Laman

Senin, 31 Oktober 2011

MEREKONSTRUKSI PERAN ISTERI DI DALAM MASYARAKAT DAN BUDAYA PATRIARKHI



Merekonstruksi Peran Istri Di Dalam Masyarakat & Budaya Patriarkhi[1]



Pendahuluan
Saat ini peran istri di dalam hidup perkawinan, tampaknya menjadi semakin sulit. Selama tahun pertama dan tahun kedua perkawinan pasangan suami istri biasanya harus melakukan penyesuaian utama satu sama lain, terhadap anggota keluarga masing-masing dan teman-temannya. Sementara mereka sedang melakukan penyesuaian, sering timbul ketegangan emosional karena baik suami mau pun istri mempunyai konsep yang tidak realistis tentang makna perkawinan berkenaan dengan pekerjaan, deprivasi, pembelanjaan uang, atau perubahan dalam pola hidup. Seorang suami yang dibesarkan dalam keluarga yang menempatkan laki-laki sebagai “tuan” atau “majikan” misalnya, akan mengalami kesulitan ketika keluarga, teman dan rekannya memperlakukannya sebagai “suami Jane.” Demikian pula seorang perempuan karier yang berhasil, ia bisa saja kehilangan identitas dirinya sebagai individu yang sangat dijunjung dan dinilai tinggi sebelum perkawinan, ketika keluarga, teman dan rekannya menganggap dirinya hanya sebagai “ibu rumah tangga.” Kecenderungan terhadap perubahan peran dalam perkawinan bagi laki-laki dan perempuan, dan konsep yang berbeda tentang peran ini yang dianut kelas sosial dan kelompok religius yang berbeda, membuat penyesuaian dalam perkawinan semakin sulit sekarang daripada di masa lalu ketika peran masih begitu ketat diatur oleh adat istiadat dan budaya[2]. Oleh karena itu konsep perkawinan yang tidak realistik, khususnya yang berkenaan dengan masalah keuangan keluarga, dapat menimbulkan hambatan dan rintangan dalam proses penyesuaian perkawinan.  


Pandangan Alkitab tentang Kesetaraan Harkat Perempuan dan Laki-laki
Alkitab memberikan gambaran kepada kita, bahwa perempuan diciptakan dari rusuk laki-laki. Hal ini mau memperlihatkan, bahwa keduanya mempunyai sumber yang sama, dan mereka adalah suatu kesatuan dan keutuhan, sebagaimana yang diikrarkan sendiri oleh Adam, “Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku” (Kej. 2:23). Keyakinan yang paling fundamental yang terungkap di sini ialah bahwa perempuan adalah manusia sepenuhnya dan harus diperlakukan demikian.[3]  Hal ini menunjukkan kepada kita, bahwa laki-laki dan perempuan, keduanya diciptakan Allah sebagai manusia yang setara dan sederajat (equality) dalam kesamaan dan perbedaan mereka, dan mereka akan menghayati kemanusiaannya dalam hubungan timbal balik (mutuality).[4] Rosemary Radford Ruether, dalam bukunya yang berjudul Perempuan dan Tafsir Kitab Suci  (1998) menyatakan, bahwa “apa pun yang mengurangi kemanusiaan penuh kaum perempuan harus dianggap bukan merefleksikan yang ilahi atau relasi yang otentik dengan yang ilahi” dan prinsip kemanusiaan yang penuh didasarkan pada konsep “imago Dei,” bahwa perempuan secara setara dibebaskan oleh Kristus, dan secara setara dikuduskan oleh Roh Kudus.  Eksistensi manusia yang terdalam, bahwa manusia adalah ciptaan Allah dan manusia ciptaan Allah itu adalah laki-laki dan perempuan terungkap di dalam Kejadian 1:27. Kredo ini menggaris bawahi kesamaan harkat dan martabat laki-laki dan perempuan di hadapan Allah. Sebab itu tidak ada yang lebih tinggi atau yang lebih rendah terhadap yang lain, keduanya diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (Kejadian 1:26).


Merekonstruksi Peran Istri Di Dalam Masyarakat & Budaya Patriarkhi
Saat ini peran dan fungsi seorang isteri, tidak lagi ditentukan oleh adat. Setiap pasangan hendaknya mempunyai konsep yang pasti mengenai bagaimana seharusnya peranan seorang suami dan istri, atau setiap orang mengharapkan pasangannya memainkan perannya. Penyesuaian terhadap pasangannya, berarti mengorganisasikan pola kehidupan, merubah persahabatan dan kegiatan-kegiatan sosial, serta merubah persyaratan pekerjaan, terutama bagi seorang istri. Penyesuaian-penyesuaian ini mungkin akan diikuti oleh konflik emosional. Akan tetapi dengan latar belakang pendidikan yang baik, konflik dan penyesuaian yang buruk akan teratasi. 


Di dalam masyarakat modern, suami dan isteri dapat bekerja sama secara seimbang demi kepentingan bersama. Dominasi pada satu pihak dan kepasrahan di pihak yang lain dapat dinilai sebagai kegagalan dalam usaha mempertahankan hubungan timbal balik antara suami dan isteri sebagai dua subyek yang sejajar. Iman Kristen menemukan kembali keyakinan bahwa baik laki-laki mau pun perempuan diciptakan sebagai gambar Allah (imago Dei) setingkat dalam perbedaan mereka dan sama-sama dipanggil untuk mengasihi dan berkarya menurut kemampuan masing-masing. Kesadaran ini mengubah pengertian tentang hubungan pernikahan. Hal ini diperkuat oleh kenyataan bahwa Yesus tidak membenarkan keluarga patriarkhal. Itu sebabnya makin banyak orang Kristen yang mencita-citakan model pernikahan yang di dalamnya suami dan isteri dapat mengikat hubungan timbal balik sebagai dua subyek yang saling menghormati dan menerima dengan kekuatan dan kelemahan masing-masing. Mereka harus saling mencintai dan mengasihi, serta bersama-sama mengatur rumah tangga mereka.[5]  Pembagian tugas akan berubah, sesuai dengan situasi dan umur, keberadaan anak kecil atau yang sudah besar, adanya dan perlunya pekerjaan di luar rumah untuk salah satu atau keduanya, adanya tugas lain dalam keluarga, masyarakat dan gereja. Usaha ini tidak dapat dinilai tinggi atau rendahnya, atau apakah harus dilakukan laki-laki atau perempuan, sebab semuanya penting untuk kehidupan bersama dan itulah yang menentukan nilainya. ***

DAFTAR RUJUKAN

Christina S. Handayani – Ardhian Novianto. Kuasa Wanita Jawa. Yogyakarta : LkiS Pelangi Askara, Cet-2, 2008.
Elizabeth B. Hurlock. Psikologi Perkembangan : Suatu pendekatan Sepanjang rentang Kehidupan. Jakarta : Penerbit Erlangga, Edisi Kelima, 1980.
Rosemary Radford Ruether, Perempuan dan Tafsir Kitab Suci. Kanisius dan BPK Gunung Mulia, 1998.

Tissa Balasuriya, Teologi Siarah. Jakarta : BPK Gunung Mulia, Cet-3, 2004.

****
           





[1] Dalam tulisan ini, kata “masyarakat patriarkhi” menunjuk pada arti “pola atau tatanan yang ditentukan oleh kaum laki-laki.” Dalam masyarakat patriarkhal, kaum laki-laki menentukan pola masyarakat dan kaum perempuan dinomorduakan. Dominasi kaum laki-laki atas kaum perempuan pada umumnya dibenarkan oleh paham kodrat. Menurut paham ini, kodrat laki-laki adalah kuat, pemberani, rasional, produktif, menciptakan kebudayaan, dan sanggup membuat perencanaan. Sedangkan kodrat perempuan adalah lemah lembut, penakut, perasa, reproduktif, memelihara dan merawat kehidupan, biasa melayani dan suka dipimpin. Dengan pandangan seperti ini, tempat kaum laki-laki adalah di ruang publik, dalam masyarakat luas sementara kaum perempuan di ruang domestik atau privat (di rumah dan sekitarnya). Masalah-masalah ”besar” seperti membeli rumah atau tanah, pengelolaan saham atau keuangan keluarga, adalah masalah yang menyangkut laki-laki. Masalah-masalah perempuan, seperti pemeliharaan anak, masak, pendidikan anak dan urusan rumah tangga yang lainnya jarang disinggung, dan sering ”disembunyikan.” Menurut Tissa Balasuriya, diskriminasi terhadap perempuan terdapat dalam banyak masyarakat Asia (termasuk di Indonesia). Mereka sering berlaku tidak adil terhadap perempuan, sekalipun ada sikap hormat terhadap perempuan dan kaum ibu. Sejak lahir, anak perempuan kurang diharapkan, dan kurang diasuh. Anak laki-laki disambut dengan gembira. Sepanjang hidupnya kaum perempuan diatur agar cocok dengan peran rumah tangga yang disediakan bagi mereka. Mereka tidak diizinkan untuk mengatur langkahnya sendiri. Perasaan takut senantiasa ditanamkan. Secara piskologis dan fisik mereka menjadi sangat bergantung pada kaum laki-laki. Menjelang akil-balik, para gadis didesak agar segara menikah dan ”berumah-tangga.” Dengan demikian para orangtua terbebas dari tanggung jawab untuk mengasih anak gadisnya. Dalam bidang pekerjaan, perempuan tidak dianjurkan atau diharapkan mendapat pekerjaan tetap diluar rumah. Kalau mereka diperkerjakan, mereka sering mendapat upah yang lebih sedikit, atau bahkan tidak mendapatkan bayaran yang sepantasnya, ketimbang kaum laki-laki untuk jenis pekerjaan yang sama. Kaum perempuan sering dipekerjakan sebagai tenaga yang kurang trampil; pada umumnya menangani urusan administrasi atau pengawasan yang dianggap sepele oleh kaum laki-laki. Kaum perempuan juga dieksploitasi dalam zona-zona perdagangan bebas di hotel-hotel, restoran-restoran, dan pusat-pusat pariwisata, kadang-kadang sebagai pelacur (atau PSK), terutama kalau mereka tidak punya pekerjaan dan keluarganya sangat kekurangan. Kadang-kadang kaum perempuan memilih peran ”bergantung sepenuhnya” kepada laki-laki, di mana mereka merasa dipelihara, dan berperan sebagai ibu dan pengasuh, di mana mereka dapat menyatakan perasaan keibuannya, kesabaran, kelemah-lembutan, dan sambutan hangat. Media massa, dengan orientasi para pembelinya, menekankan citra seks dari kaum perempuan, dan sejumlah perempuan bertanggung-jawab sama seperti laki-laki atas perendahan harkat perempuan lainnya. Tissa Balasuriya, Teologi Siarah. (Jakarta : BPK Gunung Mulia, Cet-3, 2004), 79-80. Lihat Marie Claire Barth Frommel, Hati Allah Bagaikan Hati Seorang Ibu. (Jakarta : BPK Gunung Mulia, Cet-2, 2006), 3-4.
[2] Di banyak daerah Indonesia, banyak perempuan tinggal sendiri mengurus anak dan keluarganya, sedangkan laki-laki pergi bekerja di pertambangan dan industri. Kadang-kadang mereka pulang sekali setahun sebagai suami dan ayah yang semakin terasing. Mereka sering mengalami kekecewaan di tempat kerja atau menganggur, mencari hiburan, dan malu pulang. Perempuan sendirilah yang harus memikul beban. Jika anak-anak yang tidak pernah dibina ayahnya menjadi nakal, maka si ibu dipersalahkan. Penderitaan perempuan seperti itu disebabkan karena mereka tidak berkuasa dan dianggap wajib memikul beban seluruh keluarga dalam situasi yang buruk sekalipun. Dari fenomena tersebut, kita dapat menarik kesimpulan, bahwa dalam masyarakat patriarkhal (yang menempatkan laki-laki sebagai tuan, majikan dan penguasa),  perempuan bukan hanya menjadi korban kesalahan, melainkan mereka juga bertanggung jwab dengan caranya yang khas di tempat mereka hidup dalam masyarakat, dari tengah tatanan budaya dan lingkungan tertentu. Tempat utama perempuan melakukan kesalahan adalah di rumah tangga. dari situ muncul niat untuk terlibat dalam kekejaman, pengkhianatan, dusta dan bentuk-bentuk kekerasan lainnya yang melahirkan kekerasan yang baru. Khususnya dalam pendidikan anak, banyak ibu bertindak sedemikian rupa, untuk melampiaskan kekecewaan, kemarahan dan rasa sakit hati mereka, dengan mengorban diri mereka demi anak-anaknya dan menanggap anak-anaknyalah yang harus bertanggung jawab atas kesusahannya.  Di sini ibu dapat menekan, bahkan mengajar keras anak-anaknya dan memaksakan cara hidupnya kepada anak dan menantunya. Dengan demikian mereka dapat menghalang-halangi anak-anaknya yang beranjak dewasa untuk berdiri sendiri dan menciptakan suasana kehidupan yang lebih baik. Pengaruh kuat budaya patriarkhal yang telah merasuk dan berakar kuat dalam pemikiran kita, mempengaruhi sistem nilai yang kita anut dan tercermin secara jelas dalam pola relasi yang kita kembangkan baik terhadap laki-laki maupun perempuan, termasuk dalam membesarkan dan mendidik anak-anak kita.
[3] Rosemary Radford Ruether, Perempuan dan Tafsir Kitab Suci. Kanisius dan BPK Gunung Mulia, 1998, 119.
[4] Ibid., 39.
[5] Dalam perundang-undangan kebanyakan Negara di Eropa tidak ada lagi “suami sebagai kepala keluarga” dan isteri “sebagai pengatur rumah tangga.” Perkawinan adalah persekutuan  suami isteri demi kepentingan bersama. Mereka bebas mengaturnya sesuai dengan keinginan mereka. Dalam masyarakat patriarkhal, suami menjadi kepala rumah tangga dan berwibawa di hadapan isteri dan anak-anaknya yang harus tunduk padanya. Teologi Feminis, yang tidak lagi rela memahami perempuan sebagai obyek (yang ditentukan oleh masyarakat), melainkan sebagai subyek yang sedang mencari sejarah serta jati dirinya sendiri dan tidak bersedia menyamakan dirinya dengan laki-laki saja. Perempuan membebaskan diri dari pola dan tatanan yang ditentukan oleh kaum laki-laki atau paling sedikit, sedang berusaha membebaskan dirinya. Anna Nasimiyu-Wasika, seorang biarawati dari Kenya dalam Feminism and African Tehology membuat definisi sebagai berikut : “Femenisme menuju suatu masyarakat yang di dalamnya semua orang mampu mewujudkan keutuhan hidupnya. Semua orang berperan menghayati bakat dan kesempatannya sejauh mungkin dan dengan itu menunjang pembangunan kemanusiaan secara utuh. Karena feminisme menunjang hidup ... ia menentang dengan tegas segala lembaga yang mengeksploitasi perempuan, membatasi mereka pada peran tertentu, menyangkal kesempatan bahwa mereka dapat mewujudnyatakan bakat dan kemungkinannya sambil menempatkan mereka pada kedudukan yang rendah.”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar