Halaman

Kamis, 23 Mei 2013

“THE COURAGE TO TEACH"



“THE COURAGE TO TEACH[1]
Oleh: Pdt. Maryam Kurniawati Sutanto D.Min




Khru Suwimon Suwanat adalah seorang guru Sekolah Dasar Krong Pinang. Tiga puluh enam tahun lamanya ia telah menjadi guru di sekolah, yang terletak di daerah Ujung Selatan, Thailand meskipun ia menghadapi ancaman kekerasan setiap hari.
Di daerah lainnya di Ujung Selatan, seperti Yala, Pattani dan Narathiwat, guru-guru, siswa dan para orang tua menghadapi ancaman kekerasan dari para pemberontak, yang telah membakar sejumlah sekolah di kawasan itu sejak tahun 2004. Lebih dari seratus lima puluh guru terbunuh dalam aksi kekerasan itu, dan seratus orang lagi menderita cacat permanen. Untuk menjaga keamanan guru dan siswa mereka, sekolah-sekolah setempat mengandalkan personil keamanan untuk menjaga dan melindungi mereka.
“Setiap pagi, para tentara menjemput para guru dan mengantar mereka dalam iringan kendaraan, kemudian mengantar mereka pulang ketika jam pelajaran di sekolah sudah berakhir,” kata Direktur Sekolah Krong Pinang, Pollawat Boonchuy kepada wartawan Surat Kabar Asia.
Bagi Khru Suwimon Suwanat, penjagaan dan perlindungan dari personil keamanan itu telah menjadi rutinitas sehari-hari. Setiap hari dengan pengawalan ketat sepanjang 15 km dari rumah ke sekolah, Suwimon bekerja keras tanpa kenal lelah selama 36 tahun di Sekolah Krong Pinang. Tinggal satu tahun lagi, Suwimon akan memasuki usia pensiun pada usia 60 tahun.
“Ketika saya memutuskan bekerja di tiga provinsi perbatasan di daerah selatan, pada awalnya saya merasa takut. Tetapi ketika saya bertemu dengan para guru kepala, mereka sangat baik kepada saya,” tutur Suwimon.
“Saya cinta tempat ini. Sudah seperti rumah saya sendiri. Saya suka sekolah ini dan juga penduduk di daerah ini. Ketika saya pergi ke luar sekolah, saya tidak merasa takut. Tetapi ketika saya berbicara dengan mantan murid-murid saya, mereka memberikan informasi mengenai apa yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan, dan saya menuruti mereka,” kata Suwimon dengan hati-hati.
               Di antara mantan murid-murid yang menghargai pengabdiannya, ada Funha Sah-ah, yang berusia 11 tahun. “Ibu Suwimon mengajar orang tua saya, dan sekarang dia mengajar saya. Saya merasa sangat nyaman dengannya, sebab dia sangat berdedikasi dan berkomitmen pada kami. Dia berkata akan bekerja di sekolah ini selama dia mampu, meneruskan pengetahuannya kepada para muridnya dan membantu kami menjadi orang-orang yang baik di masa depan, sampai dia tidak lagi mampu berbuat demikian,” kata Funha Sah-ah kepada wartawan Asia.
Sekolah Krong Pinang memiliki 33 orang guru dan staff untuk mengajar lebih dari 510 orang murid, yang hampir seluruhnya adalah kaum Muslim Melayu. Suwimon mengajar matematika di kelas empat dan bahasa Thailand di kelas dua. Setiap pagi ia bergabung dengan guru-guru lainnya, berkendara di belakang Songthew, sebuah truk terbuka yang dimodifikasi untuk mengangkut penumpang. Tempat penjemputan tidak jauh dari lokasi serangan bom mobil yang terjadi pada tanggal 31 Maret 2012.[2] Penyedia keamanan bagi para guru adalah para anggota Unit Operasi Khusus 13 dari Angkatan darat Kerajaan Thai yang berpusat di distrik Krong Pinang, sebagai salah satu distrik yang paling berbahaya di Propinsi Yala.
Seperti guru-guru yang lainnya, Suwimon pada awalnya memilih Sekolah Krong Pinang, untuk memulai profesinya sebagai guru. Namun, ia tidak seperti orang lain yang menggunakan kedudukan dan senioritas mereka untuk dipindahkan ke sekolah yang lebih dekat dengan rumah mereka, atau yang berada di luar kawasan Ujung Selatan.  Dia memutuskan untuk tetap tinggal. “Saya merasa ini rumah saya,” kata Suwimon.
“Pada tahun 2005, pemerintah menerapkan kebijakan yang memungkinkan para guru sekolah negeri di kawasan itu untuk pindah ke sekolah di provinsi asal mereka. Banyak teman saya yang pindah. Saya dulu juga berpikir untuk pindah. Keputusan itu berat! Tetapi setelah saya lama mengajar di sekolah ini, saya mengajar putra dan putri dari mantan murid-murid saya. Saya menganggap mereka semua keluarga. Mereka adalah putra, putri dan sepupu saya. Saya merasa berada di rumah sendiri,” kata Suwimon.
Tidak semua orang mempunyai keberanian dan komitmen untuk mengajar seperti Khru Suwimon Suwanat. Di tempatkan di sebuah kawasan yang rentan dengan aksi kekerasan dalam bentuk serangan bom, akan membuat orang takut untuk mengajar. Selain medan yang sulit dan berbahaya, juga sama sekali tidak ada jaminan akan keselamatan dalam mengajar. Apa yang membuat Khru Suwiman Suwanat berani mengambil resiko itu? Jawabannya adalah karena cinta kasih. Kalau seorang guru sudah memiliki cinta kasih sejati kepada murid-muridnya, ia akan menemukan tidak hanya model pembelajaran yang paling sesuai dengan kondisi murid-muridnya, tetapi juga daya dan kekuatan untuk menghalau ketakutan-ketakutan yang menghalanginya untuk mengajar.[3] Ah, kalau saja di tengah carut marutnya dunia pendidikan kita di Indonesia, kita memiliki guru-guru yang mempunyai keberanian dan komitmen seperti Khru Suwimon Suwanat, sehingga sebagai guru atau pendidik kita  “merasa berada di rumah sendiri,” berperilaku lebih santun dan mampu menghadirkan conroh konkret akan nilai-nilai keutamaan dalam hidup. Dengan cara seperti itu, pembelajaran menjadi suatu perziarahan guru dan murid-murid untuk mencari kebenaran dan mencintai apa yang baik. Khalil Gibran berkata, “Besarkan anakmu dengan cinta, maka dia akan belajar mencintai.”[4]
Sebagai guru dan atau pendidik, kita dapat belajar dari Yesus, Sang Guru Sejati. Memiliki kasih, yang memberikan diri kepada orang lain, sehingga semakin besar energy yang dihasilkan dalam menanggapi setiap kebutuhan cinta dari orang lain. Dalam Yohanes 14:21b, Yesus berkata, “… Barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku, dan Aku pun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya.” Menjadi guru – dengan segala inflasi makna – dalam berbagai jargon yang terkait dengan pahlawan tanpa tanda jasa, yang digugu lan ditiru, panutan, dan orang tua kedua, kita dipanggil untuk melakukan sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri, seperti yang diyakinkan oleh pendiri Apple dan Pixar, Steve Jobs pada saat acara wisuda di Stanford University 2005:
“Your work is going to fill a large part of your life, and the only way to be truly satisfied is to do what you believe is great work. And the only way to do great work is to love what you do. If you haven’t found it yet, keep looking. Don’t settle. As with all matters of the hearts, you’ll know when you find it. And, like any great relationship, it just gets better and better as the years roll on” (Steve Jobs, 1955-2011)
Semoga sukses!








[1] “The Courage to Teach” berasal dari kata “Parrhesiazomai,” yang menunjuk pada arti to use freedom in speaking, be free spoken, to speak freely; dan atau to grow confident, have boldness, show assurance, assume a bold bearing. Dalam terjemahan Bahasa Indonesia, “The Courage to Teach” dapat diartikan sebagai mengajar dengan berani, dengan keberanian mengajar, keberaniannya mengajar. Seorang guru yang baik, tidak ditentukan oleh seberapa pandai dan hebatnya dia mengajar di kelas. Pengajaran yang baik selalu datang dari kepribadian dan integritas guru yang baik.
[2] Serangan bom ini menewaskan 11 orang, dan menciderai lebih dari 100 orang
[3] A. Mintara Sufiyanta & Yulia Sri Prihartini, Sang Guru Sang Peziarah (Jakarta: Penerbit Obor, Cet-2, 2011), 142.
[4] Ibid., 152.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar