Halaman

Selasa, 02 Juni 2015

QUO VADIS SISTEM PENDIDIKAN DI INDONESIA


QUO VADIS SISTEM PENDIDIKAN DI INDONESIA
Oleh: Maryam Kurniawati D.Min

Sistem pendidikan di Finlandia merupakan salah satu sistem pendidikan yang terbaik di dunia.[1] Hal ini terbukti dengan nilai yang baik yang selalu dicetak peserta didik Finlandia dalam Program Penilaian Peserta didik International untuk mata pelajaran membaca, matematika dan ilmu pengetahuan alam. Jutaan orang tua di seluruh dunia mencoba untuk mencari tahu sistem pendidikan yang lebih baik untuk anak-anak mereka. Menurut Pasi Schelberg, akademisi Finlandia dan dosen tamu di Universitas Harvard, ada tiga hal yang membedakan sistem pendidikan di Finlandia dengan Amerika Serikat mau pun negara lain (termasuk Indonesia).[2]

Pertama, Finlandia telah membangun sistem sekolah yang mendukung pemerataan pendidikan bagi semua anak. "Pendidikan anak usia dini bagi semua anak, difokuskan agar sesuai dengan anak-anak berkebutuhan khusus, serta kurikulum mereka lebih mengutamakan kemampuan seluruh anak dibandingkan hanya menitikberatkan prestasi," kata Schelberg.

Kedua, penguatan kerja sama antar guru. "Rata-rata beban mengajar guru SMP di Finlandia setengah kali lebih sedikit dibandingkan beban mengajar guru di Amerika Serikat, sehingga guru-guru punya waktu untuk berdiskusi dan berbagi ide untuk meningkatkan kualitas mengajar," ujar Schelberg. Tidak heran bila sistem pendidikan di Finlandia adalah sistem pendidikan yang diimpikan banyak guru. Di Finlandia, profesi sebagai guru adalah profesi yang paling bergengsi serta dipercaya oleh pihak berwenang.

Ketiga, sistem belajar sambil bermain yang tepat guna terbukti ampuh untuk meningkatkan kemampuan para peserta didik di Finlandia. Ambil saja contohnya, semua sekolah di Finlandia menerapkan waktu istirahat selama 15 menit setiap kali mata pelajaran berganti. Waktu belajar di sekolah Finlandia juga lebih pendek dibandingkan dengan waktu sekolah di Amerika Serikat. Selain itu, semua sekolah dasar di negara itu memberikan beban pekerjaan rumah seminim mungkin agar peserta didik memiliki waktu untuk mengembangkan hobi dan bermain dengan teman-teman mereka ketika jam sekolah usai. Berbeda halnya dengan sekolah dasar di Amerika Serikat (dan juga Indonesia), yang memberikan banyak pekerjaan rumah agar peserta didik belajar di rumah. "Edukasi di negara lain hanya mementingkan ujian dan nilai. Sekolah swasta juga dianggap lebih baik dari pada sekolah negeri. Ini tidak terjadi di Finlandia," kata Schelberg. Hasil Program Penilaian Peserta didik International tahun 2012 menunjukkan Finlandia menduduki peringkat ketiga setelah Korea dan Jepang untuk mata pelajaran membaca, matematika dan sains.[3]

Bagaimana dengan sistem pendidikan di Indonesia? Indonesia adalah sebuah negara kepulauan terbesar di dunia, yang terbentang dari Sabang hingga Merauke, dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia. Di Indonesia, Sumber daya Manusia (SDM) merupakan salah satu faktor kunci dalam pembangunan negara dan bangsa. Harus diakui sistem pendidikan Indonesia selama ini belum didukung oleh SDM yang berkualitas. Rendahnya kualitas SDM Indonesia terkait dengan faktor pendidikan yang belum sepenuhnya mendukung pembentukan kepribadian peserta didik sebagaimana tujuan Pendidikan Nasional "membentuk manusia yang beriman daan berwatak mulia kepada Tuhan Yang Maha Esa" (UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas, pasal 4 ayat 1).

Ketidakmampuan sistem pendidikan di Indonesia untuk menciptakan SDM yang berkualitas disebabkan karena sistem pendidikan kita yang masih berorientasi pada pengetahuan (aspek kognitif), bukan berdasarkan aspek afektif dan motoris (penghayatan dan pengalaman) nilai-nilai yang luhur dan mulia. Oleh karena itu menurut saya, untuk mengingkatkan kualitas SDM, langkah pertama yang harus dilakukan, adalah mengubah sistem sistem pendidikan di Indonesia dari "model menabung" (banking concept of education) menjadi "model hadap masalah" (problem posing method).[4]

Dalam "model menabung," proses belajar di dalam kelas berlangsung satu arah, yaitu mengajar dan menasehati. Guru diyakini memiliki banyak sekali pengetahuan, yang kemudian dibagikan kepada peserta didik. Metode manabung ini membuat peserta didik bersikap pasif, dan tidak mampu berefleksi kritis terhadap dunia yang tidak adil dan berusaha mengubahnya. Sedangkan dengan "model hadap masalah," peserta didik menjadi peserta aktif dan kritis terhadap realitas kehidupan yang mereka hadapi. Guru menjadi "rekan," "mitra yang sejajar"  yang menyampaikan materi kepada peserta didik untuk dipertimbangkan, sehingga peserta didik dan guru saling belajar satu sama lain melalui dialog dan diskusi, sehingga "pengetahuan" tidak menjadi monopoli guru. Melalui "model hadap masalah," peserta didik belajar untuk bertanya secara kritis tentang kenyataan hidup yang mereka hadapi dan mencari cara alternatif untuk mengubahnya.[5]

Hingga saat ini, Kurikulum di Indonesia telah mengalami pergantian beberapa kali hingga pada saat ini kurikulum yang bertahan adalah Kurkulum Tingkat Satuan Pendidikan. Kurikulum ini disinyalir sebagai kurikulum yang paling baku diterapkan di Indonesia. Ketika Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) digulirkan, banyak pihak yang merasa senang bahwa sekolah mendapatkan kesempatan untuk menentukan sendiri arah atau model pendidikan disekolahnya. Namun, kemudian harapan itu sirna kembali ketika ternyata masih ada ujian nasional atau UAN yang membuat model pendidikan yang diberikan sekolah harus kembali lagi seragam. Tak terbayangkan memang ketika KTSP ini harus dilakukan disekolah-sekolah swasta dan sekolah-sekolah negeri yang satu kelas muridnya bisa sampai 40-50 orang, sementara gurunya hanya satu orang. Sungguh bagai punguk merindukan bulan!

Selain di Finlandia, Indonesia juga bisa belajar dari negara-negara lain yang memiliki sistem pendidikan yang sangat bagus. Menurut saya, kita harus bertindak dari sekarang, kita bisa belajar dari sistem yang diterapkan di Finlandia. Selain itu, dalam hal proses pembelajaran peserta didik tidak boleh dipaksa untuk mempelajari pelajaran yang tidak mereka sukai, setiap peserta didik memiliki kelebihan tersendiri di bidang tertentu. Kita tidak bisa memaksakan semua peserta didik harus suka belajar matematika, karena ada peserta didik yang tidak memiliki keahlian sama sekali di bidang matematika, akan tetapi orang tersebut memiliki keahlian di bidang seni misalnya. Oleh karena itu, sistem pendidikan yang selama ini hanya melakukan pembagian jurusan ketika SMA, mungkin mulai sekarang, sistem pembagian jurusan itu sudah dilakukan di bangku SMP (Sekolah Menengah Pertama). Di sini, peserta didik bebas menentukan kelas jurusan apa yang ingin mereka masuki sesuai dengan minat dan bakatnya. Dengan begitu, saya sangat yakin bahwa peserta didik akan belajar dengan santai serta peserta didik tidak akan mengalami yang namanya stres Karena bidang yang mereka pilih adalah bidang yang mereka memang sukai, mereka pilih tanpa ada paksaan dari siapapun.


Pendidikan di Indonesia seharusnya memang seperti itu, kita mengarahkan setiap peserta didik untuk focus ke bidangnya masing-masing, sehingga dengan begitu, nantinya kita akan lahirkan para pelajar yang ahli di bidangnya masing-masing. Untuk apa kita memaksa seseorang untuk belajar sesuatu yang tidak dia inginkan, hal tersebut sama saja kita membunuh kreativitas peserta didik tersebut, serta secara perlahan kita akan membuatnya menjadi gila. Selain itu, untuk apa kita mempelajari banyak hal kalau ternyata ilmu yang kita dapatkan mengenai pelajaran tersebut hanya kulitnya saja, tanpa kita mempelajari secara mendalam ilmu yang kita pilih. Akan tetapi, ketika kita sudah bagi dari awal, maka kita akan focus ke bidang kita masing-masing untuk bukan hanya sekedar mempelajari kulitnya, akan tetapi kita akan bisa memahami sampai isi terdalamnya. Sistem seperti inilah yang banyak diterapkan di negara-negara maju seperti Amerika dan China. Mereka memang mempersiapkan masyarakatnya untuk dididik di satu bidang, yang nantinya diharapkan orang tersebut akan menjadi orang yang ahli di bidangnya yang dapat memberikan kontribusi untuk bangsa dan negaranya. Tidak ada kemustahilan di dunia ini, dalam hal ini, saya secara pribadi sangat mengharapkan Indonesia dapat belajar dari pengalaman Finlandia tersebut serta negara-negara maju lainnya khususnya dalam bidang pendidikan.




                [1] Armanda Puspita Sari, "Mengapa Sekolah Finlandia Terbaik di Dunia?" (http://www.cnnindonesia.com/internasional/20141120051207-134-12638/mengapa-sekolah-finlandia-terbaik-di-dunia/ diunduh pada tanggal 28 Mei 2015)
                [2] Ibid.
[3] Ibid
[4] Paulo Freire, Pedagogy of the Oppressed  (New York: A Continum Book The Seabury Press, 1970),   57-58.
[5] Ada 3 tahapan kesadaran sosial manusia, yaitu magis, naïf dan kritis. Pada tahap kesadaran magis, seseorang tidak mampu menemukan kaitan antara ketidakadilan sosial, penindasan dan kemiskinan dengan struktur sosial, ekonomi dan budaya yang mengkondisikannya. Kemiskinan diterima sebagai kodrat yang tidak bisa diubah. Kesadaran naïf menyalahkan manusia sebagai sumber kemiskinan, keterbelakangan, dan ketidakberdayaan. Tahap kesadaran kritis melihat struktur politik, sosial, ekonomi dan budaya sebagai akar penindasan, kemiskinan dan keterbelakangan. Pendidikan untuk Pembebasan memfasilitasi pesertadidik untuk bergerak dari tahap kesadaran magis dan naïf menuju kesadaran kritis agar bisa “membaca,” memahami dan memetakan situasi struktur sosial, politik, ekonomi dan budaya yang manipulatif dan menawarkan candu. Ibid, 128-129.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar