Halaman

Rabu, 28 Maret 2012

KESOMBONGAN VS KERENDAH-HATIAN





Seorang psikolog terkenal asal Austria, Alfred Adler (1870-1937) mengatakan, bahwa kesombongan pada dasarnya merupakan sikap mengagungkan atau mengutamakan diri sendiri (self centered).  Dalam kehidupan sehari-hari, kita menemukan tidak sedikit orang yang memandang dirinya lebih dari orang lain. Baik dalam penampilan, bakat, kemampuan yang dimiliki, prestasi yang dihasilkan, jabatan dan kedudukan yang diraihnya, status hidup yang diperolehnya, atau popularitas dan prestise yang dicapainya di dalam kehidupan masyarakat. Dengan penampilan, bakat dan kemampuan yang dimilikinya, orang lalu memandang dan menilai dirinya lebih benar, lebih hebat, lebih suci, dan lebih tinggi derajatnya dari orang lain. Sebab itu dalam realitas kehidupan sehari-hari, kita akan menemukan orang-orang yang seperti ini, entah dalam posisi atau jabatan apa pun. Tidak hanya dalam posisi sebagai pimpinan atau yang dominan (seperti yang dikatakan oleh banyak orang), tetapi juga dalam posisi sebagai pegawai atau karyawan. Saya menemukan banyak orang yang merasa dirinya lebih berbakat dan berpengalaman, bahkan  lebih berprestasi dari orang lain, sehingga mereka merasa diri hebat dan tidak segan-segan mempengaruhi pegawai atau karyawan lainnya untuk melakukan aksi-aksi tertentu untuk mendiskreditkan orang-orang tertentu. Merasa diri hebat tentunya sah-sah saja, tetapi bukankah ada jauh lebih banyak orang yang memiliki kelebihan dan hal-hal yang luar biasa dibandingkan dengan kita? Tidak heran bila di dalam Alkitab kesombongan dipandang sebagai ”akar dosa, karena mengesampingkan orang lain dan Allah. 

Salah satu contohnya adalah kisah Haman dan Mordekhai (Ester :9-14). Kepada kita diperlihatkan, bahwa keinginan Haman untuk dihormati dan dihargai karena posisi atau pangkatnya, telah membuat Haman tidak hanya tersinggung dan marah kepada Mordekhai, tetapi Haman juga berupaya untuk membunuh atau ”menyingkirkan” Mordekhai. Sedangkan dalam diri Mordekhai, kita melihat sikap rendah hati. Kerendah-hatian tidak dipahami sebagai sikap rendah diri atau menghinakan diri. Hidup dengan rendah hati akan membuat seseorang menghargai orang lain, sama seperti ia menghargai dirinya sendiri sehingga ia bebas dari jerat dan perangkap kesombongan. Dengan kerendah-hatian, orang belajar menerima dan menghargai orang lain, dengan segala kelebihan dan kekurangnya. Dengan kerendah-hatian, orang belajar menerima dan menghargai pendapat dan pemikiran orang lain yang berbeda dengan pendapat dan pemikirannya. Mungkin kisah ”Katak Ingin Menjadi Lembu” dapat menjelaskan kepada kita, bagaimana kesombongan atau keangkuhan itu membuat orang merendahkan orang lain. 1

Sedangkan perasaan lebih rendah (inferiority complex) dapat membuat orang iri hati atau tidak puas atas keberuntungan atau kelebihan orang lain, karena orang berpikir bahwa keberuntungan dan kebahagiaan orang lain mengurangi atau menurunkan kehormatannya. Itulah sebabnya di dalam Yakobus 4:6b dikatakan, bahwa ”Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati.” Dengan demikian, orang-orang yang sombong atau tinggi hati, dan orang-orang yang rendah diri patut diwaspadai karena kedua-duanya, mempunyai potensi yang merusak dan menghancurkan orang lain. Sebab itu ketika Bapa Gereja Alfonsus Liguori ditanya, keutamaan manakah yang dapat menyembuhkan dunia ini dari kehancuran, maka jawabannya, ”Ada tiga keutamaan dalam hidup ini, yaitu: 1. Kerendah-hatian, 2. Kerendah-hatian, 3. Kerendah-hatian.”  

Apakah sebenarnya yang dimaksud dengan ”kerendah-hatian” itu? Menurut Stefan Leks, ”kerendah-hatian” adalah penilaian yang tepat mengenai diri sendiri. Oleh karena itu bila seseorang menghargai dirinya lebih daripada sepatutnya, maka ia disebut sombong. Begitu pula kalau ia kurang menghargai dirinya sendiri daripada seharusnya, ia disebut sombong juga.  Kitab Injil memperlihatkan kepada kita orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, sebagai orang-orang yang menghargai diri mereka lebih daripada yang sepatutnya. Mereka berdoa dan memberi persembahan, agar dilihat dan dipuji orang banyak. Karena itu Yesus mengkritik mereka. Bagaimana pun juga, kesombongan adalah ”palang” yang paling ampuh untuk menutup jalan manusia kepada Allah. Untuk membukanya kembali, manusia harus menyelidiki perbuatan-perbuatannya, serta bertobat. Kalau seseorang berbuat baik demi kepentingannya sendiri, ia sama dengan orang Farisi yang haus akan pujian, pengakuan, gelar, dan keuntungan. Sikap ini membawa orang kepada kepalsuan dan perbuatan jahat. 

Sedangkan dalam bahasa Latin, kerendah-hatian disebut ”humalitas.” Kata ini berasal dari kata ”humus” yang berarti ”tanah.” Dengan kata lain istilah ini mau mengatakan, bahwa orang menjadi rendah hati kalau ia menyadari asal-usul dirinya. Bahwa ia hanyalah debu tanah yang kecil, hina dan kotor. Kesadaran dan pengenalan diri seperti ini, akan membawa seseorang kepada sikap memuliakan Tuhan, Sang Pencipta, yang telah sudi mengangkat manusia yang kecil, hina dan kotor menjadi anak-anak-Nya. Di sini kita melihat, bahwa orang yang rendah hati sadar akan segala kelemahan dan keterbatasannya. Namun, sekaligus ia sadar akan segala kekuatan dan kemampuan Tuhan yang ada di dalam dirinya. Orang yang rendah hati adalah seumpama orang yang diberi lima talenta oleh tuannya, dan pergi untuk melipatgandakannya. Akhirnya, ia menghasilkan laba lima talenta. Ia sadar bahwa pemberian talenta itu merupakan pelimpahan tanggung jawab. Oleh karena itu dengan segenap kemampuannya, ia berusaha mengembangkankan talenta tersebut plus dengan labanya kepada tuannya. Dengan demikian, orang yang rendah hati selalu menyadari, bahwa segala bentuk keberhasilannya, adalah bukan karena kehebatannya sendiri, melainkan karena anugerah dan berkat Tuhan. Karenanya, harus dikembalikan seutuhnya kepada Tuhan demi kemuliaan-Nya.



 




[1] Suatu ketika di sebuah kandang lembu ada seekor katak batu yang rupanya rajin mengamati si lembu betina yang pendiam dari balik bongkahan batu. Setiap hari si katak melihat pemilik lembu selalu memberikan makanan rumput segar, memandikan, dan mengajaknya jalan ke padang rumput hijau nan luas. Pada suatu kesempatan, katak batu itu mendekati si lembu betina yang sedang makan. Katanya dengan nada sinis, “Hai, lembu. Enak sekali hidupmu. Setiap hari kau selalu mendapat perhatian dari manusia dan juga selalu dikasih makan. Kau selalu dirawat dan diajak jalan-jalan di padang rumput hijau. Semua itu apa karena badanmu yang besar?”
Si lembu betina tak menjawab, ia terus makan dan makan. Sambil sesekali kepalanya menggeleng kiri kanan mengusir lalat-lalat yang mengerubungi makanannya. Karena si lembu betina tak juga menjawab, maka katak batu itu menghardiknya lagi. Kali ini dengan nada suara lebih keras lagi. “Hai…lembu dungu. Kalau hanya karena badanmu yang besar, kau mendapat perhatian manusia maka aku pun mampu menyamai besar tubuhmu. Nih…lihatlah!” Si katak batu itu lalu segera memperagakan diri di hadapan lembu betina. Katak batu itu menggelembungkan badannya. Bermula dari perut, kemudian leher, kaki, dan seterusnya. Perut katak batu itu sedikit demi sedikit membesar, dan kemudian terlihat begitu besar. Namun setelah membesarkan perut dan leher, rupanya badannya tak juga bisa menyamai lembu. Si katak batu sangat penasaran, karena badannya belum juga mampu menyamai besarnya lembu itu. Perutnya terus digelembungkan lagi dan lagi… Akibatnya perut itu meletus. Isi perut berhamburan ke mana-mana. Si katak batu itu pun mati dengan kondisi yang sangat mengenaskan.
Melihat katak batu yang malang itu telah mati, si lembu betina pun tak mampu menahan kesedihan. Tapi ia juga tak bisa berbuat banyak. Si lembu betina itu tahu bahwa dirinya tak memiliki kuasa apa pun atas hidup.


2 komentar:

  1. Tulisan ini pas sekali untuk menyoroti situasi terkini yang oleh kompas disebut, "Arogansi Cermin Masyarakat" karena begitu banyaknya kasus 'pamer kekuatan', 'pamer kuasa', 'pamer kedigdayaan' oleh aparat militer/polisi dan juga sipil.

    Keutamaan "kerendahan hati" memang sudah tergilas oleh silau pujian dan penghormatan atas apa yang dimiliki oleh seseorang, sehingga tak pernah lagi menghargai eksistensi orang lain. Sebaliknya, orang selalu berusaha menumpuk "harta" pribadi dalam bentuk rupa-rupa, misalnya kesuksesan, kekayaan, kekuasaan, dll, yang pada akhirnya semakin menjebak mereka sendiri pada perasaan "aku orang hebat".

    Tulisan ini sangat bagus. Orang perlu merenungkan kembali keutamaan yang kian menipis bahkan mungkin sudah lenyap dari sanubari kebanyakan orang. Kita hanyalah debu-debu yang tak berarti.

    BalasHapus