Laman

Minggu, 30 Oktober 2011

KERJASAMA ANTAR UMAT BERAGAMA, SEPERTI APA?


Bacaan: Daniel 6:1-12, Yohanes 3:16-17


Tema kita kali ini adalah Kerjasama antar umat beragama, seperti apa ... ?!  Tema ini  kerapkali muncul dalam percakapan-percakapan dan agenda rapat-rapat kita, tetapi perhatian kita tidak tertuju ke sana karena kita punya cukup banyak alasan untuk tidak menempatkan realitas kemiskinan serta kemajemukan budaya dan agama, sebagai prioritas kita. Kalau pun ada kepedulian kita, kerjasama antar umat beragama masih kita pahami sebagai bantuan karitatif yang dilakukan oleh gereja dalam bentuk mengunjungi orang dalam penjara dengan membawa makanan dan memimpin renungan, menyediakan beras untuk membantu keluarga miskin, serta mendirikan poliklinik gratis atau murah untuk orang miskin. Pertanyaannya, adalah apakah tidak ada cara-cara bergereja lainnya, yang dapat kita lakukan dengan misi yang membangun kesejahteraan bersama untuk orang-orang yang berbeda agama, gereja dan aliran?

Melihat potret gereja kita saat ini, rasanya tidak berlebihan bila dikatakan bahwa hampir semua cara bergereja yang kita lakukan mengikuti model dari Eropa dan Amerika, dan pemahaman teologi gereja kita masih berakar pada teologi altar yang kita terima dari Barat. Kebaktian-kebaktian kita, pola-pola pembinaan kita masih mengikuti model Barat. Nah, seperti apakah wajah teologi gereja kita saat ini?  Wajah teologi kita saat ini memiliki beberapa ciri : Pertama, teologi kita sangat menekankan keselamatan pribadi dan hal-hal yang bersifat rohani. Akibatnya Pola PI (Pekabaran Injil) kita, tidak dilihat sebagai Kabar Baik untuk orang miskin, tetapi sebagai panggilan untuk dibaptis dalam gereja dan mendapatkan keselamatan sesudah mati. 


Kedua, teologi kita saat ini lebih menekankan pernyataan (theology of statement) daripada tindakan (theology in action). Oleh karena itu gereja tampak lebih sibuk merumuskan dogma, atau melakukan kebaktian dan sakramen, daripada melakukan advokasi (atau memberdayakan atau memulihkan) martabat orang yang telah diperlakukan secara tidak adil. Ketiga, isi teologi kita  tenggelam dalam dogma yang bersifat rutin dan konvensional, sehingga dogma dan ajaran gereja tidak pernah dikritisi tapi juga tidak pernah menjadi bagian yang menyatu dengan diri kita. Keempat, perspektif teologi kita lebih memihak kepada golongan penguasa (agama, sosial, ekonomi dan politik) daripada golongan akar rumput (kaum tertindas, wong cilik). Kelima, iman dan kepercayaan bersifat universal untuk segala tempat dan waktu. Akibatnya sangat sulit bagi kita untuk menerima dan menghargai orang-orang yang diluar komunitas/berbeda dengan kita. Teologi seharusnya memperhatikan kinteks, tempat dan waktu.  Dibutuhkan kepercayaan dan iman yang bersifat kontekstual.


Indonesia, adalah sebuah negara di Asia dengan jumlah penduduk yang sangat padat (Menurut data statistik, pada tahun 2005 jumlah penduduk Indonesia adalah 218.868.791 juta, dan terdiri dari lebih 520 suku bangsa) dengan beraneka budaya, bahasa, suku bangsa dan beranekaragam agama-agama karena Indonesia mempunyai populasi jumlah orang-orang Muslim terbesar di antara semua negara-negara di dunia, dan orang-orang Kristen menjadi kelompok minoritas.
Kemajemukan budaya-budaya, bahasa-bahasa, suku-suku bangsa dan agama-agama tersebut, kadangkala terlihat sebagai sumber-sumber yang sangat kaya dan membanggakan. Namun kenyataan ini juga mengundang pecahnya konflik antar etnis dan agama-agama, karena terbentuknya ”prasangka” (prejudice) etnis dan ”superioritas” dalam agama-agama dan ras-ras tertentu. Kasus Ambon, Poso,  Tuban, dan Makassar misalnya, memperlihatkan kepada kita, betapa mudahnya orang ”memanipulasi dan menyalahgunakan sentimen agama” demi tercapainya tujuan dan kepentingan-kepentingan tertentu. Apalagi kalau pemerintah pusat lepas tangan dan cuci tangan.
Semua ini mengingatkan kepada kita, segala bentuk kesalahpahaman dan ketidakmampuan kita (baik umat Kristen maupun umat Islam) untuk menghadapi perbedaan, dan kecenderungan untuk ”mengontrol” merupakan stereotype dan prasangka yang tak dapat disangkal. Sebab itu dialog antar umat beragama menjadi sebuah keharusan, bila ke depan, kita ingin membangun masa depan yang lebik baik bagi anak-anak dan cucu-cucu kita.

Kerjasama dan dialog antar umat beragama sangat kita butuhkan untuk menjernihkan dan menipiskan kecurigaan-kecurigaan dan stereotipe-stereotipe tertentu yang menghasilkan trauma dan sikap eksklusif kita. Menurut David Tracy, percakapan sejati dapat terjadi di antara berbagai perspektif keagamaan yang berbeda-beda, bahkan yang bertentangan sekalipun. Oleh karena itu, melalui dialog, kita belajar untuk menghargai dan menerima orang lain yang berbeda suku, ras dan agama sebagai keutuhan ciptaan Tuhan.
Melalui dialog, kita diingatkan, bahwa siapa pun kita (apakah itu Islam, Hindu, Budha, Kristen maupun yang lainnya) “hadir ke dunia” justru untuk mengatasi dan memerangi musuh-musuh bersama, yaitu : kemiskinan, pelanggaran Hak-hak Azasi Manusia, persoalan sosial-politik, ekologi dan bukan mencari musuh di antara pemeluk agama lain. Dengan demikian, dialog adalah usaha membuat orang-orang merasa nyaman berada di rumah “kemajemukan.” Bukankah Allah menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar?[1] Bukankah Petrus berkata, “Sesungguhnya aku telah mengerti bahwa Allah tidak membedakan orang. Setiap orang dari bangsa manapun yang takut akan Dia dan yang mengamalkan kebenaran berkenan kepada-Nya.

Di dalam Alkitab tidak banyak diperlihatkan pedoman yang spesifik, yang diberikan oleh Yesus kepada kita untuk mencoba berelasi dengan orang-orang yang berasal dari komitmen iman dan tradisi-tradisi agama lain. Namun Alkitab memberikan sebuah contoh yang indah melalui kehidupan Daniel. Berada di pembuangan, sebagai tawanan tentu bukanlah sebuah pengalaman hidup yang menyenangkan. Seandainya Daniel bisa memilih, tentu saja dia tidak ingin berada di dalam situasi dan kondisi yang terus menerus mengancam hidupnya. Menghadapi segala bentuk konspirasi yang dilakukan oleh para pejabat istana Nebukadnezar, yang berupaya untuk mencelakakannya. Namun toh semuanya itu tidak membuat Daniel menutup diri, dan membangun tembok yang tebal demi untuk menyelamatkan dirinya. Dengan kebesaran hatinya, ia tetap berpegang teguh dengan identitas dan integritasnya.
Suatu pedoman yang diberikan adalah cara Yesus untuk membangun relasi dengan yang lainnya, yaitu dengan kasih-Nya dan kesediaan-Nya untuk berbela rasa. Yesus menerima orang-orang lainnya sebagaimana mereka adanya. Contohnya, adalah perjumpaan Yesus dengan perempuan Samaria dan perempuan Siro Fenisia, dan Perumpamaan Orang Samaria yang baik hati, yang merefleksikan dengan jelas penghargaan Allah terhadap keberagaman dan perbedaan, agar setiap kita dapat saling mengenal dan memahami, dikasihi dan mengasihi. Bahkan menjadi orang-orang Samaria yang baik hati di jaman modern sekarang ini.
Di dalam Yohanes 3:16-17 dikatakan, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya Yang Tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia, bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia.”  Dengan demikian misi Allah yang dijalankan oleh Yesus adalah mengasihi dan menyelamatkan dunia. Mengikuti Yesus berarti harus mengenal dan menghayati visi Yesus, dan visi Yesus adalah mewujudkan kedatangan Kerajaan Allah di bumi. Oleh karena itu visi pelayanan gereja, bukanlah sekedar dibangunnya gedung gereja, bertambahnya orang yang dibaptis, dan makin besarnya pengaruh kekuasaan atau politik orang Kristen, namun tugas panggilan untuk menjalankan misi Allah untuk membebaskan dan mendamaikan dunia dari ketidakadilan dan dosa sosial. Akhirnya dari Yesus, kita belajar untuk hidup berdampingan dengan orang-orang yang berbeda agama, karena tidak ada satu orangpun yang dapat melakukan semuanya sendiri. Oleh karena itu marilah kita bangun persahabatan dan dialog kehidupan, serta  belajar hidup dalam kemajemukan.





[1] Matius 5:45.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar