Halaman

Sabtu, 29 Oktober 2011

Allah Sedang Menulis Lurus Dengan Garis Lengkung

Allah Sedang Menulis Lurus Dengan Garis Lengkung


Ada banyak orang yang lebih senang meletakkan seluruh pengharapan dan kepercayaan mereka kepada para penguasa, institusi, dan ideologi sebagai dasar pengharapan masa depan  yang mutlak dan tidak tergoyahkan. Persoalannya sekarang adalah, apakah mereka semua dapat diandalkan? Sekarang ini, pengharapan kita telah terkikis secara perlahan dan kini, hanya kekecewaan dan keputus-asaan yang dapat kita gambarkan. Situasi yang kita hadapi saat ini, mungkin seperti awan gelap yang mengancam, karena pemanasan global dan perubahan iklim yang ekstrim, dan dan kurangnya keinginan politik yang kuat untuk menghasilkan perubahan yang diperlukan untuk menyelamatkan bumi dan manusia yang ada di dalamnya. Bencana dan situasi yang semakin buruk, kita lihat ketika semakin banyak penderitaan dan kesedihan yang diderita oleh kelompok minoritas dan kaum miskin, dan cara pemerintah untuk menutup-nutupinya. Kini, tiba-tiba hampir semua orang terbelenggu dalam keadaan putus asa. Keadaan ini menjadi  lebih kompleks, atau tidak mudah untuk dianalisis dan didefinisikan. Bagi seorang Kristen, pengharapan itu selalu ada. Paulus berkata, “Sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun berharap juga dan percaya.” Maksudnya, kita harus tetap memiliki pengharapan meski kelihatannya tidak ada tanda-tanda pengharapan sama sekali. Mengapa? Karena pengharapan kita tidak didasarkan pada tanda-tanda. Pengharapan kita, menurut Albert Nolan: didasarkan pada Allah dan hanya Allah. Kita menyerahkan pengharapan dan kepercayaan kita kepada Allah, atau setidak-tidaknya, kita berusaha melakukannya.

Namun apa artinya menyerahkan seluruh pengharapan dan kepercayaan kita kepada Allah? Pertanyaan itu jadi sulit, karena bagi banyak orang sekarang ini, Allah telah mati atau bukan hal yang relevan. Sebuah konsep yang tidak memiliki makna. Kalau begitu apa artinya mempercayai Allah? Pertama-tama, dalam Mazmur 146:3,5 dikatakan ”Janganlah percaya kepada para bangsawan, Kepada anak manusia yang tidak dapat memberikan keselamatan... Berbahagialah orang yang harapannya pada Tuhan, Allahnya.”
Kita tidak dapat berharap pada janji-janji para penguasa: para pemimpin politik, industri atau bahkan gereja. Memiliki para pemimpin yang baik jelas membantu, tetapi tidak boleh menggantungkan pengharapan masa depan kita kepada para pemimpin manusia manapun juga, karena tidak seorangpun dari kita baik secara individu maupun bersama-sama, kuat dan mengetahui cara menyelamatkan dunia. Kita juga tidak dapat menyerahkan seluruh pengharapan dan kepercayaan kita kepada institusi dunia manapun juga, karena mereka dapat bertindak salah dan gagal. Meletakkan seluruh pengharapan dan kepercayaan kepada Allah mengandung makna bahwa meski kita menghargai kontribusi para penguasa, institusi dan ideologi, kita tidak akan menjadikan mereka sebagai dasar pengharapan kita di masa depan.  Kita pun tidak dapat mempercayai siapa pun atau apa pun, bahkan pada pemikiran kita sekali pun, karena kita semua banyak bergantung pada apa yang kita harapkan. Kita hidup di masa kesesakan, bukan hanya karena orang-orang membangun pengharapan mereka di atas fondasi yang tidak tepat, tetapi juga karena banyak dari kita yang berharap pada hal-hal yang salah.
Apa yang kita harapkan? Obyek pengharapan Kristen adalah kedatangan Kerajaan Allah. Allah memerintah di bumi. Dalam Doa Bapa Kami, kita berdoa, ”Datanglah Kerajaan-Mu; jadilah kehendak-Mu di bumi ...” Yang menjadi pengharapan kita adalah kehendak Allah yang terlaksana di bumi. Apa yang menjadi kehendak Allah dan seperti apakah Kerajaan Allah itu? Satu hal yang dapat kita yakini, adalah kehendak Allah itu tidak bersifat sewenang-wenang (arbitrer). Ketika kita berbicara tentang kehendak ”ku,” kita sering merujuk pada sesuatu yang bersifat sewenang-wenang. Pilihan yang bersifat sewenang-wenang tentang apa yang seharusnya terjadi. Memaksakan pemahaman tersebut kepada orang lain akan dianggap sebagai pemaksaan kehendak. Kehendak Allah itu berbeda. Apa yang menjadi kehendak Allah selalu membawa kebaikan bagi semua orang, karena terdapat keadilan, perdamaian, kebenaran dan keutuhan ciptaan. Apa yang menjadi keinginan Allah adalah yang terbaik bagi kita semua dan yang terbaik bagi seluruh ciptaan-Nya. Oleh karena itu, yang menjadi objek dari pengharapan Kristiani seharusnya adalah kebaikan bersama – bahkan jika kita mendapati hal itu sulit dilakukan. Di masa lalu, yang sering terjadi adalah objek pengharapan kita seringkali terlalu egois dan mementingkan diri sendiri: egosentris, serta berpandangan sempit (pengharapan tentang masa depan yang lebih baik bagi diri saya, keluarga saya, dan negara saya dengan mengorbankan orang lain; pengharapan tentang pertumbuhan ekonomi dan standard kehidupan yang lebih tinggi bagi saya, bagi keluarga saya dan lain sebagainya). Itu bukan kehendak Allah atau untuk kebaikan bersama!
Kalau kita mau melakukan usaha untuk mendatangkan kebaikan bersama, maka itu berarti kita turut berpartisipasi dalam pekerjaan Allah.  Sebagai umat kristiani, dasar pengharapan kita adalah Allah dan objek pengharapan kita adalah kehendak Allah. Kita harus menggantungkan diri pada pekerjaan Allah, karena Allah bekerja di dalam diri kita dan Allah tidak dapat dikesampingkan dari area mana pun dalam kehidupan kita. Namun itu semua tidak berarti, bahwa segala sesuatunya otomatis menjadi baik dan kita tidak bertanggung jawab atas apa yang terjadi di dalam kehidupan kita. Bagaimana pun juga Allah tetap terlibat dengan cara-cara yang sangat misterius, dan akhirnya, penyebab segala sesuatu yang salah, berdosa dan jahat adalah keegoisan manusia. Oleh karena itu kita dapat menemukan Allah di antara para korban ketidakadilan, mereka yang menjadi korban perbuatan dosa, kaum miskin dan terpinggirkan, serta mereka yang sakit dan terbuang. Itulah yang diajarkan Yesus kepada kita. Itulah makna penyaliban, karena Yesus adalah korban kekejaman manusia.
Bagaimana kita dapat menyerahkan pengharapan dan kepercayaan kita kepada Allah? Kita bisa melakukannya, karena Allah berkuasa, bahkan sangat berkuasa, bukan dengan kekerasan atau paksaan, tetapi dengan kekuatan belas kasih dan cinta kasih. Tindakan menindas yang brutal dan kejam tidak pernah menjadi dasar pengharapan Kristen. Itu bukan kekuasaan Allah, dan bukan cara Allah bertindak. Penderitaan luar biasa yang dialami banyak orang dalam konflik yang kejam, gempa bumi, tsunami dan penyakit mewabah seperti HIV/AIDS bisa jadi menimbulkan keputus-asaan bagi beberapa orang. Namun hal itu juga mendatangkan belas kasih yang luar biasa. Bukankah yang paling dibutuhkan dunia adalah belas kasih yng banyak? Inikah karya Allah yang misterius? 
Kejatuhan bank-bank dan korporasi baru-baru ini secara luas disebabkan oleh orang-orang yang superkaya yang menjadi serakah. Mereka berhasil di posisi puncak, dan menjadi pahlawan. Namun bukankah kaum miskin yang melihat mereka sebagai pelaku kriminal yang keserakahannya harus kita tanggung? Apakah penemuan yang seperti itu merupakan kehadiran karya Allah yang misterius? Apakah Allah sedang menulis lurus dengan garis lengkung seperti yang dikatakan oleh Agustinus?
Kematian Yesus, dan terutama kematian-Nya yang memalukan di kayu salib, membuat para pengikut-Nya dan banyak orang lainnya putus asa. Dalam perjalanan ke Emaus, dua orang pengikut Yesus berkata, ”Kami berharap Dialah yang menebus Israel.” Namun penolakan para penguasa, pemuka agama, dan orang-orang lainnya telah menghancurkan harapan tersebut. Di kayu salib, Yesus sendiri merasa diabaikan Allah: ”Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”
Namun, terlepas dari semua yang terjadi, mereka yang terus menerus mempercayai Allah, seperti yang Yesus lakukan, perlahan melihat tangan Allah bekerja di dalam tragedi yang menyedihkan itu. Mereka mulai melihat bahwa Yesus bangkit dari kematian dan bahwa Roh Kudus-Nya kini berada di dalam mereka. Penyaliban tersebut bukan berarti kegagalan. Penyaliban Yesus adalah kemenangan pradoks karya Allah di dunia. Penyaliban tersebut adalah keselamatan dan pengharapan kita tentang masa depan. Dalam hal ini kita memiliki Allah yang menulis di garis lurus dengan garis lengkung. Itulah sebabnya mengapa kebangkitan Yesus menjadi simbol pengharapan yang luar biasa bagi umat Kristen.

Kebangkitan adalah tangan Allah yang bekerja ketika kita menyerahkan seluruh pengharapan dan kepercayaan kita kepada Allah. Namun untuk ke depan, tidak cukup hanya memiliki pengharapan. Kita harus memiliki sikap berpengharapan. Kontribusi paling berharga yang dihasilkan umat Kristen di masa keputus-asaan adalah terus menerus memiliki sikap berpengharapan, karena iman kita. Dengan demikian kita juga menguatkan mereka yang kehilangan pengharapan.

Sumber:  
Albert Nolan, Harapan Di Tengah Kesesakan Masa Kini: Mewujudkan Injil Pembebasan (Jakarta: BPK Gunung Mulia, Cet-1, 2011), 5-16.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar