakin nyata karena Ia menganugerahkan kebebasan bagi manusia agar mampu mencecap kebenaran sejati sebagaimana tampak dalam kasih Kristus yang rela menderita demi kita manusia.



"Kuasa Media" dan Dampaknya pada Kekerasan Terhadap Perempuan



"Kuasa Media" dan Dampaknya pada Kekerasan Terhadap Perempuan
Oleh: Maryam Kurniawati

Kuasa dalam kamus bahasa Indonesia diartikan sebagai “seseorang yang memiliki kemampuan untuk mengatur, mempengaruhi.” Apakah memang demikian kuasa itu? Seorang filsuf terkenal, Michel Foucoult membicarakan soal bahasa dan media. Siapa yang mengira bahwa BAHASA ternyata juga memiliki makna KUASA? Michel Foucault, menjelaskan bagaimana bahasa menjadi alat kuasa karena dilatarbelakangi oleh motif-motif tertentu dan dengan demikian akan menjadi mungkin memproduksi teks-teks tertentu. “Produksi kekuasaan” melalui bahasa banyak dilakukan media melalui nilai-nilai yang disampaikan. Bahasa kuasa tersebut bukan dilakukan oleh seseorang, segelintir orang, melainkan secara tidak sadar terbawa oleh budaya.

Kuasa tersebut dapat kita lihat dalam pengertian tentang media massa. Media massa mengandung pesan-pesan yang telah dibangun, diciptakan dan dikonstruksikan yang kemudian ditujukan untuk pembaca, pendengar, penonton. Kuasa dalam media yang dimaksud Foucoult adalah bukan dalam bentuk “kemampuan atau wewenang”, melainkan strategi. Iklan misalnya, adalah salah satu strategi bagaimana “menyebarkan kuasa (strategi)” tentang sebuah normalisasi tubuh dan peran perempuan untuk kepentingan jualan, bahwa sesuatu yang normal (bukan lagi ideal) pada perempuan adalah bertubuh langsing, berkulit putih, berambut lurus, dan peran yang normal pada perempuan adalah di rumah, karena itu banyak iklan peralatan rumah tangga, bumbu masak, peralatan masak dan mencuci, diperankan oleh perempuan. Hal-hal tersebut dianggap yang normal atau standard. Bila perempuan tidak ditampilkan dalam tubuh dan peran-peran tersebut, maka menjadi dianggap tidak normal. Dalam banyak pemberitaan di surat kabar maupun online misalnya, ketika kasus yang diberitakan menyangkut perempuan (terutama tentang kekerasan seksual), bahasa yang digunakan seringkali mengandung kekerasan. Misalnya kata janda, perawan, bertubuh semok (seksi), berpakaian minim, anak baru gede, dan pelabelan lainnya yang ditambahkan oleh jurnalis dalam menyajikan kasus perkosaan, agar menarik dibaca. Penyajian tersebut tentu saja menambah pedih bagi korban, alih-alih pembaca berempati pada peristiwa tersebut, malah menjadikannya bacaan hiburan. Demikian pula dalam liputan tentang prostitusi di media televisi, atau ketika ada penggebrekan, kamera lebih banyak menyorot pada pekerja seks yang berlarian ketakutan, dan diangkut ramai-ramai oleh petugas dan mereka berusaha menutupi wajahnya karena malu. Mungkin kita tidak pernah menyadari bahwa iklan-iklan, program talkshow, berita, bacaan yang memelihara nilai-nilai stereotipe sesungguhnya menumbuhkan bahkan berdampak kekerasan terhadap terhadap perempuan.

Pada tanggal 4-15 September 1995, sebuah Konferensi tingkat Dunia tentang Perempuan ke IV telah terselenggara di Beijing, China. Konferensi yang bertema: Persamaan, Pembangunan, Perdamaian ini telah menghasilkan sejumlah rekomendasi yang harus dilaksanakan oleh negara-negara anggota PBB (termasuk Indonesia) dalam upaya meningkatkan akses dan kontrol kaum perempuan atas sumber daya ekonomi, politik, sosial dan budaya. Seluruh rekomendasi dan hasil konferensi tertuang dalam Deklarasi Beijing dan Landasan Aksi (Beijing Declaration and Platform for Action). Terdapat beberapa rumusan strategis yang harus dicapai oleh setiap Negara, diantaranya adalah tentang “Perempuan dan Media Massa” yang menekankan: 1) Meningkatkan partisipasi dan akses perempuan untuk mengekspresikan dan mengambil keputusan dalam dan melalui media dan teknologi komunikasi baru; 2) Mempromosikan gambaran perempuan yang seimbang dan tanpa stereotipe dalam media. Persoalannya adalah, apakah kita akan menelan bulat-bulat pesan yang memagari atau mensubordinasikan perempuan yang disampaikan oleh media tersebut? Salah satu cara untuk keluar dari "Kuasa Media" adalah perlu “melek” atau kritis pada teks-teks yang disampaikan karena begitu banyaknya stereotipe, dan mitos yang disebarkan. Mereka boleh menjualnya, tetapi kita berada dalam posisi yang seharusnya tidak dirugikan untuk membayar, membaca atau menontonnya.


(Sumber: Diadaptasi dari Media dan Kuasa. Dampaknya pada Kekerasan terhadap Perempuan, yang dituliskan oleh Mariana Amiruddin)

My Father Gave Me The Greatest Gift


Malam ini, saya terinspirasi oleh sebuah pertanyaan yang saya temukan dalam refleksi Pdt. John Then tentang "Apa arti ayah dikehidupanmu? - dikehidupan ku dan di kehidupan kita?"

Kehadiran, peran dan fungsi seorang Ayah sangat penting lagi menentukan dalam kehidupan rumah tangga dan juga dalam kehidupan anak-anaknya. Tiba-tiba saya rindu kepada Papa. Delapan tahun sudah Papa meninggalkan kami (19 Juli 2007), tetapi rasanya seperti baru saja terjadi. Menjadi anak yang ketujuhdari delapan bersaudara, saya dan Papa belajar banyak dari kehidupan, untuk mendekatkan hati saya dengan Papa. Sebagai orang yang tidak banyak berbicara, Papa sangat disegani oleh anak-anaknya. Bukan karena Papa orang yang hebat, punya jabatan dan kedudukan yang wahhh. Dia hanya seorang laki-laki yang tegar dan kuat, yang ditempa dan diasah oleh kerasnya kehidupan, yang membuat Papa keras pada prinsip, namun sabar dan bijaksana. 

Kehilangan Papa di saat badai dan pusaran ombak kehidupan melibas, membuat saya sempat "limbung" karena Papa selalu menjadi teman curhat yang abadi. Tidak ada masalah apa pun yang tidak dapat saya diskusikan dengan Papa. Kami mempunyai hobby yang sama, wiskul (wisata kuliner) walau selera makan kami bertolak-belakang, bagaikan langit dan bumi. Hari-hari terakhir sebelum Papa pergi, kami bergantian, menemani Papa. Kami sadar, waktunya akan segera tiba dan panggilan merdu dari Tuhan sudah di ambang pintu. Hingga dua jam terakhir sebelum Papa menghembuskan nafasnya yang terakhir, Papa masih menunggu saya (bersama suami dan anak-anak), untuk membacakan Alkitab, berdoa dan menghantarnya pada saat dimuliakan. 

Benar sekali apa yang dikatakan Jim Valvano, "My father gave me the greatest gift anyone could give another person: He belived in me." Jadi kalau ditanyakan apa arti ayah dalam kehidupan saya, jawabannya adalah, "Papa adalah hadiah yang terbaik dari Tuhan yang diberikan kepada kami, anak-anaknya..."

Minggu, 05 April 2015

PENGGUNAAN ISTILAH "PASSOVER" DAN "EASTER"

Istilah "passover" berasal dari kata "pecach" (Ibrani) dan "pascach" (Aram) mempunyai sejarah yang rumit. Mungkin menarik untuk diketahui bahwa William Tyndale (1494-1536), seorang tokoh pemimpin Protestan, ahli dan penerjemah Kitab Suci yang terkenal, adalah yang pertama kali memasukkan kata “Easter” di dalam Kitab Suci terjemahan bahasa Inggris, dan bersamaan dengan itu ia juga menyebutkan kata Passover. Memang ada orang yang menduga bahwa Easter berasal dari nama dewi Isthar (dari Sumeria) atau dewi Eostre/ Astarte (dari Teutonik). Memang sekilas bunyinya mirip, seperti halnya juga, bahwa besar kemungkinan kata “Easter” berakar dari kata “Eostur”, yang berarti “musim kebangkitan” (season of rising) yang mengacu kepada musim semi. Maka kata “Easter” digunakan di Inggris, “Eastur” di bahasa Jerman kuno, sebagai kata lain musim semi. Sedang di negara- negara lain, digunakan istilah yang berbeda: “Pascha” (bagi Latin dan Yunani), ” Pasqua” (Italia), “Pascua” (Spanyol), “Paschen” (Belanda), …dst yang semua berasal dari kata Ibrani (“Pesach”) yang artinya “Passover."


Jika kita melihat kepada bahasa Jerman, kata Ostern (yang artinya Easter) berasal dari kata Ost (east atau terbitnya matahari), dan berasal dari bentuk kata Teutonik yaitu erster (artinya yang pertama/ first) dan stehen (artinya berdiri/ stand) yang kemudian menjadi ‘erstehen’ (bentuk kuno dari kata kebangkitan/ resurrection), yang kemudian menjadi ‘auferstehen’ (kata kebangkitan dalam bahasa Jerman sekarang). Jadi kata Ester/Eostur dalam bahasa Inggris yang berubah menjadi Easter, adalah setara dengan kata Oster dalam bahasa Jerman yang kemudian menjadi Ostern. Maka jika ada kemiripan bunyi Easter dengan Isthar itu hanya kebetulan, dan tidak dapat dipaksakan bahwa bahwa keduanya berhubungan. Ini serupa dengan memaksakan kata “belum” dalam bahasa Indonesia, yang dianggap mengacu kepada kata “bloom” (artinya berkembang) dalam bahasa Inggris, yang bunyinya mirip tapi tidak ada hubungan sama sekali, karena artinya pun lain. Jika sebutan Easter mirip dengan Isthar atau Eostre, hal itu bukan berarti ucapan “Happy Easter” berkaitan dengan penyembahan berhala, sebab bagi umat Kristen, perayaan Easter/ Pascha/ Paska itu bersumber dari penggenapan nubuat Perjanjian Lama di dalam korban Salib Kristus yang memberikan buah Kebangkitan.

Kereta Kehidupan



KERETA KEHIDUPAN.

Hidup bagaikan sebuah perjalanan menaiki kereta... 
Dengan stasiun-stasiun pemberhentiannya...
dengan perubahan-perubahan route perjalanan...
dan dengan peristiwa-peristiwa yang menyertainya…
Kita mulai menaiki kereta ini ketika kita lahir ke dunia...
Orangtua kita yang memesankan tiket untuk kita...
Kita menduga bahwa mereka akan selalu bersama kita didalam kereta...
Namun, di suatu stasiun, orangtua kita akan turun dari kereta dan meninggalkan kita sendirian dalam perjalanan ini...

Waktu berlalu,
dan penumpang lain akan menaiki kereta ini...
Banyak diantara mereka akan menjadi orang yang berarti dalam hidup kita
Pasangan kita, teman-teman, anak-anak, dan orang-orang yang kita sayangi...
Banyak diantara mereka yang akan turun dari kereta selama perjalanan ini...
Dan meninggalkan ruang kosong dalam hidup kita...
Banyak diantara mereka yang pergi tanpa kita sadari
Bahkan, kita tak tahu dimana mereka duduk dan kapan mereka meninggalkan kereta...
Perjalanan kereta ini penuh dengan suka, duka, impian dan harapan, ucapan "hallo", "selamat tinggal", cinta dan airmata....
Perjalanan yang indah akan diwarnai dengan saling menolong, saling mengasihi dan hubungan baik dengan seluruh penumpang kereta...
Jangan lupa memastikan bahwa kita memberi yang terbaik agar perjalanan mereka nyaman...

Satu misteri dalam perjalanan yang mempesona ini adalah,
kita tak tahu di stasiun mana kita akan turun...
Maka kita harus hidup dengan cara yang terbaik, mengampuni kesalahan orang lain dan memberikan yang terbaik yang kita miliki...
Sangatlah penting untuk melakukan hal ini,
Sebab bila tiba saatnya bagi kita untuk meninggalkan kereta...kita harus meninggalkan kenangan indah bagi mereka yang meneruskan perjalanan di dalam kereta kehidupan ini...

Akhir dari perjalanan ungkapan ini seperti kereta api yg menuju stasiun berhenti dan meninggalkan kereta lalu tempat itu menjadi kosong.
Terimakasih untuk teman-teman baik ku, yang telah menjadi salah satu penumpang istimewa di dalam kereta kehidupan...
Sekarang, ketika aku menulis, aku masih di dalam kereta.
Aku tak tahu kapan aku akan tiba di stasiunku...
Selamat menempuh perjalanan hidup bermakna...


(Sumber: Unknown)

Jumat, 03 April 2015

Seorang Pemuda Yang Ingatannya Terhapus Setiap Lima Menit (Kisah Nyata)


Pernahkah kamu menonton film 50 First Date atau Before I Go to Sleep? Dalam kedua film tersebut, sang tokoh utama mengalami kecelakaan yang berakibat pada kondisi fatal. Ingatan mereka selalu terhapus setiap kali bangun tidur. Mereka pun menjalani hari demi hari dengan kebingungan yang sama. Siapa sangka kondisi itu juga terjadi di dunia nyata? Seorang pemuda di China benar-benar mengalaminya.
Cerita ini bermula saat Chen Hongzhi (25 tahun) mengalami kecelakaan mobil dalam usia 17 tahun. Dampaknya cukup parah sehingga Chen harus dirawat di rumah sakit selama beberapa bulan. Walaupun kondisi fisiknya membaik, memori atau ingatannya tidak pernah sama lagi. Setiap lima menit, pemuda ini selalu kehilangan ingatannya.

Chen hanya bisa mengingat kenangan sebelum kecelakaan itu terjadi. Delapan tahun sudah berlalu, tetapi dia hanya bisa mengingat hidupnya saat masih berusia 17 tahun. Setiap pagi ibunya harus bercerita pada Chen bahwa dia sudah berusia 25 tahun dan sudah melewati banyak hal. Kondisi memori Chen tidak stabil. Kadang dia bisa mengingat kejadian sepanjang hari, tetapi setelah tidur dan terbangun, semua ingatan itu akan hilang. Bahkan dia lupa bahwa ayahnya sudah meninggal.

Karena keadaannya itu, Chen membiasakan diri untuk menulis jurnal. Dia menulis tentang hal-hal yang telah dilakukannya setiap hari. Juga tentang teman-temannya dan berapa banyak uang yang dia peroleh dari hasil memulung barang-barang bekas di pinggir jalan.


Chen memang hidup dalam keluarga yang kurang mampu. Dia dan ibunya mencari makan dengan cara mengumpulkan barang bekas untuk dijual kembali. Karena ingatannya yang hilang, Chen tidak mungkin dapat bekerja di kantor tertentu. Namun dia tetap menjalani hari demi hari dengan sikap optimis.

Perjuangan Chen dan ibunya membuat warga sekitar tergerak untuk membantu. Bahkan ada seseorang yang menulis kisah Chen dan mempublikasikan fotonya. Sejak itu, semakin banyak orang yang menawarkan bantuan. Karena banyaknya bantuan yang datang, pihak Dinas Kesejahteraan setempat bahkan harus membuat daftar bagi orang-orang yang ingin membantu Chen.

Dinas Kesejahteraan ingin Chen melanjutkan pendidikannya. Pemuda itu memang putus sekolah setelah kecelakaan. Maka Dinas Kesejahteraan mempersiapkan Chen untuk sekolah lagi. Mereka juga mempersiapkan banyak hal lain agar pemuda itu bisa hidup mandiri, sebab ibunya tidak bisa selamanya berada di sisinya dan membantu dia melewati saat-saat sulit.

Chen merasa senang atas kemurahan hati orang-orang yang membantunya. Meski tidak bisa mengingat dalam jangka waktu lama, dia tetap semangat menjalani hidup. Sebab Chen percaya bahwa pasti ada hal-hal baik di balik kondisi yang dialaminya (Sumber dari vemale.com)

Kehilangan memori atau ingatan, adalah sebuah kenyataan yang sangat menakutkan bagi siapa pun juga yang mengalaminya. Apa yang akan kita lakukan bila orang tua atau anak, suami atau istri dan teman-teman kita, tiba-tiba karena satu dan lain hal kehilangan ingatannya setiap lima menit? Apakah kita masih dapat menerimanya dengan lapang hati dan mau membantunya? Dari Dinas Kesejahteraan orang-orang yang membantu Chen kita belajar untuk bersikap murah hati. Membantu mereka agar tetap semangat menjalani hidup, karena pasti ada hal-hal baik (bahkan berkat Tuhan yang tersembunyi) di balik kondisi yang mereka alami. 



That is the secret of the eyes of Andrew Rubley's Christ






That is the secret of the eyes of Andrew Rubley's Christ ...
By Henri J.M. Nouwen

“To see Christ is to see God and all of humanity. This mystery has evoked in me a burning desire to see the face of Jesus. Countless images have been created but when I saw Andrew Rublev’s icon of Christ, I saw what I had never seen before and felt what I had never felt before. I knew immediately that my eyes had been blessed in a very special way. Andrew Rublev painted his icon of Christ at the beginning of the fifteenth century.

This face to face experience leads us to see God and live! As we try to fix our eyes on the eyes of Jesus we know that we are seeing the eyes of God. What greater desire is there in the human heart than to see God?
The eyes of Rublev’s Christ are the eyes of the Son of Man and the Son of God described in the book of Revelation. They are the eyes of one who is ‘Light from Light, true God from true God, begotten, not made, one in being with the Father… through whom all things were made.’ (Nicene Creed)

The same eyes which see into the heart of God saw the suffering hearts of God’s people and wept. These eyes, which burn like flames of fire penetrating God’s own interiority, also hold oceans of tears for the human sorrow of all times and all places. That is the secret of the eyes of Andrew Rublev’s Christ.”

“To have seen me is to have seen the Father. Do you not believe that I am in the Father and the Father is in me?” John 14 : 8